Rabu, September 17, 2008

MAKANAN DAN MINUMAN PENGHUNI NERAKA

Harun Yahya mengartikan neraka sebagai tempat orang-orang yang tidak beriman tinggal selamanya dan diciptakan khusus untuk memberikan siksaan bagi jasad dan jiwa manusia. Hal ini semata karena orang-orang yang tidak beriman bersalah atas dosa besar dan keadilan Allah menuntut hukuman atas mereka.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa neraka merupakan tempat terjelek yang dapat dibayangkan dan sumber dari siksaan yang total. Siksaan dan kesakitan ini tidak sama dengan rasa sakit apa pun di dunia ini. Ia jauh lebih kuat daripada rasa sakit ataupun kesengsaraan yang dapat dihadapi seseorang di dunia ini. Ini sudah tentu pekerjaan Allah, Yang Maha Mulia dalam kebijaksanaan.

Menurut deskripsi al-Quran, neraka adalah tempat di mana rasa sakit luar biasa dialami. Baunya menjijikkan, sempit, ribut, penuh asap, dan muram serta menyuntikkan rasa tidak aman ke dalam jiwa manusia. Apinya membakar hingga ke dalam jantung, makanan dan minumannya menjijikkan serta pakaiannya dari api dan aspal cair.

Dengan kulit koyak-moyak, daging terbakar, dan darah bepercikan di mana-mana, mereka dirantai dan dicambuk. Dengan tangan terikat ke leher, mereka dilemparkan ke pusat neraka. Sementara itu malaikat azab menempatkan mereka yang bersalah di ranjang api, selimutnya pun dari api. Peti mati tempat mereka ditempatkan tertutup api. Pokoknya, mereka sibuk dengan segala siksaan Allah. Pertanyaannya, jika mereka sibuk dengan siksaan-siksaan itu, apakah mereka punya kesempatan untuk makan dan minum? Kalau ya, apa bentuk makanan dan minumannya?

Meski mereka sibuk dengan siksaan yang didatangkan Allah, para penghuni neraka tetap punya kesempatan untuk makan dan minum. Hanya saja, makanan dan minuman mereka tentu sangat berbeda dengan makanan dan minuman penghuni surga. Dalam al-Qur’an Surat Ash-Shaaffaat (37) ayat 62-65 disebutkan, “(Makanan surga) Apakah itu hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum? Sesungguhnya Kami menjadikannya fitnah bagi orang-orang zalim.
Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang ke luar di dasar neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala-kepala setan.”

Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, setelah ayat-ayat sebelumnya mengurai masalah penghuni surga, ayat di atas menekankan betapa jauh perbedaan antara perolehan penghuni surga dengan perolehan penghuni neraka. Itu dipaparkan untuk menggugah hati setiap orang agar berusaha memperoleh kenikmatan serupa dan menghindar dari segala bentuk rasa.

Menurutnya, kata nuzul (an) pada ayat di atas pada awalnya diartikan “sesuatu yang dihidangkan kepada seorang yang baru datang.” Makna ini lalu berkembang sehingga mencakup segala sesuatu yang dihidangkan baik untuk tamu baru atau bukan.

Al-Biqai memahaminya sebagai “Hidangan Selamat Datang”. Artinya, kalau ini baru hidangan awal, maka bagaimana sesudahnya? Tentu lebih hebat dan nikmat lagi sebagaimana diisyaratkan oleh hadits qudsy bahwa telah disiapkan buat mereka juga yang tidak terlintas dalam benak.

Menurut ayat di atas, makanan penghuni neraka adalah buah yang berasal dari pohon zaqqum. Ada yang berpendapat ia berasal dari kata az-zuqmah yang berarti penyakit lepra atau at-tazaqqum yakni upaya menelan sesuatu yang sangat tidak disukai. Sebagian ulama menyatakan bahwa pohon zaqqum adalah sejenis pohon kecil dengan dedaunan yang sangat busuk aromanya. Getahnya mengakibatkan bengkak bila menyentuh badan manusia. Ia ditemukan di beberapa daerah tandus dan padang pasir.

Menurut Quraish Shihab, kalaupun pendapat ini diterima, namun pohon zaqqum yang dimaksudkan oleh al-Qur’an bukanlah pohon tersebut, karena dia seperti bunyi ayat di atas, tumbuh di dasar neraka. Karena itu pula mereka tidak mengetahuinya, maka Allah menjelaskan sifat-sifatnya di sini dan di surat al-Waqi’ah. Kaum musyrikin pun keliru dalam memahaminya.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa kaum musyrikin menduga pohon zaqqum adalah kurma. Padahal, oleh banyak ulama pohon ini dipersamakan dengan pohon yang dinamai oleh al-Qur’an dengan asy-Syajarah al-Ma’lumah (QS. Al-Isra’ [7]: 60). Kata asy-Syajarah biasa digunakan dalam arti pohon kayu. Dalam QS. Ad-Dukhan [44]: 45, pohon itu dilukiskan seperti kotoran minyak yang mendidih dalam perut.

