Tampilkan postingan dengan label Iktibar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iktibar. Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 24, 2008

BERTAUBAT DI PENJARA

Sebagai lelaki, Sandi bisa dibilang lumayan gagah. Badan tinggi, agak kekar dan warna kulit kuning. Ia pun pandai mengaji. Di kampungnya, Jawa Tengah, ia menjadi guru ngaji dengan banyak murid yang kerapkali datang ke rumahnya. Nilai plusnya semakin bertambah setelah ia juga mengepalai sebuah perguruan silat sekabupaten di Jawa. Dengan segala kelebihan itu, sosok Sandi pun begitu dihormati oleh warga.

Namun, Sandi ternyata belum puas dengan apa yang dimilikinya. Ia ingin memiliki ilmu kebal. Ia terinspirasi oleh adegan-adegan sang jagoan di televisi yang tidak mempan dipedang atau dibacok dengan golok. Ia pun pergi mencari guru yang bisa memenuhi keinginannya itu. Singkat cerita, orang yang dicarinya pun dapat. Oleh sang guru, aura Sandi pun dibacanya. Ternyata, Sandi memiliki aura yang bagus untuk bisa mempelajari ilmu itu.

Tetapi, sang guru memberikan syarat yang sangat berat, yang bagi orang sehat bisa dikatakan sungguh gila. Ia harus menggagahi sepuluh anak di bawah umur. Jika satu saja meleset, maka ilmunya tidak akan sempurna. Awalnya, Sandi begitu keberatan dengan syarat ini. Ia ingat Tuhan, istri dan anak kecilnya di rumah. Bagaimana pula dengan reaksi warga kalau rencananya ini diketahui?

Sejuta pertanyaan menggelanyut di pikiran Sandi. Ia pun tidak langsung memberikan jawaban. Ia pulang dulu ke rumah. Suatu kali Sandi terlibat perkelahian. Ia dikeroyok oleh para berandalan. Meski memiliki ilmu silat yang mumpuni, tapi akhirnya ia kalah juga dengan berbagai luka di badannya. Dari situlah ia terpikir kembali akan keinginannya punya ilmu kebal. Meski pikiran ragu terus menghantuinya, tapi akhirnya ia pun memaksakan diri untuk tetap pergi lagi ke tempat gurunya. Kali ini ia harus belajar ilmu kebal dan siap memenuhi syarat-syarat yang berat itu.

Melihat Sandi datang, gurunya hanya tertawa kecil. “Kamu pasti akan datang lagi ke sini,” ledek sang guru.

Sandi hanya diam terpaku. “Gimana, kamu sudah siap?” tanya sang guru lebih lanjut. Sandi mengangguk-anggukkan kepalanya.

Maka dimulailah ritual pengisian ilmu kebal kepada Sandi hari itu. Tak lama kemudian ritual pun selesai. Sebelum pergi, sang guru hanya berpesan, “Sebelum kamu melaksanakan syarat-syarat itu, kamu tidak akan pernah mendapatkan ilmu itu. Itu adalah resiko yang harus kamu tanggung.”

“Baik, Guru,” jawab Sandi.

Sandi pulang dengan berbagai kecemasan di dalam hati. Hati kecilnya masih ada pemberontakan, tapi ambisinya terlalu besar untuk mendapatkan ilmu itu. Sampai di rumah, Sandi pun melakukan kegiatan seperti biasanya: mengajar ngaji dan melatih silat.

Usaha Mulus

Menjelang Maghrib, di rumah Sandi cukup ramai dengan anak-anak kecil berkerudung dan bersedakepkan al-Qur’an. Mereka rupanya hendak belajar al-Qur’an pada Ustadz Sandi. Ya, karena kepandaiannya dalam membaca al-Qur’an, Sandi kerapkali dipanggil Pak Ustadz oleh anak-anak kecil di sana, bahkan orang tua sekalipun.

Usai Maghrib berjamaah, belajar ngaji pun dimulai. Satu persatu anak-anak yang sudah selesai diajar, pulang ke rumahnya masing-masing. Tidak ada jamaah shalat Isya di rumah Sandi. Terakhir giliran Fatmah. Anak gadis yang manis dan lumayan pintar di kelas. Ia pun selesai belajarnya. Tetapi, baru saja hendak pulang, ia dicegah oleh Sandi. “Fat, Pak Ustadz punya coklat, mau gak?” rayu Sandi pada Fatmah.

Ditawarin coklat, anak kecil manapun pasti mau, termasuk Fatmah. Ia segera mengiyakannya. Lalu dibawalah si Fatmah ke dalam kamar. Kebetulan saat itu, istri Sandi yaitu Sarinah dan anaknya sedang tidak ada di rumah. Habis Maghrib, mereka pergi ke rumah saudara jauh ada urusan keluarga. Pada saat itulah Sandi berhasil menggagahi Fatmah dengan sebuah ancaman, “Awas, kalau bilang sama orang tua, kamu akan Ustadz bunuh!”

Fatmah ketakutan. Ia pun pulang diantar oleh Sandi sendiri. Sampai di rumah orang tua Fatmah, Sandi beralasan, “Maaf, Fatmah pulang agak telat. Soalnya, tadi yang belajar banyak banget.” Orang tua Fatmah mengerti akan alasan Sandi yang demikian itu.

Fatmah hanya diam sedari tadi. Kedua orang tua Fatmah pun tidak curiga karena perangai anaknya memang demikian. Ia termasuk anak yang pendiam. Bahkan, kalau ada kemauan pun ia lebih sering diam, tidak merengek.


Begitulah, usaha Sandi untuk menggagahi anak di bawah umur yang rata-rata murid pengajiannya sendiri selalu berhasil dilaksanakannya dengan mulus, meski baru lima anak. Sampai suatu ketika. Ada kedua orang tua dari salah seorang korban yang mengetahui gelagat anaknya yang semakin aneh dirasakannya. Anak itu pun diintrogasi dan akhirnya mengakui kalau dirinya pernah dimasuki (maaf) anunya oleh Pak Ustadz. Sepontan saja kedua orang tuanya murka besar. Ia segera mendatangi rumah Sandi bersama warga lainnya. Ia ingin minta pengakuan Sandi dan pertanggung jawabannya.

Hampir Mati

Sandi tidak mengaku. Tapi, akhirnya Sandi tidak bisa mengelak lagi setelah orang tua korban yang lain ikut berdatangan ke rumahnya. Mereka menjadi tahu kalau anaknya digagahi oleh Ustadz Sandi setelah anak-anak mereka mengaku. Tanpa pandang bulu lagi, warga mulai main hakim sendiri. Tubuh Sandi ditarik keluar dan dihajar babak belur. “Bahkan, tubuh Sandi diseret seperti binatang,” ujar Hamid, yang tidak lain tetangga Sandi.

Tubuh Sandi yang sudah berdarah-darah diseret ke tengah-tengah lapangan. Dalam keadaan tidak berdaya, Sandi disaksikan oleh puluhan warga yang sudah dimakan amarah. Terlihat beberapa tulang Sandi telah remuk dan patah. Sandi sendiri sudah dalam keadaan pingsan.
Tubuh Sandi diikat sebuah tali lalu dikaitkan di sebatang kayu. “Ia seperti ayam yang sedang digantung saja, Mas,” ujar Hamid mengisahkan penderitaan Sandi kala itu. Dengan kondisi seperti itu, hitungan hidup Sandi sangat tipis. Ia tinggal menunggu kapan Malaikat Izrail datang untuk mencabut nyawanya.

Warga sudah benar-benar marah. Mereka hendak membakar tubuh Sandi hidup-hidup. Tapi, sebelum niat itu kesampaian, polisi keburu datang. Niat mereka dicegah. Polisi lalu mengamankan tubuh Sandi dan membawanya ke rumah sakit. “Pak dan ibu, kita gak boleh main hakim sendiri. Kalian boleh marah. Tapi kita juga harus taat hukum. Biar pengadilan yang memutuskan nanti,” ujar pimpinan polisi pada warga.

Sandi dirawat di rumah sakit. Setelah berhari-hari dirawat, ternyata nyawa Sandi bisa diselamatkan. Bahkan, ia bisa sadar dan bisa berbicara. Sandi pun disidangkan dengan kondisi tangan dan kaki masih patah. Pengadilan lalu memutuskan bahwa Sandi dihukum beberapa tahun penjara. Warga ada yang puas dan tidak atas keputusan pengadilan. Ada yang menginginkan Sandi dihukum mati atau seumur hidup. Saat prosesi pengadilan, wajah istri dan anaknya tidak pernah kelihatan karena merasa malu tak terperihkan.

Guru Ngaji

Di dalam penjara, Sandi hanya bisa meratapi nasibnya. Kehormatan dan harga diri yang sudah bertahun-tahun dijaganya sirna begitu saja, hanya karena ambisinya yang kelewatan: punya ilmu kebal dengan cara yang salah. Sandi benar-benar menyesal. Kenapa ia harus mengikuti syarat gurunya yang demikian berat itu?

Berbagai pertanyaan terus mengganggu pikiran Sandi. Di penjara ia selalu menangis. Ingat anak dan istri di rumah. Bagaimana nasib mereka? Mereka pasti ikut merasakan sakitnya akibat perbuatan dirinya. Mereka pasti malu.

Sandi pun akhirnya benar-benar bertaubat. Ia ingin kembali seperti dulu yaitu mengajar orang membaca al-Qur’an dengan cara yang baik. Hal itu pun dilakukannya kembali saat di penjara. Rupanya, Sandi kerapkali membaca al-Qur’an usai shalat. Hal itu dilihat oleh sahabat-sahabatnya di dalam sel. Mereka pun lambat laun ingin belajar al-Qur’an pada Sandi. Dengan senang hati, Sandi pun melakukannya.

Begitulah hari-hari Sandi di dalam penjara. Ia mengajari sahabat-sahabat selnya membaca al-Qur’an. Bahkan, Sandi kerapkali dimintakan nasehatnya. Sebab, Sandi sebenarnya lulusan pesantren yang banyak mengerti masalah agama.

Sandi juga kadang memimpin shalat berjamaah di dalam sel. Pokoknya, Sandi benar-benar telah menjadi manusia baru lagi. Bagaimana dengan nasib istri dan anaknya di rumah? Menurut Hamid, sejak peristiwa memalukan itu, Sarinah membawa anaknya mengungsi ke rumah saudaranya di desa tetangga. Ia sendiri merasa sangat malu atas perbuatan suaminya. Ia tidak menyangka jika sang suami berbuat demikian. Saat keluar rumah, kerapkali ia mendapatkan sorotan yang tajam dari tetangga-tetangganya. Ejekan mengumpat pun kerapkali keluar dan ditujukan kepadanya. Berpindah di rumah saudaranya pun menjadi solusi sementara. Entahlah, setelah suaminya keluar nanti!

Keluar Sel

Setelah bertahun-tahun hidup dalam kepenatan di dalam sel, Sandi akhirnya bebas dan menghirup udara segar lagi. Ia pun jalan mengendap-endap di malam hari ke rumah sendirinya di kampung. Ia masih merasa malu pada warga setempat. Karena itu, tidak berani jalan di siang hari. Bahkan, bisa jadi, kalau warga melihatnya ia akan digebukin lagi.

Tetapi, istri dan anak yang dicarinya tidak diketemukan. Ia pun menyadarinya pasti mereka ada di rumah saudara istrinya di kampung sebelah. Malam itu juga Sandi bergegas pergi ke rumah saudara tirinya tanpa diketahui oleh warga. Menurut Hamid, sejak itu Sandi tidak pernah kembali lagi ke kampungnya. Barang-barangnya sudah diambil oleh keluarga Sandi.

Menurut Hamid, kini Sandi telah hidup bahagia bersama istri dan anaknya di kampung sebelah. Ia telah menjelma sebagai sosok yang baru. Kini, ia berprofesi sebagai tabib. Konon, tulang-tulang Sandi yang sempat remuk dan patah juga disembuhkan sendiri. “Padahal, logikanya tidak bisa. Saya melihat sendiri tangan dan kakinya itu patah,” kata Hamid.

Begitulah takdir Tuhan. Jika Sandi ditakdirkan masih selamat, ia pun akan selamat meski dihajar babak belur oleh warga dan sebaliknya. Sandi yang awalnya sempat terjerembab ke dalam lubang dosa, kini kembali lagi ke jalan yang benar.

Dari kisah di atas bisa diambil pelajaran bahwa janganlah kita menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisi kita. Sandi menyadari bahwa menggagahi orang itu dosa hukumnya, apalagi anak kecil. Tapi, ia tetap melakukannya. Ia termakan oleh serakah syaithaniyah, akhirnya akal sehatnya pun tertutup. Untungnya, ia kemudian menyadari kesalahannya dan bertaubat. Semoga kita bisa belajar dari semuanya ini! Amien. (Eep Khunaefi/foto hanya ilustrasi diambil dari toto-basuki.blogspot.com&h4lim4h.wordpress.com)

Rabu, Oktober 29, 2008

Durhaka pada Ibu, Muka Dipenuhi Benjolan

Seorang ibu yang sebenarnya sudah tidak muda lagi mendatangi anaknya yang sedang duduk di teras. Dengan lembut ibu berkata pada anaknya, “Nak, tolong belikan lilin di warung Mang Kodir!”
“Enggak ah, saya capek,” ujarnya ketus.

Ibu yang bernama Ibu Asminah itu sedih. Terpaksa ia melakukannya sendiri. Dengan tertatih-tatih ia berjalan gontai menuju warung Mang Kodir untuk membeli Lilin. Sedari 3 jam yang lalu, listrik di kampung x memang padam. Jadi, ibu Asminah mempersiapkan diri untuk malam hari. “Sedia payung sebelum hujan,” begitu kata pepatah.

Kisah di atas hanyalah sekelumit dari rentetan kedurhakaan laki-laki bernama Asgar pada ibunya. Berkata kasar, tak menurut perintah, tidak sopan, lebih mementingkan kepentingan istrinya adalah sifat-sifat jelek Asgar yang membuat Ibu Asminah kadang tak pernah berhenti menangis. Dalam doanya ibu yang sebenarnya sudah tidak muda lagi itu hanya melirih, “Ya Allah, bukakan hati anakku! Mungkin yang dilakukannya selama ini karena ia tidak tahu. Mohon beri kesempatan ia untuk memperbaiki diri!” Tak pernah berhenti Ibu Asminah mendoakan anaknya agar segera bertaubat dan kembali kepada jalan yang benar.

Sejahat-jahat perilaku anak pada kedua orang tuanya, ia tetap mendapatkan perlakukan istimewa dari mereka. Hal ini berlaku terhadap Asgar. Sang ibu yang kerapkali mendapatkan perlakuan kasar dari anaknya ini masih sempat menyiapkan nasi goreng atau membuatkan kopi di pagi hari. Bukankah Asgar punya istri! Ia wanita sibuk dengan segudang pekerjaan di kantor. Kadang sempat dan kadang tidak ia melayani suaminya, meski hanya sekedar membuatkan kopi pagi atau nasi goreng ala kadarnya.

Asgar adalah seorang eksekutif muda. Berangkat pagi dan pulang sore adalah kebiasaannya setiap hari Senin hingga Jum’at. Hari Sabtu dan Minggu ia sering gunakan untuk berlibur, yang justru membuat ibunya kerapkali sedih. Sebab, sang ibu jarang sekali diajak. Padahal, meski sudah tua, hati kecilnya tetap ingin sekali-kali menikmati pemandangan di luar. Tak perlu liburan istimewa, yang penting mendapatkan perhatian anaknya untuk diajak saja sebenarnya sudah cukup bagi Ibu Asminah. Tetapi, hal ini tak pernah ia rasakan. Asgar, lelaki yang dulu sangat dibanggakan ibu Asminah karena kepintarannya ini justru lebih mementingkan istri dan anak-anaknya. Padahal, disadari atau tidak, bahwa setiap hari Asgar dan istrinya justru masih tinggal di rumah ibunya yang cukup megah.

Sejak kecil, Asgar memang sangat dimanjakan sebab ia adalah anak satu-satunya. Selain itu, ia termasuk anak yang pintar. Mungkin itulah yang membuat Asgar tumbuh sebagai sosok yang sangat dimanja. Meski bapaknya telah tiada, hal itu tidak merubah watak Asgar yang jahat.
Bahkan, ia merasa tidak adanya bapak berarti tidak ada lagi orang yang bisa menekan kemauannya. Ibu Asminah yang sudah tua sudah tak bisa lagi mengontrolnya. Dalam doanya kerapkali ia melirih, “Ya Allah, mungkin ini akibat hamba terlalu memanjakan anak. Dia menjadi pembangkang dan berani melawan orang tua. Ia tidak salah, Ya Allah. Hamba yang salah.”

Ibu Asminah memang berhati mulia. Meski nyata-nyata Asgar adalah lelaki yang tidak tahu diri dan bisa dikatakan “durhaka” pada dirinya, Ibu Asminah tetap menganggap ini adalah kesalahannya dalam mendidik. Ia sangat memanjakannya sejak kecil hingga dewasa. Karena itulah, pikiran dan jiwanya tidak matang. Kalaupun ia kemudian mendapatkan posisi yang bagus di pekerjaan, itu karena kepintarannya dan prestasi akademiknya yang bagus.

Wajahnya Gatal-gatal
Malam menghantui kampung x. Ibu Asminah dan Asgar terlelap dalam tidurnya. Di tengah pekik suara binatang malam Ibu Asminah yang rajin beribadah ini terjaga dari tidurnya. Ia hendak menunaikan ibadah shalat tahajud, yang kerapkali dilakukannya dalam setahun terakhir. Mungkin ia merasa ajalnya sudah dekat, karena itu ibadahnya semakin ditingkatkan.

Asgar sendiri lalu terjaga. Bukan karena punya keinginan yang sama seperti ibunya untuk shalat malam, tapi karena dirinya tiba-tiba merasa gatal. Ia menggaruk-garukkan mukanya yang dirasakannya sangat gatal. Istrinya yang bernama Rohimah ikut terbangun karena ulah berisik yang dilakukan oleh suaminya. Melihat kondisi suaminya, Rohimah merasa kasihan. Ia pun segera mengompres mukanya dengan air hangat. Barangkali cara seperti ini ampuh untuk mengusir rasa gatal dari wajah suaminya.

Benar saja. Malam itu pun bisa dilalui Asgar dengan baik-baik saja. Tidak sampai setengah jam ia bergelut dalam kegatalan di wajahnya, ia pun bisa melanjutkan tidurnya kembali yang sempat terganggu itu. Sebagai eksekutif muda, pagi-pagi Asgar bangun yang diikuti oleh istrinya. Sementara ibu Asminah masih bertepekur dalam dzikirnya sehabis menunaikan shalat Subuh.

“Bu, buatkan saya nasi goreng, dong! Lapar nih!”

“Si Rohimah mana.”

“Ia sibuk dandan.”

“Tanggung, Nak. Ibu selesaikan zikir dulu.”

“Ya udah cepat.”

Usai zikir Ibu Asminah menuju dapur. Kelakuan Asgar memang tak pernah berubah, selalu saja minta dibuatkan nasi goreng ibunya yang memang sangat enak, meski ia sudah memiliki istri.
Maklum, Rohimah tak bisa memasak. Ia juga terdidik sebagai anak yang manja dalam keluarganya. Ia tak bisa memasak. Untuk makan, biasa ia membeli di warung-warung terdekat.
Jadi, meski sudah beristri, Asgar tetap mengandalkan ibunya untuk urusan rumah tangga.

Tak lama kemudian Ibu Asminah kembali sambil membawa nasi goreng untuk anaknya dan menantunya yang kurang ajar juga. Sementara kedua anaknya, Dinda dan Rijal, masih tidur.
Mereka kerapkali ditinggal pergi kedua orang tuanya dalam kondisi masih tidur. Kalau sudah begitu, yang repot pasti Ibu Asminah. Sebab, ia juga yang mengurus cucu-cucunya.

Usai melahap sepiring nasi goreng dan secangkir kopi setengah pahit, Asgar pergi ke kantor bersama istrinya. Keduanya memiliki kantor yang berbeda, namun satu arah. Mereka berpisah ketika sampai di pertigaan gang kerinci. Asgar belok kanan, sementara Rohimah belok kiri. Hari itu cuaca terang. Asgar segera meletakkan tas kerjanya di meja. Tetapi, belum saja ia bekerja wajahnya dirasakannya mulai gatal-gatal lagi. Ia menggaruk-garukkannya hingga merasa kesal.
“Kurang ajar, penyakit apaan nih!” umpatnya.

Hari itu, Asgar benar-benar tak bisa bekerja. Ia segera pamit pada bosnya untuk berobat. Puskesmas tak jauh dari kantornya. Ia segera menemui dokter spesialis kulit dan memeriksakan kondisi wajahnya yang gatal-gatal.

“Apa keluhan Anda?”

“Wajah saya gatal-gatal, Dok.”

“Coba kuperiksa.”

Dokter mendiagnosa kulit wajah Asgar. Darah Asgar juga diambil untuk dijadikan sampel pemeriksaan barangkali ada yang tidak beres pada darahnya. Asgar menunggu hasil laboratorium dokter. Tak lama kemudian dokter kembali dari laboratorium dengan membawa keputusan yang di mata Asgar aneh,

“Anda sebenarnya tidak apa-apa.”

“Tidak apa-apa gimana, Dok. Saya jelas gatal-gatal.”

“Rasa gatal yang timbul di wajah Anda hanyalah reaksi dari debu kotor dan sinar matahari yang mengenai wajah Anda. Ini sementara kok, nanti juga hilang dengan sendirinya.”

Meski sempat kecewa dengan hasil diagnosa dokter, tapi Asgar akhirnya mau tidak mau harus menerimanya. Ia berharap perkataan dokter benar bahwa tidak terjadi apa-apa pada wajahnya yang sudah dua hari dirasakan gatal.

Asgar kembali ke rumah. Melihat kedatangan anaknya yang begitu cepat dari kantor, Ibu Asminah kaget.

“Kok tumben pulang cepat.”

“Ini bukan urusan ibu. Saya lagi kesal.”

“Emangnya ada apa?”

“Wajah saya gatal-gatal tapi kata dokter tidak terjadi apa-apa.”

“Coba ibu periksa.”

“Gak usah, kata dokter nanti juga sembuh sendiri.”

Perhatian Ibu Asminah tak pernah dihargai oleh Asgar, padahal ibu berhati emas itu selalu ikhlas menemani dan melayani anaknya yang sudah bertindak kurang ajar. Asgar benar-benar anak yang durhaka.

Sakitnya Makin Parah
Waktu terus berjalan. Tigar hari kemudian usai memeriksakan kondisinya pada dokter, Asgar merasakan kulit wajahnya gatal-gatal lagi. Bahkan, semakin dirasakan kian gatal hingga Asgar terpaksa menggaruk-garukkan wajahnya dengan jari-jari tangannya. Tapi, rasa gatal itu tidak hilang, bahkan dari bekas garukkan itu muncul benjolan-benjolan kecil dan beberapa saat kemudian semakin besar.

Asgar panik dan segera ia pergi ke dokter. Tapi, dokter memvonis penyakit yang diderita Asgar hanyalah penyakit gatal-gatal biasa. Dan dokter pun memberi resepnya untuk mengantisipasi timbulnya benjolan susulan. Tetapi, gatal-gatal itu tak hilang juga dalam beberapa hari, bahkan semakin bermunculan hampir menutupi seluruh wajahnya.

Asgar merasa malu pada dirinya. Istrinya sendiri sudah tak bisa berbuat apa-apa atas derita yang dialami oleh sang suami. Ia sampai pernah pergi ke paranormal, barangkali dirinya terkena santet, tapi hasilnya tetap nihil. Semua paranormal yang ditemuinya hampir berkesimpulan sama bahwa penyakit yang diderita oleh Asgar pasti ada hubungannya dengan sesuatu yang gaib, tapi bukan santet.

Asgar lalu mendatangi seorang kiayi yang dianggap pintar. Pak kiayi pun mendeteksi Asgar terkena suatu penyakit aneh, yang tidak ada kaitannya dengan penyakit medis. Tetapi, oleh pak kiayi Asgar disarankan agar lebih dekat pada Tuhan dan berbakti pada ibunya. “Nak Asgar, mungkin pernah melakukan kesalahan pada ibu. Coba minta maaf padanya!” ujar pak kiayi.

Tapi dasar anak durhaka, Asgar malah mengumpat-umpat pak kiayi meski tak dikatakannya, tetapi disembunyikannya dalam hati. Ia mengatakannya pada istrinya, “Bukannya saya diobati malah dinasehati. Kalau tidak tahu ya katakan saja tidak tahu, gak usah nebak-nebak.”

Tak lama kemudian Ibu Asminah meninggal dunia. Tubuhnya yang renta dan rambutnya yang sudah ditumbuhi banyak ubah, akhirnya tak bisa menyelamatkan ajalnya yang memang telah digariskan oleh Tuhan. Ibu Asminah meninggal dengan kondisi tenang, tetapi menyisakan penderitaan yang mendalam karena anak satu-satunya belum bertaubat. Padahal, sebelum meninggal ia ingin sekali melihat anaknya betaubat.

Untuk menutupi rasa malunya, Asgar terpaksa cuti kerja untuk beberapa hari. Selama beberapa hari ia mengurung dirinya dalam kamar. Kalaupun keluar rumah, ia selalu berjalan merunduk hingga membuat tetangganya aneh. Bahkan, ia sering menggunakan topi atau sweater untuk menutupi wajahnya saat keluar rumah. Keluar juga karena terpaksa untuk membeli sebungkus rokok atau minuman. Selebihnya ia menghabiskan banyak waktunya di dalam rumah.

Seminggu telah lewat dan Asgar masih dalam keadaan pilu. Ia sudah beberapa hari tidak masuk kantor. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti bekerja. Istrinya protes, sehingga sempat membuat mereka berantem. Tapi, Asgar bisa membela diri dengan mengatakan kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja di luar. Ia berlasan kalau keadaannya memungkinkan ia akan bekerja lagi. Akhirnya sang istri pun mengerti.

Begitulah hari-hari Asgar lalui dengan penuh penderitaan akibat durhaka kepada ibunya. Hingga berita ini ditulis, Asgar masih merasa malu jika keluar rumah. Tetapi selama itu ia tak pernah merasa bahwa semua ini akibat perbuatan jahatnya pada sang ibu. “Orang-orang kampung sih sudah tahu kalau ia seperti itu karena durhaka pada ibunya,” ujar Tonton, yang tak lain merupakan tetangga Asgar. Tetapi, Asgar sendiri tak pernah sadar atas ulah durhakanya pada sang ibu di masa lalu. “Jika ia bertaubat pada Tuhan dan meminta maaf kepada-Nya atas dosa-dosa yang pernah dilakukan pada ibunya, mungkin penyakitnya bisa sembuh,” ujar Tonton.

Tuhan Maha Pengampun. Meski orang tua kita sudah meninggal, tapi tak pernah ada kata berhenti bagi kita untuk selalu mendoakan mereka atau meminta maaf pada mereka atas dosa-dosa yang telah kita lakukan. Sebab, doa sang anak untuk orang tuanya yang sudah meninggal dunia pasti akan sampai.

Demikian pelajaran yang bisa kita petik dari kisah di atas bahwa selayaknya bagi kita untuk berbakti pada kedua orang tua, terutama ibu. Sebab, ridha Allah berada pada ridha kedua orang tua dan murka-Nya juga terletak pada murka kedua orang tua. Semoga kita bisa menjadi golongan orang-orang yang selalu taat kepada Allah dan berbakti kepada kedua orang tua kita! Amien.

Eep Khunaefi/sumber foto: www.photobucket.com

Rabu, September 17, 2008

Makan Uang Zakat, KAKI MEMBESAR HINGGA MENINGGAL

“Sebagai sosok kiayi, sebenarnya ia sangat disegani. Di samping ilmu agamanya yang mendalam, ia juga pandai berpidato. Tidak sedikit orang yang terkesima dengan gaya narasinya saat di panggung. Makanya, ia banyak jamaahnya. Sayangnya, ia punya watak jelek yaitu suka makan uang zakat yang sebenarnya diperuntukkan untuk orang yang berhak menerimanya.”

Imran tak habis pikir memikirkan kiayi yang disegani di kampungnya itu. Masalahnya, pak kiayi itu sangat mengerti agama. Tetapi, mengapa ia justru melanggar aturan agama? Jika mengingat-ingatnya terus, sebagai tetangganya pun Imran kadang miris hatinya atas ulah pak kiayi tersebut.

Kepada Hidayah, Imran pun bercerita blak-blakan perihal pak kiayi yang dikenal dengan nama KH. Jazuli tersebut berikut akibat jelek yang ditimbulkan karena ulahnya sendiri yaitu di akhir hidupnya ia diterpa penyakit aneh di mana dokter memvonisnya seperti tidak berpenyakit. Tetapi, dengan penyakit itu justru ia kemudian meregang nyawa. Atas saran saksi, nama dan tempat peristiwa pun sengaja kami samarkan demi menjaga muru’ah (kehormatan) keluarganya.

Kiai dengan Segudang Ilmu
Siapa yang berani menjamin bahwa seorang kiayi tidak luput dari perbuatan dosa? Sebab, ia pun seorang manusia yang diberikan hawa nafsu. Ketika nafsu sudah menguasai hati dan pikiran, maka citra baik yang kita sandang pun sudah tidak artinya lagi.

Begitu juga dengan KH. Jazuli. Sebagai seorang manusia, sebenarnya ia merupakan pribadi yang luar biasa. Ia adalah lulusan pesantren dari salah satu pesantren di Jawa. Dengan bekal jadi santri bertahun-tahun, bidang ilmu agama pun banyak dikuasainya seperti tafsir, fikih, ushul fikih, tauhid, syariah, dan sebagainya.

Saat kembali ke kampung dan mengabdikan dirinya di tengah-tengah masyarakat orang-orang pun tak menyangsikan lagi bahwa ia pasti terpakai ilmunya. Kenyataannya memang benar. Begitu terjun di masyarakat, ia langsung disambut oleh masyarakat. Apalagi, ia memang aktif di tajug (mushala) dan masjid untuk memberikan ceramah agama dan pengajian kitab kuning.
Kiprah pak kiayi pun makin lama kian disegani oleh masyarakat. Banyak jamaah yang hadir dalam pengajian dan ceramahnya. Dengan kelihaiannya berpidato di atas panggung, semakin menambah nilai plusnya sebagai seorang kiayi. Para jamaah seperti terhipnotis oleh nasehat-nasehat religinya.

Praktis KH. Jazuli pun seperti menjadi kiayi tunggal di kampung x. Meski banyak kiayi-kiayi lainnya tetapi ketokohan KH. Jazuli membuatnya begitu tampak menonjol di antara mereka. Ia menjadi Ketua DKM (Dewan Kesejahteraan Masjid) di kampungnya.

“Sebagai orang awam dan tetangganya, saya pun salut pada pak kiayi Jazuli. Ia pandai dalam ilmu agama dan lihai dalam berpidato. Banyak orang yang terkesima dengan nasehat-nasehatnya saat ia berbicara di panggung,” ujar Imran yang merupakan tetangga pak kiayi Jazuli.

Imran tidak salah menilai KH. Jazuli. Kenyataannya memang demikian. Ia ahli berbagai ilmu agama dan orator yang ulung. Suaranya yang ngebas dan bertenaga, menjadi daya pikatnya untuk merebut hati jamaah untuk fokus mendengarkan ceramah-ceramahnya. Karena itu, ia pun diminati oleh salah satu partai politik tertentu untuk jadi Ketua DPC (Dewan Pimpinan Cabang).

Sebagai Ketua DPC, KH. Jazuli banyak melibatkan diri dalam kegiatan politik praktis. Dengan kelihaiannya dalam berpidato, ia pun mampu menarik orang untuk mengikuti partai politik yang diikutinya. “Partai politik yang diusungnya, menang terus dalam setiap pemilu,” ujar Imran yang juga akhirnya memilih partai politik yang diusung Pak Kiayi Jazuli karena ceramah-ceramahnya yang memesona.

Bertahun-tahun KH. Jazuli dipercaya mengetuai salah satu partai politik tertentu, selama itu pula partai politik yang diusungnya selalu menang. Entahlah, apakah memang kultur di kampung x dan sekitarnya sudah tergoda dengan partai politik itu sejak dulu. Yang jelas, peran KH. Jazuli dalam memenangkan partai yang satu itu sangat besar. “Hingga Ketua Partai Politik Pusat pernah datang ke wilayahnya dan sengaja bertemu dengan pak kiayi Jazuli,” ujar Imran.
Sebagai tetangganya, Imran menyadari betapa besarnya pengaruh KH. Jazuli bagi warga kampung x, hingga ia selalu dipercaya menangani urusan-urusan keagamaan yang berlangsung di kampungnya tersebut.

Mengurus Uang Zakat
Salah satu urusan keagamaan yang dipercaya warga untuk diurus KH. Jazuli adalah mengurus uang zakat. Bila ada orang kaya dan budiman hendak berzakat di kampung x, maka KH. Jazuli yang mengurusnya. Oleh pak kiayi, ia membagi-bagikan sendiri uang itu kepada yang berhak menerimanya, terutama kaum fakir miskin dan kaum dhuafa.

Di awal, pak kiayi sangat amanah menjalankan tugas tersebut. “Tetapi, lambat laun ia menyalahgunakannya,” ujar Imran. Tetapi, sejauh itu masyarakat belum menaruh curiga kepada pak kiayi. Sebab, hanya sedikit orang yang tahu seberapa besar uang zakat yang didapatkan KH. Jazuli dan seberapa besar pula ia harus mengeluarkannya kecuali pak kiayi sendiri dengan sang dermawan.

Suatu kali ada seorang dermawan menemui KH. Jazuli dan ia menyerahkan uang zakatnya untuk dikelola pak kiayi sebesar 2.500.000,-. Terserah pak kiayi, uang sebesar itu mau diserahkan kepada berapa kaum dhu’afa dan fakir miskin. Pada prakteknya, ternyata pak kiayi hanya memberikan uang sebesar 30.000 kepada 50 orang kaum dhu’afa dan fakir miskin. Jadi, ia mendefisitkan 20.000 per kepala. Awalnya, hal ini tidak diketahui warga, tapi lambat laun pasti akan tercium juga. “Orang ‘kan suatu saat pasti tahu,” ujar Imran.

Satu hal lagi. Di kampung x kebetulan ada semacam BAZIS (Badan Amil Zakat) yang kantornya numpang di masjid yang DKM-nya diketuai oleh KH. Jazuli. Bagi warga kampung x dan sekitarnya yang ingin berzakat bisa disalurkan ke lembaga ini. Sebagai ketua, KH. Jazuli memang pandai memotivasi orang dalam setiap ceramahnya untuk berlomba-lomba bersedekah di jalan Allah. Tidak sedikit orang yang memercayakan lembaga zakat yang juga dikelola pak kiayi Jazuli ini untuk menyalurkannya.

“Di tangan KH. Jazuli lembaga zakat di kampung kami memang berjalan lancar dan berkembang sangat baik. Dana yang dikumpulkan lembaga ini setiap tahunnya selalu mencapai target,” ujar Imran.

Imran pun mengaku kagum atas kinerja KH. Jazuli dalam hal ini. Tetapi, ia sangat menyayangkan karena masih banyak warga di kampungnya yang miskin tidak mendapat jatah. Bahkan, jatah yang mereka dapatkan tidak sebesar yang seharusnya. “Semua orang sebenarnya sudah tahu. Tetapi, mereka tidak berani menegur pak kiayi karena ketokohannya di kampung,” ujar Imran. Warga kampung x hanya bisa berbisik-bisik ke sana kemari membicarakan masalah KH. Jazuli untuk urusan yang satu ini.

Dalam hal pembagian uang zakat dari BAZIS ini KH. Jazuli bekerja sama dengan bendahara. Laporan-laporan yang tertulis di buku selalu fiktif dengan kenyataan di lapangan. “Mungkin sebenarnya uang itu masuk ke kantongnya sendiri, tidak dizakatkan kepada yang berhak menerimanya,” ujar Imran yang kadang tampak kesal dengan pak kiayi Jazuli. Akhirnya, uang zakat pun tidak sedikit yang lenyap entah ke mana. Menurut Imran, hal ini terus berlangsung bertahun-tahun selama DKM masjid dan BAZIS diketuai oleh KH. Jazuli.

Penyakit Aneh
Suatu kali KH. Jazuli jatuh sakit. Oleh keluarganya, pak kiayi diduga mengidap penyakit demam biasa. Ia pun hanya terbaring di atas ranjang berkainkan sarung selama beberapa hari. “Tetapi, anehnya penyakit pak kiayi tidak sembuh-sembuh hampir seminggu,” ujar Imran.

Oleh keluarganya, KH. Jazuli pernah dibawa ke rumah sakit untuk diobati. Dokter pun telah memberikan resepnya sesuai diagnosa. Tetapi, selama seminggu lebih penyakit yang diderita pak kiayi tidak kunjung sembuh. “Bahkan, keanehan mulai muncul pada bagian kaki kirinya,” ujar Imran.

Menurut Imran, kaki kiri kiayi haji Jazuli membengkak. Anehnya, hanya kaki kiri sedang kaki kanannya tidak. Semakin lama pembengkakan kaki kiri pak kiayi semakin membesar. Hal ini membuat keluarganya dirundung keanehan. Mereka pun menduga-duga, jangan-jangan pak kiayi menderita penyakit diabetes atau yang lainnya?

Pak kiayi pun dibawa kembali ke dokter. Tetapi, oleh dokter derita yang dialami oleh pak kiayi bukan merupakan penyakit medis. Artinya, penyakit itu tidak ada penyebabnya secara jelas. Tidak ada satu indikasi pun yang mengarah kepada penyakit diabetes atau penyakit lainnya. “Saya pun sebagai tetangganya, merasa aneh dengan penyakit pak kiayi tersebut,” ujar Imran.
Berbagai dokter telah menangani penyakit pak kiayi, tetapi sejauh itu pula mereka berkesimpulan bahwa penyakit yang dialami pak kiayi sebenarnya bukanlah penyakit medis. Bagi dokter sendiri, ini adalah penyakit yang aneh. Akhirnya, KH. Jazuli pun dirawat di rumah saja.

Berbulan-bulan pak kiayi Jazuli menderita penyakit yang tidak bisa ditebak asal muasal dan penyebabnya itu. Karena itu pula, penyakitnya tak bisa disembuhkan. Yang dirasakan, kaki kiri pak kiayi semakin besar. “Gedenya seperti sebesar tiang listrik atau sebesar paha orang berbadan gemuk 200 kg,” ujar Imran. Padahal, tubuh pak kiayi tidaklah terlalu besar. Badannya pun ramping. Jadi, penyakit yang diderita pak kiayi memang tidak normal, di luar nalar manusia.

Setelah hampir setahun bergelut dengan penyakit, akhirnya pak kiayi Jazuli tak kuasa melawan takdir kematian yang telah digariskan Tuhan. Ia pun meregang nyawa dengan kondisi yang memprihatinkan. Beberapa orang pun mulai berkomentar negatif mengiringi kematiannya. Apalagi, setelah ditemukan beberapa keanehan lain saat dirinya hendak dimakamkan.

Kain Kafan yang Kurang
Isak tangis keluarga mengiringi kematian KH. Jazuli yang kesohor. Meski mereka sudah mengikhlaskannya pergi ke alam baka, hal itu tetap saja tidak menutupi kesedihan mereka ditinggal orang yang disayanginya. Ini adalah hal yang alami sama seperti kita kehilangan barang penting yang kita miliki, pasti sedih yang kita rasakan. Tetapi, meratapi selamanya pun tidak ada gunanya karena jenazah pak kiayi sudah kaku dan tidak akan bisa hidup kembali meski bagaimana pun. Lagi pula, meratapi kepergiannya yang berlarut-larut sama saja dengan memberikan hal yang tidak baik kepada almarhum. Sebab, Nabi sangat melarang dalam hal ini.
Jenazah pak kiayi lalu segera dimandikan dan dishalatkan. Keanehan kemudian muncul saat almarhum dikafani. Ukuran kafan yang sudah dipesan dan dibelinya ternyata tidak muat. “Padahal, ukurannya sudah ditentukan. Ini aneh memang,” ujar Imran.

Kesukaran muncul saat melipat bagian kaki kirinya yang besar dengan kain kafan (mori) itu. Mungkinkah, kaki kiri almarhum kian membesar meski sudah meninggal! Semua orang tidak ada yang bisa memastikan. Yang jelas, setelah itu pihak keluarga menyuruh orang lagi untuk membeli kain kafan baru yang ukurannya lebih besar dari sebelumnya.

Orang itu pun pergi membeli kain kafan baru dan tidak lama kemudian kembali lagi. Kain kafan yang baru itu pun disematkan kembali ke tubuh almarhum. Awalnya, berjalan lancar. Tetapi, saat bagian menutup kaki kirinya, kain kafannya tetap tidak mencukupi. Semua yang hadir pun semakin dibuat tidak mengerti. Pihak keluarga sampai sempat murka pada orang yang disuruh karena disangka tidak becus membeli kain kafan sesuai yang dipesankannya. “Padahal, kain kafan yang baru itu ukurannya sedikit lebar dari kain kafan sebelumnya. Logikanya, ia bisa muat untuk membungkus tubuh almarhum,” ujar Imran.

Dari sini orang mulai ramai-ramai berbisik. Jangan-jangan, ini adalah persoalan gaib sehubungan dengan perbuatan almarhum sewaktu hidupnya. Artinya, Allah hendak memperlihatkan kepada orang yang hadir saat itu dan kita semua bahwa perbuatan jahat pasti mendapat balasannya dari Tuhan. “Saat itu banyak orang yang yakin, termasuk saya sendiri, bahwa itu pasti ada campur tangan Tuhan. Ia seperti itu karena perbuatannya sendiri,” ujar Imran yang masih merinding jika mengingat kejadian itu.

Meski bagaimana pun jenazah harus tetap dikafani untuk segera dikuburkan. Akhirnya, keputusan pun dibuat cepat. Kekurangan kain kafan baru untuk menutupi kaki kiri almarhum yang besar akhirnya ditutupi oleh kain kain kafan yang lama dengan cara dijahit. Setelah itu, baru tubuh almarhum sudah bisa dibungkus oleh kain kafan seutuhnya, meski sebagian ada tambalannya.

Papan Jenazah Tidak Muat
Jenazah KH. Jazuli lalu diusung pakai tandu ke kuburan. Cukup banyak orang yang mengiringi kepergiannya ke alam baka tersebut. Meski bagaimana pun pak kiayi adalah sosok terpandang di kampung x. Banyak orang yang telah mendapatkan siraman rohaninya terutama saat hari-hari besar Islam tiba, almarhum tampil menjadi penceramah tunggal.

Tidak ada keanehan saat di perjalanan. Segalanya berjalan seperti biasanya dan sesuai rencana. Almarhum akhirnya sampai di tempat pemakaman dalam waktu tidak lebih dari setengah jam. Sementara itu lubang yang diperuntukkan untuk almarhum sudah disiapkan. Di kanan kiri lubang itu tampak tanah-tanah menggunduk. Sementara itu orang-orang sudah berdiri berjejer mengitari kuburan.

Tiga orang lalu turun ke bawah. Sementara yang lainnya segera mengangkat tubuh almarhum untuk dimasukkan ke liang lahad. Jenazah almarhum segera berpindah tangan ke tiga orang yang ada di bawah. Almarhum lalu dimasukkan ke liang lahad dan diposisikan pada tempat yang semestinya. Setelah diletakkan, jenazah baru ditutup pakai papan.

Pertama kali bagian kepala yang ditutupi papan, perlahan-lahan ke leher, badan dan kaki. Saat menutup bagian kaki jenazah, papan tampak tidak muat alias tidak pas. Papan terpasang secara menganga dan tidak menempel ke tanah. Keadaan ini membuat orang-orang tidak percaya. Mereka tidak percaya hal ini akan terjadi. Meski bagaimana pun, papan itu harus menyentuh bagian tanah di bawah dan tanah di atas sehingga bisa secara kuat menutup seluruh tubuh jenazah.

Akhirnya, papan dipaksa ditekan pakai kaki. Beberapa saat kemudian terdengar seperti ada suara berbunyi, “Kraaakkk!!! Sepertinya, ada bagian kaki almarhum yang patah setelah papan yang menutupinya diinjak pakai kaki. Oleh keluarganya, hal itu dibiarkan saja. Yang penting, papan-papan itu bisa menutupi seluruh tubuh almarhum dari kepala hingga kaki. Keluarga hanya bisa meratapi sedih atas kejadian-kejadian aneh yang menimpa almarhum mulai dari kafan yang tidak cukup hingga papan yang tidak muat.

Setelah jenazah ditutupi papan barulah ditambal oleh tanah-tanah liat (lempung) untuk merekatkan papan-papan semakin kuat agar binatang tanah tidak masuk dan menggerayangi tubuh kaku almarhum. Setelah itu barulah liang lahad itu diurug (ditutup) dengan tanah. Dalam waktu singkat, jenazah almarhum kiayi Jazuli sudah tak tampak lagi. Yang ada hanya gundukan-gundukan tanah yang sudah menjadi pelindung almarhum dari sengatan sinar matahari atau hawa sejuk di malam hari.

Usai seorang modin memberikan talqin dan membaca doa, akhirnya penguburan jenazah almarhum pun selesai juga sore itu. Sekembalinya dari prosesi pemakaman, tidak sedikit warga yang membicarakan kejadian-kejadian aneh yang mengiringi kematian almarhum. Tidak sedikit yang beranggapan, mungkinkah hal-hal aneh itu merupakan peringatan keras dari Tuhan atas perbuatan almarhum sewaktu hidupnya! Padahal ia seorang kiayi kesohor, mungkinkah hal-hal aneh itu merupakan salah satu bentuk siksaan dunia yang ditimpakan kepadanya.

Sejuta pertanyaan menghinggap di benak para pelayat dan saksi yang melihat kejadian aneh itu. Namun, dari semua itu, yang patut dicatat di sini adalah bahwa kepandaian seseorang dalam hal ilmu agama tidak menjamin ia bisa masuk surga begitu saja. Sebaliknya, orang yang bodoh sekalipun tidak bisa kita mengklaim bahwa ia akan masuk neraka. Semuanya tergantung amal kebaikan yang kita perbuat. Di sinilah peran ibadah dan amal baik itu lebih utama dibandingkan sekedar derajat keilmuwan yang kita miliki. Meski orang yang berilmu dan berakhlak mulia itu jauh lebih mulia derajatnya. Tetapi, dalam kasus pak kiayi Jazuli tersebut, bisa jadi orang miskin dan papa yang rajin beribadah dan berakhlak mulia justru jauh lebih mulia. Karena itu, pandai-pandailah kita beribadah kepada Allah dan berakhlak mulia pada sesama makhluk ciptaan Allah. Amien. (Eep Khunaefi/dimuat Hidayah edisi 87)

Rabu, September 03, 2008

Papan Baru Ditutup JENAZAH SUDAH DISEMUTIN

“Aku tahu bahwa ia jahat selama hidupnya. Tapi, aku tidak menyangka jika ia meninggal dengan begitu mengenaskan. Ini benar-benar di luar nalar manusia. Ternyata siksa Tuhan itu benar-benar nyata. Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, terutama keluarga yang ditinggalkan.”

Demikian pengakuan Karim pada Hidayah dengan terkesima atas kematian tetangganya yang bernama Guntur. Betapa tidak, Guntur sebenarnya seorang lelaki biasa. Tetapi, ia mengakui bahwa tetangganya itu memang punya “hati iblis”. Bayangkan saja, seekor semut yang tidak seberapa cepat jalannya dan makhluk lemah, selalu ia bunuh. Tak perduli, apakah semut itu mengganggunya ataukah tidak. Baginya, semut adalah binatang menjijikkan yang harus dibasmi dari muka bumi.

“Sebagai tetangga, aku pernah mengingatkannya agar jangan menyakiti binatang peliharaan Allah, apalagi semacam semut. Tetapi, ia tak pernah memperdulikannya,” ujar Karim.

Kini, setelah tetangganya itu meninggal dengan kondisi mengenaskan yaitu seluruh tubuhnya disemutin, barulah ia sadar bahwa semua ini akibat ulah yang diperbuatnya saat masih hidup yaitu suka membunuh semut. Kepada Hidayah, Karim pun bicara blak-blakan seputar kisah Guntur sewaktu hidupnya.

Penjual Mainan Anak-anak
Sebagai sosok suami dari Saidah dan bapak dari Asep, Guntur sebenarnya adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Ia berdagang mainan anak-anak yang dijajaginya dengan naik sepeda keliling. Meski pedagang kecil, tetapi jika sehari bisa terjual 10 saja dari mainan anak-anak itu, keuntungan yang diraih Guntur cukup besar. Atas dasar inilah, ia terus melakoni profesi ini selama bertahun-tahun.

Sebagai istri, Saidah sendiri menyadari akan hal itu. Yaitu, suaminya adalah sosok yang bertanggung jawab. Meski profesi itu susah dilakoninya, sang suami tetap “kerasan” dengannya. Dari sisi inilah, ia menilai Guntur adalah seorang lelaki yang hebat dan luar biasa.

Saidah boleh saja berbangga hati pada Guntur karena keuletannya bekerja, tapi ia lupa pada satu hal. Guntur suka membunuh semut di mana saja ia temui. Entahlah, ia punya sindrom apa terhadap binatang yang satu ini. Yang jelas, kata Karim, Guntur pernah disengat semut saat ia sedang asyik-asyiknya tidur. Sejak itulah, ia dendam pada semut.

“Yang saya tahu, ia lagi enak-enaknya tidur, belum lama ia terkantuk, ada semut yang menyengatnya. Ia terbangun dan langsung membunuh semut itu. Akibat sengatan semut itu, ia tidak bisa tidur lagi malam itu. Mungkin karena itulah, ia jadi pendendam pada semut,” ujar Karim.

Tidak masuk akal memang, gara-gara disengat semut ia harus menjadi pendendam pada binatang ini. Toh, yang salah satu semut, kenapa semut-semut yang lain yang menjadi korban. Ibarat kata awalnya kita hanya membenci satu orang, tetapi berubah menjadi benci pada semua orang. Tentu saja, tidak boleh. Jika ia tetap melakukannya, maka orang itu dianggap “gila”.
Begitulah Karim, di mata Saidah ia sosok yang bertanggung jawab, tapi belum tentu di mata Allah karena ia suka membunuh binatang yang semestinya kita pelihara.

Karim pernah punya pengalaman menjijikkan dengan Guntur di suatu waktu. Saat mereka duduk di bawah pohon kelapa lewat beberapa ekor semut di depannya sambil menarik-narik makanan yang sebenarnya ukurannya lebih besar dari tubuh mereka. Sepontanitas Guntur menginjakkan kaki kanannya ke semut-semut itu hingga mereka mati seketika. “Aku menegurnya langsung saat itu. Tapi, ia malah bangga dengan perbuatannya,” ujar Karim.

Begitulah setiap kali Guntur melihat semut. Bahkan, dengan bangga dan emosinya, ia sambil berkata, “Rasain lu binatang!” “Kurang ajar lu binatang” “Mampus lu binatang!” dan sumpah serapah lainnya.

Melihat postur tubuhnya yang besar dan kekar, tidak sepantasnya Guntur melakukan hal yang dilarang Allah tersebut. Mestinya ia memanfaatkan keberaniannya itu untuk melawan penjahat yang sering mangkal di lampu-lampu merah atau di tempat-tempat lain. Apalagi, ia berewok yang semakin mengesankan kalau dirinya merupakan sosok yang gagah. Maka, sepantasnya ia gunakan segala kelebihan itu untuk menangkap para penjahat. Tetapi, di balik postur tubuhnya yang gagah tersebut, ternyata ia bernyali kecil karena beraninya sama semut.

Meski bagaimana pun binatang tetap harus kita lindungi. Bukankah ada suatu kisah di zaman dulu di mana seorang pelacur masuk surga hanya karena ia memberikan minuman pada seekor anjing yang kehausan, padahal ia sendiri sedang mengalami hal yang sama. Ini artinya, bahwa binatang juga bisa menjadi jaminan kita masuk surga ataukah tidak. Meski kita setaat apapun pada Allah, tetapi kita punya hati jahat dengan suka membunuh binatang yang dilarang Allah untuk membunuhnya, maka ibadah kita akan sia-sia saja. Di sinilah saling keterkaitan hidup kita ini.

Tetapi, Guntur sangat lupa akan hal ini. Apalagi, ia juga orangnya jarang shalat. “Aku melihatnya jarang sekali shalat. Ia selalu punya alasan untuk tidak mengerjakannya. Yah belum dapat hidayah lah. Yah masih muda lah dan semacamnya,” ujar Karim.

Guntur tidak sadar bahwa usianya telah menginjak 40 tahun. Usia di mana seseorang telah memasuki separuh dari perjalanan hidupnya di dunia, jika kita bersandar pada usia Nabi Muhammad yaitu 60 tahun. Seharusnya ia lebih mempersiapkan dirinya untuk bertaubat pada Allah. Meski, kita tak pernah tahu kapan ajal itu tiba, tetapi saat usia kita telah 40-an, mestinya harus sadar bahwa kematian sebentar lagi merenggut kita.

Guntur sama sekali tak perduli dengan usianya saat itu, yang sudah 40-an tahun. “Aku malah sering mendengar dari dia kalau ia masih muda dan masih gagah. Nanti saja usianya kalau sudah 60 tahun baru bertaubat,” ujar Karim.

Ternyata ajal Guntur di luar dari perkiraannya sendiri. Di usia itulah ia justru meregang nyawa, jauh dari prediksinya yaitu melampaui usia 60 tahun. Ia meninggal karena terbunuh dalam suatu perkelahian. Saat nonton panggung hiburan dangdut di kampungnya, dalam keadaan mabuk ia bersenggolan dengan seorang jagoan ketika sedang berjoget. Sang jagoan murka dan memukulinya. Guntur melawannya dengan menangkis serangan-serangannya. Tetapi, sang jagoan mengeluarkan belati dari balik bajunya dan menancapkannya ke dada Guntur. Seketika itu juga Guntur meninggal. Sang jagoan sendiri akhirnya tertangkap dan masuk sel selama beberapa tahun.

Kematian Guntur menggegerkan warga. Apalagi bagi Saidah dan anak semata wayangnya, mereka menangis histeris melihat tubuh orang yang disayanginya meregang nyawa dengan belati tertancap di dadanya. Mungkin di pikiran Saidah, siapa lagi yang kelak menghidupi dirinya dan anak satu-satunya! Siapa lagi dan siapa lagi?

Jenazah yang Berat
Jenazah Guntur lalu ditandu untuk dikuburkan setelah sebelumnya dimandikan, dikafani dan dishalatkan. Dengan tubuh gempal dan rambut sebahu, berat Guntur sebenarnya hanya 60 kilo. Logikanya, jika dibopong (diangkat) dengan empat penandu kurung batang, maka dengan mudahnya mereka bisa melakukannya. Tetapi apa yang terjadi? “Tubuhnya berat sekali diangkat seperti beban 120 kilo,” ujar Karim.

Berat tubuh Guntur menjadi dua kali lipat dari berat yang sebenarnya. Mungkinkah ini karena dosa-dosanya yang membuat tubuhnya menjadi lebih berat! Ataukah karena faktor lain. Sebagian orang banyak yang menyangka demikian, meski sebagian lain tidak mempercayainya terutama dari kalangan keluarganya sendiri.

Meski berat, jenazah Guntur harus segera dibawa ke kuburan. Pagi hari, sekitar jam 10.00 WIB, jenazah almarhum pun dibawa ke kuburan. Empat penandu jenazah bertubuh besar dan kekar membawa tubuh almarhum. Gema dzikir mengiringi keberangkatan mereka ke kuburan.

Di tengah jalan keanehan kembali terjadi. Tandu jenazah seperti ada yang menarik ulur, sehingga orang yang di depan merasa orang belakang menarik tandu itu. Sedang orang di belakang tidak merasa melakukannya. Akhirnya mereka satu satu sama lain saling menuduh.
Tetapi, teka-teki itu kemudian terjawab kalau semua ini merupakan suatu peristiwa di luar nalar mereka. Artinya, yang membuat jenazah Guntur seolah ada yang menarik ke belakang lalu ke depan sebenarnya adalah sesuatu yang gaib yaitu dosa almarhum sendiri.

Empat penandu jenazah bermandikan peluh. Mereka benar-benar dibuat tersiksa oleh almarhum. Belum lagi di dalam kubur, di dunia saja sudah diperlihatkan oleh Allah kesukaran jenazah ini. Subhanallah!

“Saat aku melihat tubuh Guntur diangkat berat aku terkesima. Aku semakin tidak percaya lagi ketika tubuhnya seperti ada yang menarik ke depan dan ke belakang saat di tandu. Wah, ini benar-benar di luar nalar manusia,” ujar Karim yang hingga kini masih merinding jika mengingat kejadian itu.

Saking beratnya, mereka pun seperti tertatih-tatih membawa jenazah Guntur. “Lama sekali sampainya, Mas,” ujar Karim pada Hidayah. Seyogyanya, jenazah bisa sampai di kuburan sekitar setengah jam, tapi kali itu mereka harus membutuhkan satu jam lebih untuk bisa membawa jenazah Guntur ke pemakaman. Ini benar-benar tak masuk akal.

Makai sampailah iring-iringan jenazah Guntur di kuburan. Sanak keluarga berkumpul di sekitar tanah gundukan yang di sampingnya ada lubang besar dan panjang, tempat kelak tubuh almarhum dimasukkan. Sementara yang lainnya berdiri merapat di belakang mereka.

Tiga orang lalu turun ke bawah. Sejurus kemudian tubuh kaku Guntur diangkat dan dimasukkan ke liang lahad. Seiring dengan itu, tampak wajah Saidah tak kuasa menahan derai air mata. Ia masih tidak percaya jika suaminya meninggal dalam usia yang masih muda dan dalam kondisi mengenaskan lagi yaitu terbunuh dalam suatu perkelahian dengan pemuda berandalan di sebuah pesta dangdut.

Papan Patah, Tubuh Disemutin
Usai jenazah Guntur ditaruh dengan posisi miring, mereka menutupinya dengan papan-papan. Satu persatu papan-papan itu menutupi tubuhnya dari mulai kaki hingga kepala. Tetapi, papan terakhir yang menutupi bagian kepala ternyata ukurannya tidak pas.

Salah seorang anak almarhum yang kebetulan turun ke bawah yang masih duduk di SMP kemudian mengepaskannya dengan menekan-nekan papan itu. Karena tetap tidak muat, akhirnya sang anak itu terpaksa menekannya sekuat tenaga. Tanpa disadarinya, papan itu patah. Tangan sang anak pun masuk ke dalam.

Ketika ditarik kembali, tangan sang anak sudah dikerubutin semut. Betapa kagetnya ia! Secepat kilat ia membersihkan tangannya yang bersemut itu dengan tangannya. Kejadian ini pun membuat orang-orang sekitar terkesima. Bagaimana tidak, baru saja jenazah Guntur ditutupi papan, tapi kejadian aneh ini sudah muncul?

Pak kiayi yang kebetulan hadir saat itu memerintahkan orang-orang yang di bawah segera menarik atau membuka kembali papan-papan yang menutupi seluruh tubuh almarhum. Setelah itu mereka diperkenankan naik dulu ke atas. Ia dan juga orang-orang penasaran sebenarnya apa yang sedang terjadi. Setelah dibuka papan-papan itu, maka tampaklah jelas kebesaran Allah, ternyata tubuh almarhum sudah dikeroyok oleh semut-semut yang menjijikkan mulai dari kaki hingga kepala. Padahal, belum saja satu jam tubuh almarhum berada di kuburan, bahkan masih dalam hitungan menit.

Fenomena aneh ini pun tentu saja membuat sanak keluarga almarhum menangis histeris. “Duh gusti, kenapa Engkau timpakan siksaan seberat ini pada suamiku!” jerit Saidah sambil menengok ke bawah yakni ke arah jenazah suaminya. Pak kiayi segera menepuk-nepuk punggung Saidah untuk bersabar. Tak ketinggalan, Asep, anak almarhum yang ikut langsung menguburkan jenazah bapaknya pun ikut menangis.

Pak kiayi lalu memerintahkan orang-orang yang hadir untuk berdoa kepada Allah agar segera melenyapkan semut-semut itu dari tubuh almarhum. Tetapi, semut-semut itu tak juga kunjung hilang, bahkan semakin menggerinyet menunggangi tubuh almarhum. Sementara itu keadaan semakin gelap karena sore hari.

Akhirnya pak kiayi pun memberikan keputusan di luar dugaan. Ia memerintahkan orang-orang turun kembali ke bawah untuk segera mengangkat tubuh almarhum lalu dibersihkan. Tiga orang turun dan segera mengangkat tubuh almarhum ke atas. Setelah itu, tubuh almarhum dibersihkan dari semut-semut yang menjijikkan dengan cara dikibas-kibas pakai kerudung dan ranting yang berdaun. Seizin Allah, semut-semut itu pun pergi meninggalkan tubuh almarhum.

Setelah itu, tubuh almarhum dimasukkan kembali ke liang lahad. Papan-papan yang tadi diangkat pun ditaruh kembali. Sementara untuk mengganti papan yang patah, dicari kayu seadanya di sekitar kuburan. Yang penting, bisa menutupi seluruh tubuh almarhum. Setelah itu, tidak ada lagi kejadian yang aneh.

Mereka pun pulang ke rumah masing-masing menjelang maghrib. Seketika berita ini menjadi perbincangan banyak orang. Sementara keluarga almarhum masih diliputi duka yang mendalam. Untuk beberapa saat, mereka tidak berani menampakkan mukanya di luar karena malu. Tetapi, di sisi lain, Ibu Saidah dan sanak keluarga yang lain tiba-tiba menjadi insaf. Beberapa saksi melihat Ibu Saidah mulai rajin menjalankan ibadah shalatnya di rumah, tak seperti sebelumnya.

Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Begitu juga, segala perbuatan pasti ada akibatnya. Guntur yang sewaktu hidupnya suka membunuh semut dengan sengaja akhirnya diperlihatkan oleh Allah saat kematiannya yaitu tubuhnya dikerubungi semut dalam beberapa menit setelah peletakkan jenazahnya di kuburan. Ini sebuah kejadian dahsyat yang tidak bisa dicerna oleh akal, selain kita mengimani bahwa segala perbuatan baik atau buruk itu pasti ada balasannya, langsung atau ditunda di kemudian hari.

Karena itu, pandai-pandailah kita menyayangi sesama termasuk binatang sekalipun. Sebab, mereka pun punya hak hidup seperti kita. Jadi, janganlah kita ganggu ketenteraman hidup makhluk lain, apalagi sampai membunuhnya kecuali yang diizinkan oleh Allah. Wallahu a’lam bil shawab. (Eep Khunaefi/di Hidayah edisi 86 cerita ini dijadikan Cerita Cover)

Rabu, Agustus 27, 2008

TAUBATNYA PELACUR KELAS KAKAP

Menjual barang dagangan sebagai profesi hidup itu sangat baik, bahkan amat dianjurkan oleh agama. Bagaimana jika ia menjual diri? Profesi pelacur alias menjual diri jelas sangat tidak boleh dan diharamkan oleh Allah. Dengan dalih apapun, profesi haram ini tidak boleh dilakoni. Tidak saja merupakan aib bagi masyarakat tapi juga dilaknat oleh Allah. Kecuali ia bertaubat dan bersungguh-sungguh untuk tidak kembali lagi kepada jalan yang salah, Allah pasti akan mengampuninya.

Kisah berikut ini salah satu contohnya. Ia adalah seorang pelacur kelas kakap pada masanya. Mulai dari kalangan biasa hingga pejabat pernah menjadi langganannya. Kemudian ia bertaubat dan menginsyafi segala perbuatannya setelah bertemu dengan seorang tentara yang saleh dan baik hati. Kini, ia menghabiskan sisa hidupnya dengan banyak mengikuti pengajian dari satu mushala ke mushala lain. Subhanallah!

Sebut saja namanya Intan. Sebagai seorang perempuan ia sebenarnya sangat beruntung. Wajahnya cantik dengan tubuh semampai dan berkulit kuning langsat. Di antara tiga saudaranya yang perempuan dari lima bersaudara, ia termasuk anak yang paling cantik. Ia pun menjadi kejaran banyak lelaki mulai dari mengajaknya kencan, iseng-iseng saja hingga menikah.

Salah satu lelaki yang beruntung mendapatkan Intan adalah Anto. Sebagai lelaki, Anto sebenarnya tidak memiliki keistimewaan apapun, selain hanya wajah lumayan ganteng, badan tinggi dan kekar serta kulit yang agak kuning. Selebihnya, dia tidak memiliki kelebihan apapun untuk bisa dibanggakan. Sekolah saja hanya lulusan SD.

Entahlah, rayuan apa yang dikeluarkan oleh Anto kala itu sehingga bisa menaklukkan hati Intan. Padahal, pada saat yang bersamaan, ada laki-laki lain yang sebenarnya lebih mapan dan berpendidikan hendak meminangnya. Mungkin begitulah jodoh!

Intan akhirnya menikah dengan Anto. Bulan-bulan pertama pernikahan, mereka begitu bahagia hingga mereka memiliki anak yang gemuk, sehat dan kulitnya kuning seperti ibunya. Dari ronanya, anak yang kemudian diberi nama Zaenab tersebut sepertinya hendak mewarisi kecantikan ibunya.

Intan dan Anto melalui hari-harinya pun dengan sangat bahagia, hingga kemudian persoalan penting muncul. Anto yang sejak awal menikahi Intan berjanji akan menjadi suami yang baik mulai berubah. Ia mulai suka keluar malam dan bergaul dengan teman-teman yang tidak baik. Itu tidak menjadi persoalan jika Anto adalah lelaki yang bertanggung jawab. Anto adalah suami yang pengangguran.

Sebelum punya anak, Intan masih memakluminya jika suaminya belum bekerja. Sebab, mencari pekerjaan itu tidak gampang. Tapi, sang bayi telah lahir dan itu membutuhkan asupan makanan yang lebih banyak untuk menunjang keluarga mereka termasuk susu buat bayi dan sebagainya. Rupanya Anto tidak mengerti akan hal ini. Ia malah lebih senang berada di luar, hingga ia terjebak dalam pesta mabuk-mabukan bersama teman-temannya.

Pada puncaknya, Intan tidak tahan lagi tepatnya saat Zaenab berusia tiga tahun. Kehadiran suami tidak membawa berkah apapun –malah menyusahkan dan merepotkan. Sebab, sudah tidak bertanggung jawab tapi kebutuhannya masih ingin dipenuhi seperti menyucikan pakaiannya, memenuhi hasrat seksnya dan sebagainya.

Intan akhirnya bercerai dengan Anto dengan sebuah perpisahan yang tidak mengenakkan alias tidak baik. Zaenab ikut pada ibunya, sementara Anto hidup sendiri dan kembali pada orang tuanya.

Sejak bercerai, kehidupan Intan tidak berangsur baik. Salah satu kelemahan Intan adalah ia tidak terdidik dalam sebuah keluarga yang taat beragama. Ia memang beragama Islam, tapi dalam keluarganya shalat seperti sebuah aktivitas yang asing mereka lakukan.

Dalam kondisi seperti itu, Intan dituntut oleh keadaan yang mengharuskan dirinya punya uang untuk menghidupi anak semata wayangnya, Zaenab. Keadaan ini pun dimanfaatkan oleh makhluk paling durjana di muka bumi yaitu setan. Rayuan setan berhasil merasuk ke dalam otaknya.

Intan bertemu dengan seseorang yang kemudian menawarkannya pekerjaan gampang, nikmat, mendatangkan uang banyak tapi dilaknat Tuhan yaitu pelacur. Awalnya, Intan tentu saja menolak. Tapi, setan terus merayunya. Akhirnya, dorongan ekonomi yang awut-awutan membuatnya terpaksa menentukan pilihan terpahit dalam hidupnya yaitu menjadi pelacur.

Awal-awal menjalani profesinya, Intan masih ogah-ogahan. Tapi, setelah ia sudah kenal uang banyak dari pelanggan yang menikmati tubuhnya yang aduhai, ia pun mulai menikmati profesinya itu. Masa gelap telah berlalu, saatnya tiba hari yang terang benderang bagai bintang gumintang bergantung di angkasa pada malam hari.

Dengan kecantikan memesona setiap lelaki manapun, petualangan cinta terlarang Intan semakin luas saja. Awalnya, lelaki biasa berkantong tipis yang datang, tapi lama-kelamaan pejabat juga kepincut olehnya. “Dalam pengakuannya ada salah satu pelanggannya yang merupakan seorang pejabat,” ujar Kholik, yang merupakan tetangga Intan itu.

Intan semakin terkenal saja sebagai pelacur kelas kakap. Petualangannya pun tidak lagi di tempat-tempat murahan tapi hotel berbintang dan tempat-tempat mewah. Uang pun semakin banyak masuk ke kantongnya. Meski begitu, Intan masih senang hidup ngekos. Ia berpisah dengan saudara-saudaranya karena mereka juga mulai membenci dirinya yang berpofesi sebagai pelacur.

Kost Intan berada di Jl. Lima. Suatu kali Jl. Lima kedatangan seorang tentara yang dapat tugas dari pemerintah di daerah itu dan sekitarnya. Ia ngekost persis di depan kost Intan. Jl. Lima memang berdiri banyak kost. Maklum, daerah di situ merupakan kawasan wisata sehingga bisnis kost-kostan ini termasuk menggiurkan.

Kost Intan dan kost tentara itu hanya dibatasi oleh jalan lima itu sendiri. Intan pergi bekerja setiap jam 18.00 WIB, sedang tentara yang ternyata bernama Halim itu selalu pulang dari tugasnya jam 18.00. Jadi, saat Intan pergi Halim pulang. Mereka pun kerapkali berpapasan di Jl. Lima tersebut.

Sebagai seorang lelaki, wajah Halim sebenarnya tidak terlalu jelek. Kulitnya sawo matang khas warna kulit melayu dan tubuhnya lumayan kekar. Tapi, kelebihan Halim sebagai lelaki adalah ia anak yang saleh. Shalatnya rajin dan berasal dari keluarga yang taat beragama. Meski kedua orang tuanya bukan kiayi atau ustadz, tapi mereka sudah berhaji. Jadi, agama benar-benar tertanam dalam keluarga Halim.

Halim termasuk orang yang murah senyum. Ia juga tidak arogan, meski dirinya seorang tentara. Setiap kali bertemu dengan orang ia selalu menyapanya dan tersenyum. Begitu juga saat pertama kali bertemu dengan Intan. Ia menundukkan tubuhnya sambil tersenyum, meski mereka tidak saling kenal. Intan pun demikian. Ia membalasnya layaknya orang yang sedang disapa.

Begitulah hari-hari seterusnya. Mereka seringkali berpapasan saat Halim pulang dari kerjanya dan Intan pergi untuk menjual diri. Makin lama Halim penasaran dengan ulah Intan yang seringkali pergi saat adzan Maghrib bergema. Awalnya ia menyadari mungkin Intan sedang datang bulan, tapi hal itu berkali-kali ia melihatnya. Penasaran ingin tahu lebih banyak tentang sosok Intan pun tertanam dalam pikiran Halim. Apalagi ditambah wajah Intan yang cantik, membuat Halim penasaran ingin mengetahui sosok perempuan itu lebih jauh.

Intan sendiri sebenarnya mulai penasaran dengan sosok tentara itu. Setiap kali bertemu, lelaki itu sopan sekali dan selalu mengumbar senyum kepadanya. Senyumnya yang manis begitu menggodanya. Dalam hatinya pun sebenarnya ingin berkenalan dengan Halim. Tetapi, merasa kelasnya sudah tinggi sebagai pelacur ia pun gengsi. “Jika ia butuh, nanti juga datang.” Begitu pikir Intan saat itu.

Betul saja, Halim akhirnya bertandang ke kost Intan di suatu siang hari –kebetulan Halim sedang tidak bertugas dan Intan sendiri kalau siang ada di rumah. Intan pun merasa menang ketika melihat Halim datang bertamu ke kostnya.

Mereka pun ngobrol dengan bebas. Halim memperkenalkan dirinya, begitu pun Intan. Pertemuan pertama di kost Intan itu dilalui Halim dengan lancar. Ia pun mulai tahu siapa Intan. Di mata Halim, Intan adalah sosok gadis yang lembut, tidak nakal, dan sopan.

Halim rupanya tertipu oleh penampilan anggun Intan saat itu. Ia tidak sadar bahwa ia sebenarnya sedang berhadapan dengan seorang pelacur kelas kakap yang suatu saat bisa saja menyantapnya habis-habisan.

Pertemuan pertama di kost Intan itu pun sangat membekas di hati Halim. Hal ini membuatnya ketagihan. Saat ia tidak ada tugas, ia pun menyempatkan diri bertamu ke kost Intan. Intan sendiri menyambutnya dengan hangat. Sebab, dalam hati Intan sendiri sebenarnya sudah menaruh rasa kagum sama Halim. Gagah, sopan, murah senyum, dan baik hati. Setiap perempuan pasti suka kepadanya.

Suatu ketika Halim bertamu kembali. Entahlah, ini pertemuan yang ke berapa. Rupanya, pada pertemuan kali ini Halim ingin mengutarakan sesuatu. Jika tidak, itu akan membuat hatinya tersiksa.

“Tan. Aku sudah mengenalmu cukup jauh meski baru beberapa kali bertemu. Aku suka padamu. Aku cinta pada-Mu, Tan.” Ujar Halim blak-blakan penuh keberanian.

Mendengar ucapan cinta yang spontan dari Halim, Intan pun kaget. “Kamu belum tahu lebih banyak tentang saya. Kamu pasti menyesal nanti.” Ujar Intan yang mulai b erusaha terus terang.

“Bagi saya itu sudah cukup.” Jawab Halim.

Merasa tidak ingin menipu Halim, Intan pun berterus terang kalau dirinya sebenarnya seorang pelacur. Telah banyak lelaki yang masuk dalam perangkap kecantikannya. Selama ini dirinya tidak terlalu serius menanggapi Halim –meski dalam hatinya juga kagum, itu karena profesinya yang seorang pelacur.

Halim sangat kaget dan nyaris tidak percaya. Apalagi, setelah ia tahu bahwa Intan juga sudah punya anak yang kini bersama kedua orang tuanya di rumah.

Usai mendengar kejujuran Intan, Halim pun minta pamit. Ia kembali ke kostnya. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan Intan. Ia menyesali nasib yang digariskan Tuhan untuk Intan. Kenapa orang secantik Intan harus menjadi seorang pelacur? Apa sebabnya? Kenapa pula ia harus ditakdirkan bertemu dengan perempuan kotor seperti dia?

Halim benar-benar tersiksa batinnya. Ia pun bangkit dari duduknya dan mengambil air wudhu. Di atas sajadah ia mengumandangkan takbiratul ihram dan bersedekap. Rupanya ia sedang menunaikan shalat istikharah untuk mendapatkan jawaban rasa gelisah yang menerpanya begitu kuat.

Berhari-hari ia melakukannya, hingga kemudian ia mendapatkan sebuah jawaban yang baginya itu adalah yang paling benar –meski keluarganya mungkin akan menolaknya. “Halim sudah terlanjur kepincut dan jatuh hati kepada Intan. Ia ingin menikahi perempuan itu,” ujar Kholik.

Halim segera bangkit dari lamunannya. Shalat istikharah membuatnya memiliki satu jawaban pasti untuk segera menyelamatkan Intan dari jalan yang salah. Kini, ia tidak lagi mengejar kecantikan Intan untuk dijadikan istri, tapi lebih pada persoalan dakwah Islam. Menikahi Intan sama saja dirinya sedang berdakwah, mengajak orang kembali kepada jalan yang diridhai Allah.

Suatu kali Halim datang kembali ke kost Intan dan menyatakan kesungguhannya untuk menikahinya. Tapi, Intan tidak langsung menjawab. Ia meminta waktu untuk berpikir dan merenung. Jika saat itu tiba, ia pasti akan mendatangi kost Halim dan memberikan jawabannya.

Benar saja. Intan lalu mendatangi kost Halim pada malam hari. Malam itu sengaja ia tidak bekerja demi seorang tentara yang telah mengusik hatinya beberapa hari ini. Melihat Intan datang, Halim kaget. Di depan Halim, Intan pun menanyakan kembali keseriusan Halim untuk menikahinya, “Kamu yakin ingin menikahi saya dan mau menerima saya apa adanya.”

“Yakin, Tan.”

“Saya minta syarat. Jika kelak kita berumah tangga, kamu jangan mengungkit-ungkit masa lalu saya.”

Halim setuju dengan syarat yang diajukan Intan. Mereka pun akhirnya menikah. Sejak itu, Intan meninggalkan profesinya yang sebenarnya sedang berada di puncak dan mendatangkan uang banyak. Ia lebih memilih Halim, seorang tentara baik hati dan saleh yang telah menaklukkan hatinya. Padahal, sebelumnya sudah banyak lelaki yang serius ingin menikahi Intan meski ia seorang pelacur. Tetapi, Intan selalu menolaknya. Pada seorang tentara bernama Halim ini, ia melabuhkan cinta terakhirnya dalam sebuah mahligai pernikahan yang indah.
Masya Allah!

Halim tampak bahagia usai menikahi Intan. Tugasnya untuk menyelamatkan Intan dari jalan yang salah akhirnya berhasil. Pertentangan dari keluarga Halim seperti diduga sebelumnya ternyata tidak ada. H. Ismail dan Hj. Aisyah, orang tua Halim, menyadari keinginan Halim untuk menikahi Intan karena sebuah tugas yang mulia itu. Mereka pun meridhai pernikahan anaknya dengan seorang pelacur itu.

Kini, Intan menjadi istri yang bertanggung jawab. Halim sendiri sekarang telah pensiun dan menjadi purnawirawan. Perkawinan Halim dan Intan tidak dikaruniai anak hingga sekarang. Zaenab sendiri sudah besar dan sedang kuliah di sebuah universitas swasta terkenal di luar Jawa.

Perubahan yang paling kental dari Intan setelah dinikahi Halim adalah ia suka pergi dari satu mushala ke mushala lain di kampungnya untuk mengikuti pengajian. Kesungguhan Intan untuk bertaubat ini diamini oleh banyak warga. Halim tidak saja berhasil membawa Intan dari jalan yang salah tapi juga telah sukses menanamkan benih-benih agama yang baik pada Intan.
Mereka benar-benar telah menjadi keluarga bahagia, apalagi Zaenab kini telah menjadi seorang mahasiswi yang berprestasi dan berkali-kali mendapatkan beasiswa dari kampusnya. Sebuah akhir hidup yang manis dan enak untuk dikenang.

Demikian kisah tentang seorang pelacur kelas kakap yang mendadak insyaf dan meninggalkan pekerjaannya setelah bertemu dan diajak menikah oleh tentara yang saleh dan bertanggung jawab. Semoga kita bisa belajar dari kisah ini! Amien. (Eep Khunaefi/dimuat Hidayah edisi 83/Juli/2008)

Kubur yang Terbakar

“Dan janganlah seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (WS. Al-Hasyr: 19)

Kisah manusia di dunia ini memang ragam bentuknya. Yang jelas, dari seluruh kisah itu pasti ada nilai baik dan buruknya. Salah satunya kisah berikut ini. Kisah ini terjadi di daerah Jawa tentang seorang pengangguran yang suka menghasut orang. Akhir kisahnya pun bisa kita tebak. Ia meninggal dengan kondisi yang memprihatinkan. Yang lebih miris lagi, kuburannya mengeluarkan api selama berjam-jam. Untuk menjaga citra baik keluarga, semua nama pelaku dan tempat dalam kisah ini sengaja kami samarkan. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini! Amien.

Sebut saja namanya Kendil. Dari tampangnya ia seperti perpaduan antara Maradona karena tubuhnya yang pendek dan Andi Mallarangeng karena ia berkumis. Agak gagah memang. Kondisi inilah yang membuat Karsem kepincut hati pada sosoknya. Gak mau berlarut-larut pacaran, mereka pun sepakat mengikat janji dalam suatu ikatan perkawinan.

Impian besar akan terbentuknya keluarga sakinah pun terpampang di depan Karsem yang lumayan cantik ini. Satu-persatu impian itu mulai tumbuh ketika seorang anak laki-laki buah perkawinannya lahir ke dunia. Apalagi, setelah tahu bahwa anak yang kemudian diberi nama Jalil itu berkulit kuning, imut, dan gagah. Kesenangan pun semakin mewarnai kehidupan Kendil dan Karsem setiap harinya.

Sebagai laki-laki, Kendil ingin menunjukkan dirinya sebagai bapak dan suami yang bertanggung jawab di depan Karsem. Sejak Jalil lahir, ia pun mulai mengojek. Motor hasil pemberian kedua orang tuanya pun dijadikan “budak”nya untuk mencari sesuap nasi.

Sebagai istri, Karsem tentu merasa senang akan perubahan yang terjadi pada Kendil. “Anak membawa rejeki,” seperti kata agama ternyata memang benar. Kehadiran Jalil ternyata telah mengusik kedewasaan Kendil sebagai seorang laki-laki. Ia yang dulunya nganggur, tiba-tiba berubah menjadi seorang tukang ojek. Kerja rendahan memang, tapi ini sudah cukup membuat Karsem bangga. Setidaknya, setiap hari Karsem masih ada harapan untuk menerima lima ribu atau sepuluh ribu rupiah dari hasil kerja keras suaminya.

Jalil pun tumbuh dengan baik. Asupan asi yang baik dari sang ibu ditambah bubur bergizi yang setiap saat dimakannya, membuat tubuh Jalil cepat besar. Seiring dengan itu, Kendil pun tampak semakin terlihat rajin mencari uang dengan ojekannya. Apalagi, setelah beberapa tahun kemudian anak kedua lahir dan berturut-turut anak ketiga dan keempat lahir, Karsem pun tampak semakin bahagia. Rencana membina Keluarga Berencana (KB) dengan dua anak memang gagal, tapi hal itu tetap membuatnya sangat bahagia.

Hari demi hari Kendil dan Karsem serta keempat anaknya mengarungi hidup ini penuh kebahagiaan sebelum kemudian sesuatu terjadi pada Kendil. Kendil ternyata dililit hutang yang cukup banyak. Rupanya selama mengojek, ia kerapkali berjudi dengan teman-teman seprofesinya. Selama judi itulah ia kerapkali kalah, sementara kegiatan haram ini tak bisa ditinggalkannya. Ia pun berhutang ke sana-kemari hanya untuk bisa berjudi. Hebatnya, uang hasil ojekannya selalu bisa ia simpan lalu diberikan kepada istri dan anak-anaknya. Sehingga selama itu Karsem pun tak pernah menyadari kalau suaminya itu punya banyak hutang di luar.

Puncaknya, untuk menutupi hutang-hutangnya Kendil terpaksa menjual motornya. “Mungkin rejeki saya bukan di sini, Mah,” ujar Kendil beralasan kala itu. Karsem sendiri saat mendengar suaminya punya hutang banyak sangat murka. Bagaimana tidak? Ternyata selama ini suaminya memberikan kebahagiaan semu kepadanya dan anak-anaknya. Kembali dari mengojek selalu membawa uang, ternyata di luar sebenarnya punya banyak hutang. Ini sama saja membunuh dirinya secara perlahan-lahan.

Tapi, Karsem memaafkan ulah Kendil dengan harapan suaminya itu mau berubah. Apalagi, Kendil pernah berucap, “Mungkin rejeki saya bukan di sini.” Maksudnya, mungkin rejeki suaminya bukan dari ojek lagi, tapi di luar. Karsem pun percaya bahwa sang arjunanya pasti bisa mendapatkan pekerjaan baik setelah tidak mengojek lagi karena motornya dijual. Apalagi ia punya anak empat, pasti suaminya itu akan bertanggung jawab. Meski bukan buat dirinya, setidaknya buat anak-anaknya.

Satu hingga dua bulan Karsem menunggu aksi Kendil selanjutnya. Ternyata keadaan tidak berubah. Kendil masih saja menganggur, sementara keadaan anak-anak sudah semakin besar. Kendil yang tak punya keterampilan dan hanya lulusan SD ini pun sulit mencari pekerjaan selain mengojek, apalagi berharap punya kerja kantoran.

Ironinya, Kendil seperti merasa tidak bersalah. Ketidakberdayaannya untuk bisa menghidupi istri dan anak-anaknya ditanggapinya sebagai takdir Tuhan. Sebuah pemahaman yang salah. Tuhan sendiri tidak pernah mau merubah nasib umatnya jika mereka sendiri tidak pernah mau merubahnya. Kendil tidak pernah menyadari akan hal ini. Dan Kaserm, sebagai istri, pun berkali-kali mengingatkan dan menyadarkannya agar lebih bertanggung jawab kepada dirinya dan anak-anaknya.

Dasar pemalas, mau diapa-apakan juga susah! Kendil semakin terbuai dengan penganggurannya. Apalagi, setelah ia menyadari bahwa kedua anaknya, Jalil dan Dahliah, telah bekerja dan sebagian hasil kerjanya diberikan buat kedua orang tuanya. Kendil pun semakin dibuatnya terbuai dengan ketidakberdayaannya itu.

Usia kendil masih muda sekitar 45 tahun. Jadi, tak ada alasan baginya untuk tidak bekerja, meski kedua anaknya telah mandiri. Sebab, ia masih punya dua anak lagi yang sedang duduk di kelas SD dan TK. Mereka berdua masih butuh kasih sayang bapak dan ibunya. Tanpa memiliki uang yang cukup, bagaimana Kendil bisa memenuhi kasih sayangnya sebagai orang tua?
Keadaan seperti ini diperparah oleh sikap Kendil yang suka menghasut tetangganya. Sudah miskin penghasilan, miskin hati pula. Begitulah keadaan Kendil yang sebenarnya!
Ketidakberdayaan untuk mencari pekerjaan, ternyata membuat pikiran Kendil tertutup pada kebaikan. Ia hanya bisa iri pada tetangga-tetangganya yang sukses dengan penghasilan yang memadai.

“Ia suka mengatakan yang A dengan B dan yang B dengan A,” ujar Nadim, tetangga Kendil.
Begitulah yang dilakukan Kendil setiap hari. Sebagai istri, Karsem kerapkali mengingatkan suaminya agar jangan berpikir macem-macem pada orang lain karena tidak baik menurut agama. Sudah terbukti saja tidak baik menceritakan aib orang lain, apalagi hal itu belum terbukti sama sekali. Setiap kali diingatkan, Kendil malah membela diri, “Benar kok Ma, dia itu pencari pesugihan! Banyak orang yang sudah tahu tentang dia.”

Orang yang dimaksudkan Kendil adalah Bapak Herman, seorang pekerja kantoran. Herman pernah menegur Kendil saat ia ketangkap main judi. Sebagai tetangga, Herman pantas melakukannya karena ia merasa kasihan hal tidak baik itu jika terus dikerjakan oleh Kendil. Tetapi, Kendil merasa tersinggung dan sakit hati dengan teguran Herman dan hal itu tak pernah dilupakannya. Yang bisa dilakukan oleh Kendil setelah ia tidak berdaya pun hanya menghasut dan memfitnah Bapak Herman sebagai pencari pesugihan. Padahal, ia pekerja kantoran yang memiliki bisnis sampingan di luar. Jadi, pantas saja jika Bapak Herman memiliki kekayaan lebih dibandingkan Kendil.

Tidak saja kepada Bapak Herman, Kendil pun kerapkali menghasut tetangga-tetangganya yang lain. Tidak saja kepada orang yang pernah punya urusan dengannya, kepada orang yang tidak bersalah sama sekali pun terkadang menjadi korban fitnahnya. “Begitulah yang selalu dilakukannya setiap hari!” ujar Nadim, yang tahu betul dengan sosok Kendil ini.

Tapi, dari semua perbuatan keji Kendil itu, ada satu sikapnya yang membuat seseorang hampir menjadi korban. Yaitu, saat Kendil menghasut tetangga jauhnya yang bernama Bapak Solihin sebagai dukun santet. Singkat cerita, Kendil jatuh terkulai karena sakit. Pada sebagian wajahnya dipenuhi bentol-bentol, yang dirasakannya cukup gatal. Ia menuduh semua ini dikarenakan ulah Bapak Solihin yang telah menyantetnya.

Kepada Bapak Karim yang menengoknya di rumah, Kendil bercerita demikian. Karim yang mudah terhasut pun sempat mengumpulkan beberapa orang untuk mendatangi rumah Bapak Solihin dan hendak menggadangnya ke luar rumah lalu dipermalukan. Untungnya keadaan ini cepat diantisipasi oleh tetangga Bapak Solihin yang lain. Lalu dijelaskan kondisi yang sebenarnya. Dari sinilah, Karim dan yang lainnya menyadari kesalahannya bahwa Bapak Solihin bukanlah dukun santet. Ia memang bisa mengobati orang yang sedang sakit, tapi bukanlah seorang dukun santet yang mengguna-gunai orang.

Sejak peristiwa itu, Karim sendiri akhirnya berpikir terbalik pada sahabatnya, Kendil. Ia menjadi benci padanya karena dirinya hampir saja menjadi korban hasutannya untuk melakukan satu kesalahan terbesar dalam hidupnya yaitu mengeroyok dukun santet yang sebenarnya hanyalah orang biasa. Kini, Kendil benar-benar apes. Sudah tidak berdaya, ditinggalkan lagi oleh teman-teman karibnya. Ibarat kata, “sudah jatuh ketimpa tangga pula.”

Setelah menahan sakit bertahun-tahun, akhirnya Kendil meninggal dunia dalam usia 50 tahun. Tak banyak yang menangisi kepergian Kendil, kecuali istri, anak-anak dan keluarganya. Tak berapa lama, jenazah Kendil yang kaku pun dikuburkan.

Tidak ada peristiwa aneh mengiringi kepergian Kendil ke alam baka. Yang ada hanyalah iring-iringan orang disertai gema shalawat Nabi yang selalu terucap dari bibir pengantar jenazah. Begitu juga saat jenazah Kendil dimasukkan ke alam kubur, nyaris tak ada keanehan menyertainya. Yang ada hanyalah isak tangis sanak keluarga melepas kepergian orang yang pernah menjadi bagian penting dari hidup mereka itu.

Usai jenazah Kendil dikuburkan, orang-orang pun pulang ke rumah masing-masing seperti biasa. Hal itu terus berlangsung hingga menjelang Maghrib dan Isya. Bahkan, hingga jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, hal yang mengusik ketenangan warga pun belum terjadi sama sekali.

Pada jam 22.00 WIB, tiba-tiba seseorang lari terbirit-birit dengan keadaan peluh mendatangi rumah seorang modin (penghulu) dan mengaku kalau ia baru saja melihat kuburan Kendil terbakar. Katanya, seluruh kuburan Kendil dari ujung ke pangkal terbakar setinggi setengah meter. Modin itu tidak langsung percaya dengan laporan orang itu. “Bapak lalu mengajak saya untuk melihat kejadian itu,” ujar Nadim yang tidak lain anak modin sendiri.

Sampai di kuburan betapa kagetnya pak modin dan Nadim melihat kejadian dahsyat di luar nalar manusia tersebut. Sebuah kuburan yang baru saja tadi siang dibuat, kini dalam kondisi mengenaskan karena dilahap oleh api yang ganas. Spontan mereka berdua pun mengucapkan subhanalllah, tanda takjub luar biasa. Nadim lalu pulang ke rumah Kendil untuk mengabarkan hal ini. Kepada kakaknya, Nadim pun bercerita mengenai hal dahsyat yang baru saja dilihatnya. Kakak Kendil sempat tidak percaya dan segera ia memanggil teman-temannya untuk melihat kejadian itu.

Dalam waktu singkat, sekitar kuburan Kendil pun ramai dijejaki orang yang ingin melihat kejadian yang mungkin pertama kali dilihat oleh mereka itu. Sementara keluarga besar Kendil sudah pada kumpul dan melihat hal aneh itu penuh dengan isak dan tangis. Mereka tidak percaya jika jenazah salah seorang kerabatnya harus tertimpa masalah sedahsyat itu. Mungkinkah itu adalah siksa Malaikat Munkar-Nakir buat Kendil di alam kubur? Wallahu a’lam bilshawab.

Modin langsung berdoa agar api itu padam. Tapi, tetap saja si jago merah terus melahap kuburan Kendil. Hal itu terus berlangsung hingga pukul 02.00 WIB (pagi). Keadaan pun makin panik. Isak tangis keluarga Kendil masih mewarnai keadaan saat itu. Semuanya dibuat ketar-ketir. Tidak percaya dan mustahil sama sekali. Mereka tidak tahu berbuat apa. Ada usaha untuk menyiramnya dengan air tapi cepat dicegahnya karena ini adalah persoalan metafisika, bukan masalah fisik. Jadi, cara menghentikannya harus dengan doa oleh seseorang yang memiliki kekuatan spiritual luar biasa.

Seseorang lalu pergi memanggil seorang kiayi yang cukup terpandang dan memiliki kedalaman spiritual yang bagus. Tak lama kemudian kiayi itu datang dan segera bertindak. Sebelumnya Pak Kiayi meminta kepada orang-orang yang hadir untuk turut berdoa bersama agar api ini cepat padam. Maka pak kiayi itu pun berdoa dengan diikuti oleh warga. Seketika api itu pun perlahan-lahan padam. Subhanallah!

Usai api itu padam kepada warga yang hadir, Pak Kiayi pun berpesan, “Hendaklah kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua bahwa siksa Tuhan itu benar-benar nyata bagi hamba-hamba-Nya yang tidak beriman. Kita berdoa bersama-sama semoga siksa yang menimpa kerabat kita ini yaitu Kendil, diringankan oleh Allah SWT. Amien!”

Kepada sanak keluarga Kendil, Pak kiayi itu pun berpesan agar tabah menghadapi peristiwa ini. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Jangan terlalu larut dalam kesedihan untuk memikirkannya karena justru efeknya tidak baik buat masa depan. “Anggap saja ini sebagai peringatan bagi sanak dan keluarga yang ditinggalkannya,” ujar Pak Kiayi sekali lagi.

Usai berpesan, Pak Kiayi meminta warga untuk pulang ke rumah masing-masing karena masih ada pekerjaan yang diharus dilakukannya besok hari. Seorang petani harus pergi ke sawah dan ladangnya. Seorang tukang ojek harus pergi mengojek dan seorang kantoran harus pergi ke kantornya.

Pagi mencekam itu pun lewat berganti pagi yang cerah. Matahari pagi hari menyinari desa X di Jawa, di mana Kendil tinggal. Kisah kuburan Kendil terbakar ini pun secepat kilat menjadi berita hangat dalam beberapa minggu. Usai kejadian itu, tidak sedikit warga yang bertaubat. Masjid dan mushola mulai terisi banyak oleh jamaah.

Bagaimana dengan Karsem dan anak-anaknya sendiri? Usai kejadian itu, mereka pun tampak semakin soleh dan solehah. Mereka kerapkali terlihat rajin pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Subhanallah! Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Percayalah pada ketentuan Tuhan yang satu ini! Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah ini. Amien. (Eep Khunaefi/Dimuat di Hidayah edisi 85/September 2008)

Selasa, November 13, 2007

MENDAPAT HIDAYAH LEWAT SANG ANAK

MENDAPAT HIDAYAH LEWAT SANG ANAK

“Aku sempat membenci ayah karena ia sebagai bandar judi. Tapi, aku menjadi sayang kepada ayah ketika ia mengajak istri dan anak-anaknya shalat berjamaah. Setelah kusadari ternyata ayah telah berubah. Peristiwa ketika aku dan adik-adikku membaca al-Qur’an kemudian ayah mendengarnya, tak kusangka ternyata telah merubah sikapnya pada Tuhan. Aku pun semakin bangga padanya, setelah aku melihat ayah meninggal dalam keadaan yang baik.”

Beberapa kalimat meluncur dari bibir Puspita. Sebagai anak, ia tak kuasa mengeluarkan kata-kata makian sekaligus pujian pada sang ayah tercinta, yang kini telah meninggalkan dirinya ke alam baka.
Sang ayah, Pak Miherdi, adalah seorang bandar judi terkenal di desanya. Dengan bisnis haram yang digelutinya ini, ia tumbuh menjadi seorang bandar yang kaya raya. Rumah cukup mewah dan harta banyak. Apapun bisa diwujudkan. Ingin membeli pakaian baru dengan merk terkenal dapat dilakukan. Mau membeli sepatu trendy merk luar negeri juga tidak sulit. Apapun tidak ada yang sulit bagi Pak Miherdi, istri dan anak-anaknya.
Pak Miherdi dilahirkan dari keluarga kaya. Ia kemudian menikah dengan Bu Miherdi yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Perkawinan ini tidak direstui oleh keluarga Pak Miherdi karena perbedaan status yang mencolok. Mereka pun lari ke perantauan untuk nekad menikah.
Lima tahun kemudian mereka kembali ke kampung halamannya dengan membawa dua orang anak hasil perkawinan mereka. Mereka kembali untuk meminta maaf pada kedua orang tua masing-masing yang telah berbuat salah karena nekad untuk menikah meski dilarang. Setelah mendapat restu dan maaf dari orang tua, Pak Miherdi mengajak istri dan anak-anaknya tinggal di rumah orang tuanya.
Sebagai bapak yang bertanggung jawab, Pak Miherdi bekerja menjadi buru tani dengan upah yang sangat kecil. Untuk merubah nasib, ia beralih pekerjaan dengan menjadi pedagang kerupuk, yang dititipkan di warung-warung. Tetapi, labanya tetap sedikit. Ia pun kebingungan dan putus asa, sementara ambisi untuk hidup kaya begitu besar tertanam di benaknya.
Suatu hari, Pak Miherdi diajak salah seorang temannya ke tempat perjudian. Ia pun mencoba peruntungannya dengan ikut berjudi. Bagai ketiban durian, ia menang dan mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit. Ia pun pulang dan uang hasil judi tersebut langsung diberikan kepada sang istri tercinta.
Pak Miherdi ketagihan. Ia datang lagi ke tempat-tempat maksiat tersebut. Ia pun selalu menang dan mendapatkan keuntungan. Sementara ia tetap berjudi, usaha kerupuk pun jalan terus. Ia menjadi sering pulang larut malam hingga kentong subuh akibat berjudi ini.
Usaha kerupuknya lalu ditinggalkan karena bisnis judi jauh lebih menggiurkan. Bahkan, ia balik haluan dengan menjadi bandar. Dengan modal secukupnya, ia tidak lagi menjadi pemasang, tapi juga sebagai bandar. Usahanya sukses dan ia pun menjadi bandar yang kaya raya di desanya. Ia memiliki kaki tangan dan pesuruh yang banyak.
Imbas dari kesuksesannya, Pak Miherdi berubah perilakunya. Ia menjadi sombong. Ia menjadi mudah mengucapkan kata-kata kotor dan kasar kepada orang lain. Ia juga gampang menghina orang-orang miskin yang menjadi tetangganya atau yang berada satu kampung dengannya.
Lebih miris lagi, perilaku kasar Pak Miherdi juga menimpa istri dan anak-anaknya. Ia menjadi ringan tangan, apabila mereka melakukan kesalahan sedikit. Hubungannya menjadi renggang dengan istri dan anak-anaknya, karena ia lebih sibuk dengan dirinya sendiri. Ia sibuk dengan usaha maksiatnya.
Di tengah kondisi seperti itu, sang istri tidak melupakan tugasnya sebagai seorang ibu yang baik buat anak-anaknya. Anak-anak Pak Miherdi dididik dan diajari al-Qur’an dengan baik oleh Bu Miherdi. Tiap sore, Bu Miherdi menyuruh anak-anaknya pergi ke Mushola untuk mengaji. Bahkan, guru private dipanggilnya ke rumah demi sang anak agar bisa membaca al-Qur’an.
Meski begitu, Bu Miherdi tidak ada upaya untuk merubah perilaku suaminya. Bahkan, ia mendukung usaha haram yang dilakukan oleh sang suami. Agar usaha sang suami selalu sukses, Bu Miherdi terkadang pergi ke tempat-tempat keramat dan dukun untuk mendapatkan “jampi-jampi” ampuh dan keberuntungan. Di satu sisi, ia mengarahkan anak-anaknya pada agama, di sisi lain ia pun sangat mendukung bisnis maksiat suaminya. Sungguh ironi!
Tetapi, tak selamanya kita berada di atas. Pak Miherdi pun demikian dengan bisnis judinya. Ia tidak selamanya selalu menang. Bahkan, berkali-kali ia mengalami kekalahan telak, yang mengakibatkan kerugian. Untuk menutupi modalnya yang hilang, ia sampai menjual harta simpanan milik istrinya dan juga tabungan anak-anaknya. Tetapi, itu tidak bisa menolongnya untuk bangkit. Ia pun bangkrut.
Kini, kondisi Pak Miherdi sungguh menyedihkan. Sejak usahanya bangkrut, ia menjadi bermalas-malasan. Istri dan anak-anaknya tidak diberi nafkah selama beberapa hari karena ketiadaan uang. Mereka pun kerapkali menahan lapar, hanya karena tidak ada sesuap nasi pun yang bisa dimakan.
Dalam kondisi sungguh terperihkan, Pak Miherdi mengambil jalan pintas. Sang istri disuruhnya untuk pinjam duit pada saudara-saudaranya. Mereka pun mendapatkan modal baru, bukan untuk berdagang tapi untuk menghidupkan kembali bisnis judi yang sempat jaya tersebut. Upayanya berhasil. Dalam tempo cepat, bisnis judinya beranjak sukses. Orang-orang berdatangan ke tempat judinya untuk mengundi nasib. Hidupnya kembali normal. Harta yang dulu habis, kini telah kembali. Rasa lapar sudah jauh lagi dari perut Pak Miherdi, istri dan anak-anaknya.
Tetapi, belum lama Pak Miherdi menikmati kesuksesannya, di tempat perjudiannya telah terjadi persengketaan, antara dirinya dengan para penjudinya. Kekacauan dan perkelahian pun tak bisa dihindarkan. Ia dikeroyok dan tempatnya dihancurkan hingga habis tak bersisa. Persoalan tidak berhenti di sini. Rumahnya pun kemudian dihancurkan oleh mereka yang masih belum puas.
Persoalan semakin akut. Keadaan kian kacau, sehingga memakan korban jiwa dari pihak orang lain. Untuk menghindari bahaya yang lebih serius, Pak Miherdi terpaksa meninggalkan desa itu. Rumahnya dijual untuk biaya pindah dan mengurus sekolah anak-anaknya yang sempat terputus. Di tempat baru, ia membangun rumah lagi, tentunya dengan tipe lebih sederhana. Harta benda Pak Miherdi benar-benar telah habis. Kini, ia telah bangkrut kembali.
Di tempat baru, tidak ada yang bisa dilakukan Pak Miherdi. Selain keahlian berjudi, tidak ada keahlian lain yang bisa dimilikinya. Sementara ia harus menghidup istri dan anak-anaknya. Ia menganggur cukup lama dan ia pun menjadi stress. Lama kelamaan ia jatuh sakit. Setiap hari yang dirasakannya hanyalah lemas. Perutnya juga dirasakan sangat sakit. Berbulan-bulan ia terbaring lemah di atas ranjang. Tubuhnya yang dulu gemuk dan kekar, kini tinggal kulit yang menyelimuti tulang.
Di tengah kondisi memprihatinkan itu, sang istri diketahui hamil lagi. Maka, terbayang di depan akan kebutuhan yang kian banyak. Untuk mengantisipasi hal itu, sang istri bekerja sebagai pembantu dengan penghasilan yang pas-pasan, cukup untuk bisa makan sehari-hari dan itu pun masih sangat kurang. Untungnya, anak-anaknya ikut prihatin sehingga pulang sekolah mereka nyambi bekerja serabutan.
Suatu kali Pak Miherdi mendapatkan keajaiban. Ia sembuh dari sakitnya. Setelah sembuh ia nekad pergi ke Jakarta untuk mengundi nasib. Tetapi, tak lama kemudian ia kembali lagi karena di kota sulit mendapatkan pekerjaan. Ia pun hanya bisa mengeluh dan menangis di depan istrinya.
Di tengah kondisinya yang semakin putus asa, Pak Miherdi mendapat surat dari saudaranya yang mengharuskan ia kembali ke Jakarta karena ada lowongan pekerjaan di sana. Ia pun bergegas pergi ke sana.
Sementara Pak Miherdi berada di Jakarta, kandungan sang istri semakin besar. Sang istri kemudian melahirkan, tanpa didampingi suami. Ketika itu hujan deras datang. Petir menggelegar menyambar apa saja. Semestinya di rumah Pak Miherdi ramai diadakan marhaban si bayi, tapi satu orang pun tidak ada yang datang kecuali seorang ustadz. Bahkan, rumah Pak Miherdi disambar petir.
Tak disangka, siang harinya Pak Miherdi pulang dari Jakarta. Kedatangan Pak Miherdi tentu saja suatu kabar baik karena pasti pulang membawa oleh-oleh. Tetapi justru kabar buruk yang didengar oleh sang istri. Bukan saja tidak membawa apa-apa, bahkan pulang dari Jakarta ke rumah pun harus jalan kaki saking tidak punya uang sepeser pun. Pak Miherdi dan istrinya hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya yang malang.

Hidayah itu Datang
Meskipun keadaan dan perasaan susah menyelimuti keluarga Pak Miherdi, tetapi batinnya merasakan suatu kegembiraan karena melihat anak-anaknya menjadi remaja. Tanpa bimbingan dan didikannya, anak-anaknya menjadi anak yang saleh dan salehah. Rajin shalat, tak pernah keluyuran seperti anak-anak lainnya dan setiap malam selalu mengaji di masjid.
Hingga pada suatu hari, Pak Miherdi mendengar anak-anaknya mengaji kitab suci al-Qur’an. Hatinya tersentuh, hingga tak kuasa kedua bola matanya sembab dengan air mata. Ia haru atas apa yang didengarnya. Ia tak menyangka jika anak-anaknya pandai mengaji, padahal dirinya hanyalah seseorang yang tidak berguna.
Sejak peristiwa itu, Pak Miherdi sering merenung. Ia memikirkan kata-kata indah yang kemarin dibaca oleh anak-anaknya. Ia masih tidak percaya bahwa anak-anaknya bisa mengaji. Pak Miherdi pun menjadi gelisah.
Di puncak kegelisahannya, Pak Miherdi membuat sebuah keputusan yang membuat istrinya terkejut, “Ma, ayo kita shalat berjamaah di masjid!” Bu Miherdi begitu terkejut mendengar ajakan sang suami, yang tidak pernah didengarnya sejak dulu. Ajakan Pak Miherdi pun ditanggapi positif oleh sang istri. Pak Miherdi, istri dan anak-anak akhirnya shalat berjamaah di masjid yang kebetulan letaknya tidak berjauhan dengan rumah mereka. Pak Miherdi sendiri yang menjadi imamnya. Sejak itu, Pak Miherdi semakin dekat pada Tuhan. Ia rajin shalat dan berdzikir.
Pada suatu hari, tetangganya membangun rumah. Untuk menghormati tetangganya, Pak Miherdi ikut berkumpul dan begadang sampai tengah malam dengan warga setempat. Sejak Pak Miherdi mengalami perubahan total dalam hidupnya, warga pun mulai bersimpatik kepadanya. Ketika hari sudah larut malam, Pak Miherdi permisi untuk pulang kepada tetangganya.
Pada saat tiba di rumahnya, tiba-tiba saja Pak Miherdi jatuh sakit. Ia begitu saja jatuh terkulai ke lantai, sebelum sempat ke tempat tidur. Mendengar seperti ada suatu benda jatuh, Bu Miherdi terjaga dari tidurnya dan segera menghampiri datangnya suara tersebut. Tetapi, ia begitu kaget ketika benda jatuh yang didengarnya ternyata bukan benda, tapi suara sang suami saat jatuh terkulai di atas lantai. Bu Miherdi segera menghampiri suaminya dan menolongnya.
Malam itu keadaan pun bisa dikendalikan. Tetapi, sakit yang diderita Pak Miherdi ternyata tak kunjung sembuh, malah semakin parah. Untuk berobat tidak ada uang. Akhirnya, Bu Miherdi hanya pasrah pada Allah. Kepasrahan Bu Miherdi akhirnya berbuah takdir kematian. Pak Miherdi dipanggil Allah untuk selama-lamanya ke alam baka. Kematian Pak Miherdi disaksikan sendiri oleh istrinya, bahkan saat itu sedang berada di pangkuan sang istri. “Ayah meninggal dengan wajah penuh senyum dan ceria,” ujar Puspita penuh lirih.
Sekarang, Bu Miherdi tinggal bersama anak-anaknya dengan menjadi pedagang sayur mayur. Anehnya, setelah kepergian sang suami, rizki Bu Miherdi begitu melimpah. Kebutuhan anak-anaknya pun selalu terpenuhi, meski tidak seperti saat suaminya masih jaya sebagai bandar judi.
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini! Amien.

Eep Khunaefi