Dalam asbab al-nuzul disebutkan bahwa ketika ayat tentang pohon zaqqum ini turun, kaum musyrikin mengejek dan mencemoohnya. Abu Jahal misalnya meminta pembantunya membawa kurma lalu berkata: “Apakah buah seperti ini yang diharapkan oleh Muhammad akan menakutkan kita?” Dan ketika dinyatakan bahwa ia tumbuh dari dasar api neraka, mereka berkata: “Bagaimana bisa ada pohon yang tumbuh di dasar api neraka?”
Ulama berbeda pendapat dalam memahami ayat ru’us asy-syayathin (kepala-kepala setan).
Pakar tafsir ath-Thabari memahaminya sebagai perumpamaan bagi sesuatu yang buruk seperti setan. Atau mayangnya itu diperumpamakan dengan ular yang dikenal oleh masyarakat Arab dengan nama syaithan. Jenis ular ini berbau busuk dan bermuka buruk. Bisa juga yang dimaksud dengan kata syayathin pada ayat ini adalah sejenis tumbuhan yang dikenal dengan nama ru’us syayathin.

Sementara orang memahami kata setan hanya terbatas pada sosok makhluk halus yang di samping menggoda dan merayu, juga mengganggu dan menyakiti. Tetapi bila kita merujuk ke sekian banyak hadits Nabi Muhammad Saw. ditemukan bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan pun dinamai setan. Misalnya sabda beliau, “Wabah penyakit merupakan tusukan saudara-saudara (musuh-musuh) kamu dari jenis jin (setan).” (HR. Ahmad dan Ibn Abi ad-Dunya melalui Abu Musa). Dengan demikian kata setan digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang buruk dan tercela, sehingga setan dapat menjadi lambang dari kejahatan dan keburukan.

Pakar tafsir al-Biqa’i menulis bahwa kata syayathin pada ayat ini adalah lambang dari puncak keburukan –baik setan dimaksud adalah ular maupun selain ular. Demikian hal ini, karena keburukan setan serta apa yang berhubungan dengannya diyakini oleh jiwa kita sebagai sesuatu yang merupakan keburukan murni, tanpa sedikit kebaikan pun, sebagaimana mantapnya kata “malaikat” dalam jiwa kita dalam arti sesuatu yang sangat indah dan anggun.

Terlepas dari silang pendapat di atas, yang jelas penghuni neraka nanti akan makan makanan yang berasal dari pohon zaqqum. Mereka dipaksa untuk memakannya. Pohon itu lalu memenuhi perut-perut mereka, sehingga membakar muka, bibir dan lidah mereka serta merobek-robek perut mereka. “Maka sesungguhnya mereka pasti akan makan darinya, maka mereka memenuhkan perut-perut (mereka). Kemudian sesudahnya pasti buat mereka minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 66-68)
Rasa buah zaqqum itu sangat pahit, sehingga penghuni neraka segera menelannya, tidak memamahnya. Sama halnya ketika kita minum pil pahit, maka kita pun segera menelannya. Memamahnya sama saja dengan memaksa lidah kita untuk merasakan pahitnya.

Mujahid berkata bahwa para penghuni neraka diberi makanan berupa pohon zaqqum, yakni sebuah pohon yang termasuk dalam golongan yang paling buruk, pahit rasanya, bacin baunya dan bahkan berduri.

Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa neraka Jahanam itu memiliki tujuh tingkat. Setiap tingkat mempunyai 70.000 daerah. Setiap daerah mempunyai 70.000 kampung. Setiap kampung mempunyai 70.000 rumah. Setiap rumah mempunyai 70.000 bilik. Setiap bilik mempunyai 70.000 kotak. Setiap kotak mempunyai 70.000 batang pohon zaqqum. Di bawah setiap pohon zaqqum mempunyai 70.000 ekor ular. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandung lautan racun yang hitam pekat. Juga di bawah setiap pohon zaqqum mempunyai 70.000 rantai dan setiap rantai diseret oleh 70.000 malaikat.

Setelah itu, mereka meminum minuman yang juga tak kalah buruk rasanya. Dalam QS. An-Naba’ [78]: 24-25 dilukiskan bahwa minuman penghuni neraka adalah air yang sangat panas dan nanah, “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah.”

Dalam kesempatan lain minuman penghuni neraka adalah air tembaga yang mendidih, “Sesungguhnya Kami (Allah) telah menyediakan neraka untuk orang-orang yang bersalah, mereka dikepung oleh gejolak apinya. Jika mereka meminta minuman, mereka diberi minum air tembaga yang mendidih yakni dapat menghanguskan muka. Alangkah buruknya minuman yang sedemikian itu. Alangkah jeleknya tempat yang semacam itu.”‌(Q.S. Al-Kahfi [18]:29)
Persoalannya, apakah mereka langsung minum setelah makan buah zaqqum itu atau ada tenggang waktu? Menurut Quraish Shihab, QS. Ash-Shaffat [37] ayat 67 yang berarti “Kemudian sesudahnya pasti buat mereka minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas,” memberi kesan bahwa ada jarak antara makan dan minum itu. Jarak tersebut bisa dipahami dalam arti siksaan akibat minuman itu lebih buruk daripada memakan buah zaqqum. Atau bahwa setelah makan mereka tidak langsung diberi minuman untuk menghapus kepahitan akibat makanan buruk yang memenuhi perut mereka.

Demikian jenis makanan dan minuman yang kelak dirasakan oleh para penghuni neraka. Betapa buruknya makanan dan minuman itu, sehingga membuat siapa saja yang merasakannya pasti akan dibuat hancur tubuhnya. Betapa ngerinya! Karena itu, jika kita ingin terhindar dari segala makanan dan minuman semacam itu harus pandai-pandai untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Amien. (Eep Khunaefi/dimuat di Hidayah edisi 87/foto sekedar ilustrasi&diambil dari www.freefoto.com)

Tidak ada komentar: