Tampilkan postingan dengan label Setetes Hidayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Setetes Hidayah. Tampilkan semua postingan

Senin, Juli 27, 2009

Denny Sanusi, BA (Tjong Bun Lie), Diusir Keluarga Demi Islam (Mendpt Hidayah di Malam Lailatul Qadar)

Perjalanan keislamannya penuh berliku. Ia mendapat hadangan dari keluarganya. Berbagai cobaan pun menimpanya dari yang halus hingga kasar. Puncaknya, ia pernah diusir sang ayah dari rumah. Namun, berkat kesabaran dan keyakinannya pada agama Islam, ia pun selamat dari ujian tersebut. Kini, bersama istri dan anak-anaknya yang pintar ia pun menikmati hasilnya yang positif.

Denny Sanusi, BA, begitu namanya. Lelaki kelahiran Jakarta, 21 November 1962 ini memiliki nama asli Tjong Bun Lie. Ayahnya bernama Tjong Nyit Sin dan ibunya adalah Lie Kim Nyuk.

Sejak kecil, Denny hidup dengan gelimang harta dan agama Konghucu. Ia terdidik untuk mengikuti agama bapaknya yang merupakan asli orang China, yang merantau ke Jakarta dan kemudian bertemu dengan gadis Bandung untuk dinikahinya.

Sebagai pemeluk agama Konghucu, sebenarnya Denny cukup taat. Namun, keluarga cukup demokratis dalam memperlakukan agama pada anak-anaknya. Sikap demokratis inilah yang kemudian membawa Denny untuk disekolahkan di Sekolah Katolik saat SMA.

Otomatis, Denny pun banyak berkawan dengan teman-teman yang beragama Katolik. Namun, di sinilah justru ujian keagamaan datang pertama kali kepadanya. Lembaga pendidikan tempatnya menggali ilmu justru sangat ketat dalam mendoktrin agama Katolik pada anak-anak didiknya. Seluruh siswanya diharuskan masuk ke agama Katolik. “Jika tidak, hal itu sangat berpengaruh pada nilai kelas,” ujar Denny berkisah.

Dalam kondisi terpaksa Denny pun mulai belajar agama Katolik sebenar-benarnya. Ia membaca Bible dan pergi ke gereja dengan sangat rajin. Setelah setahun bergelut dengan ajaran-ajaran Katolik ia pun memutuskan untuk masuk Katolik. Saat itu ia kelas dua. “Saya pun mulai dibaptis,” ujarnya.

Berpindahnya Denny ke agama Katolik ini diketahui oleh orang tua dan keluarganya. Namun, mereka tidak marah. Mereka memperbolehkan anak-anaknya untuk memeluk agama manapun, asalkan bukan Islam. Jadi, ketika mengetahui Denny beralih agama ke Katolik, respon keluarga pun biasa-biasa saja.

Namun, ajaran agama yang baru digenggamnya itu justru tidak memuaskan dahaga spiritualnya. Sejak itu, Denny malah semakin malas pergi ke gereja. “Saya sendiri tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi?” ujar Denny penuh keheranan. Yang jelas, Denny merasa tidak nyaman saja dalam menjalani agama tersebut.

Hatinya gelisah dan tak karuan. Di tengah hatinya yang sedang gundah gulana itulah ia akhirnya bertemu dengan seseorang yang cukup mengerti tentang agama, meski bukan seorang ustadz. Ia pun mengutarakan kegundahannya ini. Bagi seorang anak remaja yang masih kelas tiga saat itu, jelas saja sikap Denny ini mengundang decak kagum orang itu. Bagaimana mungkin seorang anak remaja sudah mengungkap kegelisahan dirinya terkait masalah keyakinan? Tapi itulah kenyataannya.

Denny bertanya pada orang itu, “Pak, sejak saya memeluk Katolik kok hati selalu gelisah. Saya semakin males pergi ke gereja. Ada apa ya?”
Orang itu bertanya balik, “Kamu percaya Tuhan?”

“Ya,” jawab Denny.

“Berdoalah kepadanya, tapi jangan menyebut nama Tuhan saya (Allah) dan juga tuhan kamu (Allah dibaca Alah),” ujar orang itu.

“Doa apa yang harus saya baca,” tanya Denny penasaran.
Berdoalah sebelum tidur demikian, “Ya Tuhan tolonglah saya. Tunjukkan saya agama mana yang paling benar di dunia dan akherat. Yang dapat menyelamatkan saya di dunia dan akherat.”

Karena Denny sedang bersemangat untuk mencari kebenaran, malam itu juga sebelum tidur ia membaca doa tersebut. Enggak tahu, apa kebetulan atau tidak, besok harinya justru hari Ramadhan. Denny menyadari kalau pada saat-saat seperti ini umat Islam akan berpuasa. Besok harinya ia pun mencoba untuk berpuasa.

Hal itu terus berlangsung hingga memasuki puasa hari ke tujuh. Denny selalu berpuasa. Pada hari ketujuh, menjelang Maghrib Denny menyetel radio. Tanpa diduga-duga ia mendengar suara adzan yang sangat merdu dari balik radio. Saking terkejutnya ia pingsan sejenak selama kurang lebih semenit. “Saya sendiri heran, padahal setiap hari saya sering mendengar adzan dari tetangga terdekat,” ujar Denny yang sejak kecil memang hidup di tengah masyarakat yang banyak beragama Islam ini.

Bagi Denny, apa yang dialaminya itu merupakan salah satu kejadian yang luar biasa dalam hidupnya. Betapa tidak, ia tidak pernah pingsan selama ini –apalagi oleh sebuah kasus yang sebenarnya sering ia dengar dari masjid atau mushola di lingkungannya. Tapi, kenapa adzan di bulan Ramadhan yang didengarnya lewat radio justru menggetarkan jiwanya hingga membuatnya pingsan? Pertanyaan inilah yang sejenak membuat Denny tidak bisa berkata apa-apa saat itu.

Kejadian ini pun dihaturkan ke orang yang cukup mengerti agama itu, “Pak, apa artinya ini?”

“Mungkin itu sebuah hidayah dari Tuhan. Tapi, coba saja kamu terus berdoa kepada Tuhan menjelang tidur dari doa yang saya ajarkan itu,” ujar orang itu, yang hingga kini Denny sudah lupa namanya.

Sejak kejadian itu, Denny pun terus berdoa menjelang tidur dengan doa yang sama, yang selama ini selalu ia panjatkan. Pada puasa minggu kedua dan Denny juga tetap berpuasa, kejadian religus kembali menghantui dirinya. Ia bermimpi melihat orang sedang bermain rebana di televisi. Saking terkejutnya, hal itu membuatnya terjaga dari mimpi. Ia terus memikirkan mimpi itu. Sepintas hatinya pun terketuk, “Itu ‘kan musik Islam.”

Hal ini pun kembali ia utarakan pada orang itu dan jawaban yang sama pun meluncur dari bibirnya, “Kamu berdoa saja terus menjelang tidur dengan doa yang sama.” Tak terasa, puasa pun telah di ambang perpisahan. Saat itu puasa telah memasuki hari ke-20, hendak memasuki hari ke-21 dan Denny masih berpuasa. Tiba-tiba, Denny dipanggil oleh orang itu ke rumahnya.

Di depan Denny orang itu meminta, “Den, kalau bisa malam ini kamu jangan tidur. Kalau saya jelaskan kamu nanti tidak akan mengerti.Yang jelas, malam ini adalah malam istimewa, mungkin keistimewaan itu akan turun ke kamu.”

Tanpa mau bertanya lebih lanjut, Denny pun pulang dari rumah orang itu. Namun, ia tidak pulang ke rumah, tapi pulang ke pabrik minuman ringan milik kedua orang tuanya. Di pabrik itu, ia naik ke tingkat dua. Di sana ia menghadap kiblat dan bertafakur dengan khusyuk. Di tengah-tengah perenungannya, tiba-tiba tangan kirinya seperti ada yang mencengkeram begitu kuatnya, hingga ia tidak bisa bergerak. Ia berusaha memberontak, tapi tak kuasa. Akhirnya, ia pasrah. Tak lama kemudian cengkeraman itu berangsur lepas dari tangannya.

Kejadian itu tidak membuat Denny ketakutan. Ia malah turun ke bawah mendekati pancuran untuk mengambil air wudhu. Sebuah tindakan yang sebenarnya tidak ia mengerti sama sekali. Dia saat itulah peristiwa aneh kembali terjadi saat ia sedang menyela jari-jari tangannya. Jari-jari tangan kanannya seperti tertahan begitu kuatnya di pangkal jari-jari tangan kirinya dan sangat sulit dilepaskan. “Sepertinya Tuhan sedang mengeluarkan dosa-dosa saya,” ujarnya. Saat peristiwa itu terjadi, jam telah menunjukkan pukul satu malam. Kata ulama, inilah malam lailatul qadar.

Setelah kejadian itu, ia kembali naik ke atas untuk menunaikan shalat dua rakaat. Entahlah, bisikan hati apa yang menggerakan Denny untuk melakukan semuanya ini. Padahal, ia belum menjadi seorang Muslim. Ia mengikuti kata hati saja untuk melakukan gerakan-gerakan yang sudah lazim dilakukan oleh umat Islam yaitu shalat sunnah. Usai itu, tidak ada lagi kejadian aneh yang menimpanya dan ia pun pulang ke rumahnya.

Besok harinya ia menemui orang itu kembali dan menceritakan apa saja yang baru dialaminya. Dengan diplomatis orang itu pun kembali berkata, “Kamu telah mengalami semuanya. Sekarang terserah kamu. Sebab, Islam tidak pernah memaksakan siapapun untuk memeluk agamanya.”

Denny berpikir sejenak. Akhirnya keputusan terbesar dalam hidupnya pun diambil. Ia memilih untuk menjadi muallaf. Subhanallah! Tidak mau kebahagiaan ini tertunda, usai puasa dan idul fitri ia pun menemui orang itu. Di depan orang itu, Denny pun mengutarakan keinginannya tersebut. Orang itu patut bersyukur kepada Allah karena hidayah akhirnya turun kepada seorang anak muda di malam penuh berkah yaitu malam lailatul qadar. Jika saja dinding dan rumput bisa bicara, mungkin mereka akan ikut bertasbih kepada Allah karena melihat salah seorang hamba-Nya akhirnya memilih jalan yang benar.

Seketika itu juga Denny dikhitan di sebuah rumah sakit, tanpa didampingi orang tuanya, yang memang belum mengetahui tentang keislamannya tersebut. Tak lama kemudian ia mengucap syadahat di rumah orang itu dengan memanggil seorang ustadz. Sejak itu, Denny pun resmi menjadi seorang muslim sejati. Sebuah hal yang dilaluinya dengan proses yang tidak mudah. Sebagian orang menilai bahwa Denny telah mendapatkan malam lailatur qadar. Wallahu a’lam bil shawab!

Diusir Keluarga
Sejak menjadi seorang Muslim, Denny pun mulai rutin menjalani shalat dan puasa. Selama dua tahun, keislaman Denny ini mampu ditutupinya dengan sangat erat. Namun, sepandai-pandainya orang menjaga rahasia akhirnya terbongkar juga. Ini pula yang dialami oleh Denny.
Kebetulan pabrik minuman milik bapaknya kena gusuran. Untuk sementara, letaknya pun pindah ke rumahnya. Nah, di situlah gelagat keislaman Denny mulai tercium keluarganya. Soalnya, sebelum pabrik itu pindah, Denny selalu melakukan rutinitas keislamannya di pabrik tersebut. Otomatis, ketika pabrik itu pindah, ia pun melakukan semuanya di pabrik atau di rumah, yang otomatis diketahui oleh keluarga.
Denny pun diintrogasi oleh ayah. Namun, di depan sang ayah dan keluarganya, ia selalu mengaku non-Muslim. Tapi, sang ayah tidak percaya begitu saja. Sang ayah pun mulai melarang Denny bepergian ke luar rumah. Takut ia melakukan akvitias ibadahnya di luar. Termasuk ketika hari Jum’at tiba. Denny dilarang keluar untuk melakukan shalat Jum’at. Namun, Denny selalu bisa berkelit. Ia berusaha melakukan apa saja agar tetap bisa shalat dan puasa, meski dalam kontrol keluarganya yang sangat ketat.
Untuk menguji kebenaran Denny, pernah suatu saat di bulan puasa ia disuruh makan bubur dan telur. Namun, hendak saja ia makan telur, tiba-tiba ayahnya kedatangan tamu. Saat sang ayah pergi, saat itulah ia membuang telur dan bubur tersebut. Ketika ayah kembali, Denny pun bilang kalau ia sudah memakannya habis. Sang ayah pun percaya.
Tapi, suatu kali ayah dan keluarganya benar-benar mengetahui kalau Denny adalah seorang Muslim. Betapa murkanya mereka pada Denny. Hingga mereka sempat berucap kalau darah Denny adalah halal. Artinya, kalaupun dibunuh hal itu tidak menjadi masalah karena Denny telah murtad. “Mereka sudah menganggap saya seperti bukan saudara lagi,” ujar Denny berkisah.
Kamar Denny pun diobrak-abrik dan sajadahnya dibakar. Lebih tragis lagi, Denny hampir sempat dibunuh oleh adiknya sendiri. Hanya saja, tidak sempat melukainya secara serius, hanya terluka sedikit. Ulah sang adik ini diketahui oleh warga. Warga yang jengkel melihat sesama muslimnya teraniaya, akhirnya mengeroyok adik Denny dalam suatu kesempatan. Hal ini pun menjadi perkara di kepolisian. Oleh adiknya, Denny dituduh sebagai biang dari adanya pengeroyokan tersebut. “Padahal, saya tidak pernah menyuruh mereka sama sekali,” ujar Denny.
Mulai dari cara yang halus hingga cara yang kasar sudah ditempuh oleh ayah dan keluarganya. Namun, tak kuasa juga merubah keislaman Denny. Akhirnya, Denny pun diusir dari rumah. Setelah diusir, hidup Denny pun tidak menentu. Di mana suka ia menetap, kadang di PITI (lembaga muallaf) dan sebagainya.
Namun begitu, di tengah jalan, sang ayah kadang masih menitip pesan kepadanya lewat orang bahwa Denny bisa diterima kembali di keluarganya kalau ia mau balik ke agama yang lama. Tapi, Denny menolak tawaran itu. Baginya, Islam sudah merupakan harga mati. Sebuah prinsip yang patut kita tiru bersama.
Dalam kondisi seperti itulah, justru Denny menemukan jodohnya. Ia akhirnya menikahi seorang gadis Muslimah keturunan Cina yang bernama Haryani (Tjong Siu Lan), arek Sukabumi. Denny menikah di pengadilan sipil karena sang ayah tidak merestuinya. Namun, demi gengsi pada teman-temannya, beberapa saat kemudian sang ayah membuatkan pesta pernikahan untuk Denny di sebuah gedung. “Tapi, setelah itu kami kembali tidak akur. Masalah akidah kami tetap berbeda,” ujar Denny.
Ujian kemudian datang lagi kepada Denny. Aset-aset perusahaan milik bapaknya yang memang atas nama dirinya akan dirubah. Diketahui, bahwa sejak ibunya meninggal segala aset perusahaan milik orang tuanya berubah menjadi atas nama Denny. Namun, setelah Denny beragama Islam, sang ayah mengancam akan menyita semua aset-asetnya dan berbalik nama lagi ke diri sang ayah. “Saya akan mendapatkan kembali aset-aset itu kalau saya balik lagi ke agama yang lama,” ujar Denny.
Tapi, Denny tidak mau menurut. Ia malah datang ke notaris bersama sang ayah untuk merubah kembali nama aset-aset perusahaan atas namanya tersebut menjadi atas nama ayahnya. Denny berprinsip lebih baik kehilangan harta (aset) daripada harus menggadai keislamannya. Sejak itu, sang ayah sendiri bergegas merubah nama Cina-nya dengan nama pribumi. Setelah tidak punya aset di perusahaan milik bapaknya, praktis Denny pun berjuang dari titik nol lagi.
Tiga tahun yang lalu, ayahnya meninggal dunia. Tiga tahun sebelum kepergiannya ke alam baka, hubungan Denny dengan sang ayah sebenarnya sudah membaik setelah 15 tahun tidak akur. Ayahnya sudah semakin bijak dan mulai terbuka hatinya untuk menerima kehadiran Denny. “Saya salut sama kamu, Den. Kamu tidak mendendam pada ayah,” ujar Denny menirukan perkataan ayahnya kala itu. Sayangnya, hati sang ayah belum terbuka untuk menerima Islam.
Kini, hidup Denny bersama keempat anaknya begitu bahagia. Anak tertuanya sedang menuntut ilmu di negeri sang leluhur, yaitu Cina. Anak keduanya akan menyusul ke sana. Sementara anak ketiga dan keempat sekolah di sebuah lembaga pendidikan milik Kerajaan Arab Saudi, yang sehari-hari menggunakan bahasa Arab. Hal yang sangat membanggakan Denny dan istrinya, kedua anaknya yang masih kecil-kecil tersebut sangat berprestasi dan terpilih sebagai siswa teladan di sekolahnya. Sebuah hal yang patut disyukurinya, mengingat betapa beratnya perjuangan dirinya saat di awal-awal mengikrarkan dirinya menjadi seorang Muslim.
Kini, untuk menghidupi keluarga, Denny mendirikan PT. UD Mulia yang sudah dirintisnya selama beberapa tahun. Perusahaan ini bergerak di bidang supplier limbah kertas. Sang istri sendiri, Haryani, membuka terapi kesehatan refleksi dan totok aura di rumahnya. “Alhamdulillah, semua ini saya rasakan berkat kesabaran saya dan istri dalam menghadapi ujian ini,” ujar Denny menutup kisahnya pada Hidayah.
Demikian kisah seorang muallaf yang harus melalui proses berliku, bahkan ancaman pengusiran dan pembunuhan dari keluarganya, untuk mempertahankan keislamannya. Sebuah hal yang patut kita tiru bersama dari orang-orang yang memang sejak kecil terdidik sebagai seorang Muslim bahwa mempertahankan akidah itu ternyata jauh lebih penting dibandingkan sekedar nilai materi yang sebenarnya tidak ada nilainya apa-apa. Sekali lagi, semoga kita bisa belajar banyak dari kisah ini! Amien.

Eep Khunaefi

Jumat, Oktober 24, 2008

NAGA KUNADI (Qiu Xue Lung), Mimpi Buruk dan Surat al-Humazah yg Menggetarkan Jiwa

“Saat kubaca surat al-Humazah, ternyata begitu mengejutkanku. Kandungan surat itu sangat sesuai dengan apa yang kuimpikan beberapa tahun yang lalu. Ini bukan serba kebetulan. Tapi, sepertinya sudah direncanakan oleh Tuhan. Pesan surat ini begitu mendalam. Sejak itu aku pun mulai bertanya pada orang tentang Islam, hingga akhirnya kusadari atau tidak bahwa aku harus memeluk agama ini.”

Ditemui di Masjid Karim Oi di tengah teriknya matahari dan aura puasa Ramadhan, lelaki muda berusia 33 tahun ini pun menceritakan secara blak-blakan kepada Hidayah perihal keislaman dirinya beberapa tahun yang lalu, yang baginya merupakan sebuah puncak pergulatan spiritualnya selama ini. Berikut penuturannya!

Mimpi Seram
Saat itu masih Sekolah Menengah Pertama (SMP). Malam merayap kota Jakarta. Sunyi senyap melelapkan kebanyakan orang pada tidurnya. Hanya sebagian yang terjaga untuk bertasbih dan bertahmid kepada Allah dalam ketepekuran shalat malam. Naga Kunadi remaja terjaga dari tidurnya. Tapi, bukan untuk shalat malam. Mimpi buruk telah mengejutkannya sehingga memaksanya untuk terjaga. “Ah, ternyata aku hanya mimpi buruk,” bisiknya dalam hati.

Naga Kunadi bermimpi melihat api yang sangat besar dan ia berada di dalamnya. Api itu menjilat-jilat hendak memakannya. Di tengah marah bahaya yang mengancam, ia melihat di depannya sebuah lubang yang sangat besar yang di dalamnya banyak paku bumi dan orang-orang sedang disiksa dengan dirantai kedua tangannya. Sebagian dari orang itu ada yang mukanya hancur lebur, tak terbentuk dan mengerikan. Mereka meraung-raung kesakitan yang tak terperikan. Sepertinya mereka sedang disiksa. “Aku ngeri sekali melihatnya,” ujar Naga Kunadi meski yang dilihatnya hanyalah sebuah mimpi.

Naga Kunadi terjaga. Mimpi buruk itu mengejutkannya. Karena masih kecil ia tak mengerti apa makna mimpi itu? Karena masih kecil pula ia tak pernah menanyakannya pada orang lain tentang mimpinya itu. Hanya saja, sejak itu ia jatuh sakit demam yang sangat akut selama tiga hari. “Tubuhku sangat panas,” aku Kunadi kala itu. Saat dibawa ke dokter untuk berobat, Kunadi divonis tidak sakit. Tidak ada tanda-tanda ia mengalami penyakit medis yang serius. “Tetapi, kurasakan seluruh tubuhku sangat ngilu. Keringat dingin bercucuran membasahi tubuhku,” ujar Kunadi lebih lanjut.

Ajaibnya, tanpa diobati dan diberikan resep apapun, tiga hari kemudian sakitnya sembuh dengan sendiri. Tetapi, selama itu pula tidak ada yang tahu hal yang menyebabkan Kunadi seperti itu. Kunadi sendiri tidak pernah menceritakan persoalan yang sebenarnya bahwa semuanya itu karena mimpi yang sangat menakutkan. “Aku juga bingung kenapa mimpi itu tak pernah kuceritakan. Padahal inilah pangkal persoalannya aku sakit,” ujar Kunadi heran sendiri.

Usai sembuh, keadaan pun normal kembali. Kunadi yang masih anak SMP tetap pergi ke sekolah. Seolah apa yang terjadi beberapa hari yang lalu dalam tidurnya itu tak pernah terjadi. “Meski masih ingat, tapi aku sudah melupakan mimpi itu,” ujar Kunadi. Ia tak mau mengingat-ngingat mimpi itu lagi karena sangat mengerikan. Bisa jadi, ia akan jatuh sakit lagi.

Waktu terus berjalan hingga tak terasa Kunadi sudah Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri (SMEAN) 24 Cengkareng. Bulu ketiaknya mungkin sudah tumbuh di bawah kedua pangkal tangannya. Kumis pun perlahan tapi pasti mulai merayapi bagian atas bibirnya. Rasa suka pada lawan jenis juga mungkin sudah muncul di benaknya. Rasa ingin tahunya juga mungkin semakin besar. Yang jelas, Kunadi dewasa tidak jauh berbeda dengan Kunadi saat remaja: anak baik, yang tetap ingin serius pada pelajaran.

Suatu kali Kunadi mengajak temannya untuk berjalan-jalan ke mal Sunter. Sampai di sana, rupanya hatinya tergerak untuk masuk ke tokoh gunung agung. Kalau sang teman membeli kaset, sementara ia tertarik untuk membeli buku di tokoh itu. Perlahan-lahan ia memasuki tokoh buku yang sangat terkenal di Jabodetabek itu. Tiba-tiba sorot kedua bola matanya tertuju pada sebuah tumpukan kitab suci. “Saat itulah aku melihat al-Qur’an terjemahan,” ujarnya bersemangat di tengah gemuruh suara orang sedang berpidato di lantai bawah dalam rangka menyambut berbuka puasa.

Iseng-iseng Kunadi membukanya. Entahlah, pikiran apa yang merasukinya hingga ia tertarik untuk membuka al-Qur’an terjemahan! Yang jelas, saat itu kedua bola matanya tiba-tiba terfokus pada kitab suci umat Islam tersebut. Ia membacanya perlahan-lahan. “Kalau orang kebanyakan membaca dari surat al-Fatihah dulu, aku malah dari surat al-Nas,” ujarnya sambil sekali-kali menggoyang-goyangkan tubuhnya ke depan dan ke belakang.

Kunadi membaca surat al-Nas. Surat ke-114 yang berarti manusia dan mengisahkan tentang hubungan Tuhan, manusia dan syetan ini pun membuatnya semakin tertarik untuk melanjutkan bacaannya pada surat-surat yang lain: al-Falq, al-Ikhlas, al-Lahab, al-Nasr dan sebagainya. Hingga tanpa disadarinya ia telah sampai pada surat al-Humazah yang berarti pengumpat.

Kunadi membaca surat al-Humazah perlahan-lahan, “Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah. Dan tahukah kamu apakah Hutamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan. Yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka. (Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (QS. Al-Humazah [104]: 1-9)

Sembilan ayat surat al-Humazah berhasil dibacanya. Tiba-tiba tenggorakan Kunadi seperti tersekat. Ia tak kuasa melanjutkan bacaannya lagi ke surat selanjutnya. Pada ayat terakhir surat itu seperti memaksa Kunadi untuk ingat pada peristiwa silam tentang mimpinya yang menakutkan itu. “Isi surat itu kok sesuai sekali dengan apa yang aku impikan beberapa tahun yang lalu saat SMP,” ujarnya semakin serius. Orang yang suka mengumpat dan mencela akan diikat pada tiang-tiang yang panjang. Hal ini persis seperti yang dilihatnya dalam mimpi yaitu orang-orang dirantai tangannya pada paku bumi yang sangat besar. “Benar-benar luar biasa, Mas. Aku kok merasa mimpi itu seperti bukanlah sebuah kebetulan atau bunga tidur,” ujarnya dengan ekspresi meninggi.

Selama ini Kunadi mengira mimpinya itu hanyalah bunga tidur. Karena itu, ia menyuekinya meski sempat membuat tubuhnya jatuh sakit. Tetapi, setelah ia membaca akhir surat al-Humazah, sepertinya ia dipaksa untuk membongkar memori masa lalunya lagi dan meyakininya sebagai “semacam petunjuk”.

Dalam mimpinya Kunadi juga melihat dirinya berada dalam lingkaran api yang sangat besar, layaknya orang yang suka mengumpat dan mencela akan dilemparkan ke dalam neraka Hutamah yang apinya menyala-nyala. “Kok, isi surat ini seperti mengisahkan tentang keadaanku dalam mimpi itu,” ujarnya semakin serius.

Tubuh Kunadi mulai bergetar. Meski masih SMA, tapi ia mulai menyadari bahwa semua ini pasti ada maksudnya. Tidak begitu saja Tuhan membawanya pada tokoh gunung agung lalu membaca al-Qur’an dan menemukan surat al-Humazah yang menggetarkan jiwa. Semua ini pasti ada hikmahnya. “Mungkinkah saatnya aku harus masuk Islam!” bisik Naga dalam hati saat itu.

Di satu sisi jiwanya mulai terkoyak oleh partikel-partikel kebenaran Islam, di sisi lain pikirannya melakukan pemberontakan. “Aku tak percaya begitu saja. Meski aku mulai tertarik pada Islam, tapi aku ingin mengetahuinya lebih mendalam lagi,” ujarnya penuh ketenangan, layaknya sebuah air tak berarus berada dalam kubangan yang besar.

Lulus SMA ia pun bekerja di sebuah perusahaan yang menempatkannya harus tinggal di asrama. Di asrama itulah ia bergaul dengan banyak orang Islam, sehingga ia banyak bertanya tentang Islam pada teman-temannya di sana. “Bahkan, aku mulai menyanangkan target,” ujarnya. Sejak itu, setiap bulan Kunadi mulai mematok harus membeli satu buah buku Islam. “Aku ‘kan sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, jadi kugunakan untuk sebisa mungkin membeli buku-buku Islam,” ujarnya. Hingga sekarang ia telah memiliki sekitar 150 judul buku Islam. Sayang, beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2006, tempat tinggalnya kebanjiran sehingga buku-bukunya pada rusak dan sebagian hilang.

Tidak berhenti sampai di situ, ia pun mulai berani bertanya tentang Islam pada ustadz yang ditemuinya secara sengaja atau tidak. Malahan ia terbilang nekad. Ia sampai meminta alamat seorang ustadz yang dilihatnya sedang berceramah di suatu tempat. Setelah mendapatkannya, ia nekad mendatangi rumahnya. Di situ ia banyak bertanya tentang Islam. Sampai akhirnya ia menemukan keyakinan yang kuat bahwa Islamlah agama yang semestinya ia peluk, bukan agama Konghucu. “Jadi, ketertarikanku pada Islam benar-benar dilalui dengan banyak membaca dan bertanya tentang agama ini,” ujarnya bergairah.

Ayah Tak Marah
Merasa sudah yakin dengan kebenaran Islam, Kunadi pun berterus terang kepada keluarganya. Meski sejak kecil sering ikut sama neneknya, tapi ia pun tetap menceritakan keinginannya pada kedua orang tua. Kepada ayah Kunadi berterus terang, “Yah, aku ingin masuk Islam.”

Ayahnya terperanjat kaget. Ia tidak menyangka jika dirinya diajukan sebuah pertanyaan yang tak pernah didengarnya sejak dulu. Tak tanggung-tanggung, dari anaknya sendiri lagi. Tapi keadaan mulai dikuasainya, ia balik bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu tertarik pada Islam?” Jawaban sang ayah yang bernama asli Qiu Shi Xian ini cukup mengagetkan Kunadi.
“Ternyata ayah tidak marah. Ia malah bertanya balik dengan cukup bijak,” ujar Kunadi.

“Aku ingin punya keyakinan, Yah.” Bagi Kunadi, agama Konghucu hanyalah sebuah agama yang lebih banyak mengajarkan tentang filsafat dan budaya, misalnya bagaimana tata cara bertata krama dengan kedua orang tua, orang lain, dan lingkungan. Masalah keyakinan kepada Tuhan jarang sekali disinggung. Karena itu, ketika ia tertarik pada Islam, alasan yang dikemukakan pada ayahnya adalah masalah keinginannya untuk punya keyakinan.

Sang ayah pun menjawab demikian, “Keyakinan saja tidak cukup.”

Tetapi, Kunadi tak mau kalah, “Aku ingin punya aturan hidup sendiri, Yah.”

Tanpa mau berdebat panjang, ayah yang bijak itu pun hanya berpesan, “Ayah tidak masalah kamu masuk Islam, asalkan satu syarat: jaga akhlak kamu.”

Mendengar penjelasan seperti itu, Kunadi pun merasa sangat senang. Satu restu sudah ia dapatkan untuk masuk Islam. Bagi Kunadi, ayah adalah seorang pembaca buku yang baik. Hal itu yang membuatnya punya pikiran bijak, tidak kolot terhadap agama tertentu. Apalagi, agama Konghucu tidak pernah mengikat hati seseorang pada keyakinan yang kuat pada Tuhannya.
Bagaimana sang ibu (Huang Shun Xiang) dan nenek (Liem Nyuk Tjin) yang membesarkannya? Mereka berdua belum merestui kepindahan Kunadi ke Islam, meski akhirnya mereka juga tak melarang keras.

Pada tahun 2002 Masjid Karim Oi pun menjadi saksi bersejarah bagaimana Kunadi diislamkan secara total. Dengan mengucap kalimat syahadat, asyhadu an laa ilaa ha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah) ia menambatkan hati dan pikirannya pada Islam, agama yang sudah didalaminya selama bertahun-tahun.

Semakin Tenang
Apa yang dirasakan Kunadi setelah masuk Islam? Dengan jujur ia pun menjawab, “Aku semakin tenang menjalani hidup ini.” Ia menganggap tidak salah memilih Islam. Sebab, setelah sekian lama bergelut dengan ajaran-ajaran Islam akhirnya ia semakin mengetahui bahwa agama yang paling diridhai di sisi Allah ternyata adalah Islam. Jadi, ia tidak salah memilih.

“Islam juga ternyata begitu teliti dalam mengatur masalah hukum,” ujarnya semakin serius. Untuk menyebut kata adil saja, al-Qur’an sampai menyebutkannya beberapa kali dalam bentuk yang berbeda seperti fahkum bainan al-nas bil ‘adl dan fahkum bainan al-nas bil-qisth. Kedua ayat itu sama-sama dimaknai “Hakimilah di antara manusia dengan adil”. Di mata Kunadi, penjelasan seperti ini menunjukkan betapa telitinya al-Qur’an dalam mengatur masalah hukum.
“Itulah yang membuatku semakin tertarik pada Islam karena punya aturan yang jelas,” ujarnya bersemangat meski kedua bola matanya menyiratkan kelelahan karena capek dan kurang tidur.

Kunadi juga memuji konsep al-Qur’an tentang tauhid (keesaan Ilahiyah). Dalam al-Qur’an dijelaskan dengan pasti bahwa Tuhan itu satu yaitu Allah. Hal itu disiratkannya dalam al-Qur’an beberapa kali. Tetapi, ayat paling jelas mengupas masalah ini adalah surat al-Ikhlas. Hal ini berbeda dengan konsep ketuhanan dalam ajaran Konghucu atau ajaran Kristiani, yang tak memiliki konsep yang jelas tentang Tuhan.

Kini, setelah menjadi Muslim ia pun rajin memperdalam keislamannya di Masjid Karim Oi dan beberapa tempat lainnya. “Alhamdulillah, aku sudah bisa membacanya meski tak terlalu mahir,” ujarnya dengan tenang ketika Hidayah menanyakan kepadanya soal bisa dan tidak membaca al-Qur’an.

“Ternyata kamu memang tampak makin tenang, Kun,” timpalku dalam hati.
Hari kian senja. Jam telah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Sesaat lagi akan berbuka puasa. Sore itu, Masjid Karim Oi sedang ramai karena ada liputan langsung dari salah satu televisi swasta tentang berbuka puasa dan shalat berjamaah. Kami pun berpamitan karena Kunadi sebenarnya sedang sibuk, turut ambil bagian dalam acara itu. Motor merk terkenal dari branch terkenal pun akhirnya membawaku pergi, memisahkan pertemuan kami berdua di senja Ramadhan kala itu.

“Selamat, semoga dia bisa menjadi Muslim yang sejati!” bisikku dalam hati mengantar kepergianku sore itu dari Masjid Karim Oi.

Eep Khunaefi

Rabu, September 17, 2008

AHMAD BEBEN (BERNARD JUNIARDI, "SURAT MARYAM MENGGUGAHKU UNTUK MASUK ISLAM"


“Entahlah, jika temanku tidak pernah memberikanku sebuah al-Qur’an terjemahan, mungkin aku akan tersesat selamanya. Sebab, melalui al-Qur’an inilah aku menemukan setetes hidayah yang aku cari selama ini. Di sini akhirnya aku temukan sebuah kebenaran bahwa Isa bukanlah Tuhan, tapi hanya seorang Nabi.”

Demikian pengakuan Ahmad Beben, laki-laki keturunan Tionghoa yang kemudian masuk Islam setelah membaca al-Qur’an terjemahan pemberian sahabatnya. Kepada Hidayah, laki-laki berkacamata pemilik nama asli Bernard Juniardi ini pun bicara blak-blakan seputar perjalanan hidupnya menjadi seorang Muslim yang penuh lika-liku, termasuk dirinya yang nyaris diusir kedua orang tuanya.

Yesus Hanya Seorang Nabi, Bukan Tuhan
Aku lahir di Jakarta, 11 Juni 1973. Aku tidak memiliki nama Tionghoa karena kedua orang tuaku sudah memberikan nama khas Indonesia sejak lahir yaitu Bernard Juniardi. Nama depanku sekilas agak kebarat-baratan, tetapi aku bangga dengan nama ini. Ada beberapa alasan kenapa kedua orang tuaku tidak memberikan nama Tionghoa, padahal aku murni keturunan warga bermata sipit itu.

Pertama, aku lahir pada situasi di mana orang yang memiliki nama Tionghoa harus diganti dengan nama Indonesia atau nama lainnya. Kedua orang tuaku berpikir, orang yang sudah punya nama Tionghoa saja harus diganti dengan nama selainnya, apalagi anak yang baru dilahirkannya yaitu aku. Akhirnya, kedua orang tua pun memberikan nama Bernard Juniardi, yang jelas tidak ada kemiripan sama sekali dengan nama Tionghoa.

Kedua, agar aku bisa membaur dengan orang-orang lokal. Dengan nama Indonesia, kelak aku diharapkan bisa mudah berbaur dengan orang-orang di tempat aku dilahirkan. Agar kesan aku sebagai seorang Tionghoa tidak diusik karena aku juga memiliki nama Indonesia.

Sehari-hari aku dipanggil Beben. Sejak kecil aku menganut agama Katolik Roma, bukan agama nenek moyang yaitu Tionghoa. Agak aneh, memang. Tetapi, begitulah kenyataannya. Karena itu, sejak kecil aku pun diberikan bimbingan dan pengetahuan tentang ajaran-ajaran Katolik. Aku diajarkan bahwa Yesus adalah Tuhan, bukan seorang Nabi. Aku juga diajarkan bahwa Yesus telah meninggal dunia sebagai bentuk pengorbanannya kepada umat manusia. Yang lebih mengerikan lagi, aku didoktrin sebuah citra negatif tentang agama Islam yang suka pada kekerasan dan sebagainya.

Pemahamanku tentang konsep ketuhanan Yesus dalam ajaran Katolik Roma ini terus kubawa sampai usia 27 tahun, tepatnya tahun 2000. Pada tahun ini, aku mengalami sebuah momen sejarah yang paling penting dalam hidupku. Hatiku seperti tercabik-cabik oleh sebuah kenyataan yang nyaris tidak kupercayai sebelumnya. Aku menemukan fakta bahwa Yesus ternyata bukanlah Tuhan, tapi hanya seorang Nabi.

Awalnya, seorang sahabat memberikanku sebuah al-Qur’an terjemahan. Bagiku, kitab suci ini tidaklah begitu asing. Karena itu, aku menerimanya dengan lapang dada. Meski begitu, kadang hati kecilku selalu bertanya-tanya, kenapa aku harus menerima pemberian temanku itu padahal aku beragama Katolik.

Mungkin inilah yang dinamakan takdir! Aku lalu membaca al-Qur’an terjemahan tersebut mulai dari surat al-Fatihah, al-Baqarah, al-Imran, al-Nisa dan seterusnya. Aku baca perlahan-lahan penuh konsentrasi. Tidak ada yang mampu menggugah perasaanku saat membacanya. Semuanya sama seperti aku membaca buku-buku lainnya atau saat aku membaca Injil, kitab pegangan aku sendiri.

Surat Maryam Menggugah Keyakinanku
Tetapi, keanehan kemudian menghinggap perasaan dan pikiranku tatkala bacaanku sampai pada Surat Maryam. Tidak pernah kusadari, aku menemukan sebuah ayat yang menjelaskan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, tapi hanyalah seorang Nabi. Pengetahuan semacam ini jelas saja membredel keyakinanku selama ini yang mengklaim bahwa Isa adalah Tuhan.

Beberapa saat aku tercenung memikirkan ayat tersebut. Benarkah yang ditulis oleh al-Qur’an itu! Apakah yang diajarkan oleh Injil selama ini adalah salah? Sejuta pertanyaan menggelanyut dalam pikiranku kala itu. Aku nyaris tidak bisa tidur memikirkannya. Aku stress berat.

Lalu aku tanyakan mengenai hal ini pada pendeta dan pastur. Apakah benar Yesus itu adalah Tuhan? Mereka ternyata tidak bisa menjawab. Andai pun mereka menjawab, tetapi alasan-alasan yang mereka kemukakan tetap tidak rasional atau tidak masuk akal. Ironinya, kenapa hal ini baru aku rasakan sekarang setelah membaca al-Qur’an? Kenapa dari dulu aku tidak pernah meragukannya?

Tidak itu saja, aku pun mulai bertanya pada pendeta dan pastur itu mengenai kematian Yesus. Benarkah Yesus itu sudah meninggal? Jika ya, kenapa beberapa ilmuwan saat menggali kuburnya tidak ditemukan jasadnya? Mereka pun tidak bisa menjawab. Begitu pula saat aku menanyakan pada mereka mengenai konsep trinitas, mereka tetap tidak bisa menjawab.
Mereka sendiri kehilangan akal untuk menjawab kenapa Tuhan itu ada tiga?
Keadaan ini akhirnya membuatku bimbang. Aku seperti berada di ruang hampa yang tak berpenghuni dan sepi. Terus terang, sejak itu aku mulai malas pergi ke gereja, sebuah aktivitas yang sebenarnya sering aku lakukan sebelumnya. Aku sudah mulai ragu dengan ajaran agamaku sendiri. Kenapa orang-orang yang aku anggap pintar dalam soal agama tidak bisa menjawab persoalan-persoalan di atas? Apakah mereka yang bodoh ataukah ajaran-ajaran yang ada dalam Kitab Injil sendiri yang tidak rasional, yang tidak ada jawabannya?

Akhirnya aku memutuskan untuk mendalami lebih jauh mengenai al-Qur’an dan Injil. Selama dua tahun aku mendalami kedua kitab tersebut, akhirnya kutemukan sebuah kesimpulan bahwa apa yang dikatakan al-Qur’an semuanya adalah benar. Sebaliknya, yang dikatakan Injil banyak kesalahannya. Karena itu, banyak sekali dalam kitab Injil ditemukan perbedaan. Makanya, ada Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru dan sebagainya.

Satu hal pula yang membuatku yakin pada al-Qur’an adalah bahwa di mana pun aku menemukan al-Qur’an, pasti tidak ada teks atau bacaan yang berbeda satu sama lain. Ini memberikan gambaran padaku bahwa kitab suci ini pasti ada yang menjaganya. Setelah kurenungi lebih dalam, pasti semua ini ada campur tangan Allah yaitu Tuhannya orang Islam. Kepastian mengenai hal ini pun akhirnya kutemukan pada ayat al-Qur’an yang berbunyi, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Peringatan (al-Qur’an) dan Kami pula yang Menjaganya.”

Sebaliknya, Injil yang sekarang ini sudah mengalami perubahan karena ulah Paulus dan Raja Constantine, Raja Romawi. Kedua orang inilah yang merusak kitab Injil jauh dari aslinya. Bahasa asli kitab Injil yaitu bahasa Ibrani diterjemahkan ke dalam bahasa Romawi, semaunya sendiri sehingga banyak mengalami perubahan dari teks aslinya. Pada perkembangannya, Injil tersebut diterjemahkan kembali dengan bahasa-bahasa lainnya. Karena itu, kita menemukan banyak kitab Injil yang satu sama lain isinya berbeda-beda. Sedang al-Qur’an dari dulu hingga sekarang selalu menggunakan bahasa Arab. Ini menggambarkan bahwa Kitab Injil tidak dijaga Allah, sedangkan al-Qur’an dijaga oleh-Nya.

Saat kutanyakan pada pendeta dan pastur, di manakah Kitab Injil asli yang berbahasa Ibrani, mereka tidak bisa menjawabnya. Dari sini saja, sebenarnya kita mafhum bahwa Kitab Injil yang sekarang telah mengalami reduksional yang hebat, yang keluar dari teks aslinya.

Satu hal lagi, setelah kudalami al-Qur’an akhirnya kutemukan bahwa Yesus itu ternyata tidak meninggal. Ia diangkat oleh Allah ke atas langit dan suatu saat pasti akan diturunkan kembali. Konsep ini jelas sekali berbeda dengan keyakinan umat Katolik di mana Yesus meninggal karena dibunuh. Tapi, ketika disuruh untuk membuktikan jasadnya, mereka tidak bisa melakukannya. Karena sebenarnya yang dibunuh itu adalah orang yang diserupakan wajahnya dengan Yesus atau Nabi Isa.

Dari sini aku semakin paham, mana kitab suci yang benar dan mana pula kitab suci yang salah? Apalagi, di dalam al-Qur’an akhirnya kutemukan bahwa “Sesungguhnya agama yang paling diridhai di sisi Allah adalah agama Islam.” Dengan begitu, otomatis kitab yang paling benar adalah kitab al-Qur’an.

Pada tahun 2001 akhirnya aku putuskan untuk mempelajari agama Islam lebih mendalam. Aku masuk Pesantren Ash-Shiddiqiyah, Cinere, Depok. Aku dibantu oleh orang-orang Departemen Agama di situ. Setelah yakin, pada 1 Ramadhan 1422 H (2002), akhirnya aku memutuskan untuk masuk Islam. Aku mengucap syahadat di Masjid Raya Bambu Apus, Ciputat, Tangerang disaksikan oleh KH. Ato’ Muzar Munawar dan KH. Muhammad Sidiq Umari serta para staf Departemen Agama.

Pada hari pertama Ramadhan itu pula aku mulai berpuasa dan shalat tarawih. Alhamdulillah, sebulan penuh aku bisa menjalankannya. Sebab, sebelum aku masuk Islam dan tinggal di pesantren aku sudah dilatih berpuasa dan zikir dulu oleh pak kiayi. Karena itu, saat aku masuk Islam pada hari pertama bulan Ramadhan, hari itu juga aku bisa menunaikan ibadah puasa sampai sebulan penuh.

Bagaimana reaksi kedua orang ketika mendengar aku masuk Islam? Saat mendengar aku masuk Islam, aku nyaris diusir kedua orang tua dan nenekku. Aku sempat berkelahi dengan bapakku. Untungnya, Allah masih menolongku sehingga mereka akhirnya mengurungkan niat untuk mengusirku. Sebab, meski bagaimana pun aku adalah anak mereka dan salah seorang anggota keluarga mereka.

Kini, namaku sudah berubah menjadi Ahmad Beben. Nama Ahmad sendiri merupakan pemberian KH. Muhammad Sidiq Umari, sedang Beben adalah nama kecilku. Aku ingin melekatkan nama Islam dan nama masa laluku juga. Aku pun menjadi manusia baru. Aku seperti bayi yang baru lahir lagi.

Setelah masuk Islam, di Masjid Raya Bambu Apus itu langsung kutegaskan pada jamaah bahwa aku masuk Islam tidak untuk main-main. Aku ingin mati dalam keadaan Islam. Aku ingin berdakwah menegakkan agama Islam sampai titik darah penghabisan. Bahkan, kalau bisa, aku meninggal di dalam masjid sebagai mujahid, sebagai orang yang sedang berdakwah.

Dua Sisi Mata Uang
Kini, setelah aku menjadi seorang Muslim banyak sekali kutemukan kedamaian di sini. Emosiku semakin terkontrol, yang sebelumnya mudah meledak-ledak. Aku semakin sabar menghadapi persoalan apapun, yang sebelumnya hampir sulit kulakukan.

Hal yang paling membahagiakan, Islam telah merubah perilaku burukku selama ini. Dulu, saat masih Kristiani, aku adalah seorang pemabuk. Kuhabiskan banyak waktu hanya dengan minum-minuman keras. Aku juga suka berjudi. Uangku habis hanya karena persoalan yang satu ini. Pada saat itu aku merasa, mabuk dan judi adalah dua hal yang tak terpisahkan. Tanpa keduanya, maka tanpa pula diriku.

Islam lalu merubah seluruh perilaku burukku itu. Aku tidak saja sadar bahwa mabuk dan judi merupakan perbuatan tercela yang dilarang oleh Allah dan dosanya besar. Tapi, aku juga semakin menyadari bahwa keduanya sama sekali tidak pernah berguna bagi diriku. Yang ada, hanyalah semakin membuat tubuhku rusak dan hidupku berantakan.

Islam pula yang kemudian membuat hidupku semakin terarah. Aku seperti punya masa depan yang cerah di depan. Hidupku semakin tertata rapih. Ada rencana dan konsep yang jelas. Aku sendiri tidak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi setelah aku masuk Islam. Yang jelas, Islam benar-benar telah merubah hidupku. Aku semakin damai dan tenang.

Mungkinkah ini berkat shalat, puasa dan zikir yang kulakukan setelah masuk Islam! Setelah kupahami lebih dalam, semua ini ada benarnya. Dalam shalat, puasa dan zikir kutemukan bagaimana caranya berkonsentrasi dan berkontemplasi. Akhirnya, kutemukan ketenangan dan kedamaian.

Hanya saja kadang aku berpikir, apakah aku tidak dikatakan terlambat untuk masuk Islam di usia 29 tahun? Bila mengingatnya, terutama setiap kali datang satu ramadhan, aku kadang menangis. Tapi, di sisi lain aku juga bahagia. Aku berpikir, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Begitulah diriku setelah masuk Islam. Pasti ada sisi baik dan buruk yang kualami.

Salah satu resiko yang kuterima setelah masuk Islam adalah aku dipecat dari perusahaan tempatku bekerja. Aku dianggap berani melawan pimpinan. Padahal, pada saat itu aku hanya berusaha mengatakan yang sebenarnya. Ceritanya, aku dan teman-temanku berniat shalat Jum’at, tapi dilarang oleh pimpinan. Aku tetap memaksanya. Bahkan, mengompori teman-teman untuk tetap melakukannya.

Usai shalat Jum’at, aku didatangi oleh pimpinan. Ia murka kepadaku. Ia mengomeliku karena dianggap berani melawan kebijakan perusahaan. Tapi, aku bilang padanya bahwa apa yang aku lakukan semata-mata kewajibanku sebagai seorang Muslim. Shalat itu merupakan perintah Tuhan. Hal ini kukatakan padanya secara gamblang. Tetapi, ia terus mengomeliku. Tidak ada kata ampun lagi, aku pun bilang pada pimpinanku itu bahwa ia seorang kafir. Aku lepas kontrol saat itu, karena ia benar-benar tidak menghargai diriku yang seorang Muslim dan juga teman-temanku yang lain.

Usai kejadian itu, tiga bulan kemudian aku dipecat oleh perusahaan setelah aku bekerja selama setahun setengah. Aku tidak menyesal atas apa yang aku perbuat itu. Aku pikir ini sudah menjadi resiko atas keislamanku bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Pasti ada sisi baik dan buruk atas segala sikap yang diambil. Bagiku, ini hanyalah kericil-kericil kecil yang bisa kusingkirkan dan kuatasi. Di depan, ujiannya mungkin jauh lebih besar.

Tidak itu saja, aku juga dijauhi oleh teman-teman Kristianiku. Mereka menarik diri dari pergaulan bersamaku. Bagiku, ini sama sekali tidak masalah. Toh, aku juga punya kawan baru yaitu orang-orang Muslim, yang tentu jauh lebih mengerti dan menyadari keadaanku.
Aku juga ada gap dengan kedua orang tua, nenek dan adik-adikku. Sekali lagi, ini adalah resiko yang harus aku tanggung atas keislamanku. Aku tidak akan menarik kakiku untuk kembali ke belakang. Aku harus melangkah ke depan. Di depan masih banyak hal yang perlu kupikirkan dan kulakukan dibandingkan hanya memikirkan hal-hal yang tidak perlu.

Kini, kegiatanku adalah berdakwah dari satu tempat ke tempat yang lain. Aku dakwahkan apa yang bisa kulakukan. Keterbatasan pengetahuanku tentang agama Islam, tidak menyurutanku untuk berhenti berdakwah. Ini jauh lebih baik dibandingkan tidak sama sekali. Bahkan, aku ingin meninggal di dalam masjid dalam keadaan berdakwah.

Kini, sudah enam tahun berlalu aku menjadi seorang muallaf. Selama itu pula aku selalu menanamkan citra positif tentang Islam pada orang-orang non-Islam. Inilah dakwah penting yang harus dilakukan oleh umat Islam. Sebab, selama ini mereka cenderung berpikir negatif tentang Islam. Akibatnya, mereka takut pada orang Islam. Pada akhirnya, orang Islam pun dijauhi.

Setiap kali aku berdakwah, selalu kusampaikan hal ini yaitu bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Kepada ibuku dan adikku yang kini masih hidup, tak pernah jera kusampaikan mengenai kelembutan dan kedamaian Islam ini. Hanya saja, mereka rupanya belum mendapatkan hidayah dari Allah. Mereka masih phobia terhadap Islam. Tapi, aku tak pernah jera untuk membuat ibu dan adik-adikku mengerti bahwa agama yang kupeluk sekarang ini adalah agama yang paling benar di sisi Allah. Ayahku sendiri telah wafat tahun 2006, sedang nenekku setahun sebelumnya.

Satu hal yang selalu kutanamkan dalam pikiranku bahwa aku tidak boleh takut pada ancaman apapun yang membahayakan keselamatanku. Aku tetap akan bicara lantang tentang kebenaran Islam. Sebaliknya, aku akan blak-blakan bicara tentang kekeliruan ajaran Kristen. Aku sedikit keras dalam hal ini dan mungkin beresiko bagi keselamatanku. Tapi, ini adalah resiko yang harus kuambil sebagai bagian dari dakwah dan perjuangan menegakkan kalimat-kalimat Allah. Aku ikhlas jika seandainya harus mendapatkan ajalku dalam perjalanan dakwah. Justru inilah yang harus kucari yaitu keridhaan Allah SWT. Amien. (Eep Khunaefi/dimuat di Hidayah edisi 87)

Selasa, November 13, 2007

Soraya Abdullah Balvas, Mendapat Hidayah Setelah Masuk Pesantren

Sebagai manusia, hal yang sangat wajar mendambahkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Bagi artis Soraya Abdullah Balvas (29 th), konsep ini pun berlaku untuknya. Meski hidupnya penuh dengan glamor, tetapi ketika dirinya sadar telah berumah tangga, ia pun berusaha untuk menjadi istri yang salehah. Tetapi, takdir Tuhan ternyata berkata lain. Di tengah jalan, rumah tangga yang berusaha dipertahankannya tiba-tiba diterjang badai dan tidak bisa diselamatkan lagi.


Soraya pun berduka. Ternyata “hal terpahit dalam hidupnya” itu bukan saja fenomena lumrah yang dilihatnya dalam adegan-adegan sinetron di televisi, tapi drama kehidupan yang nyata dijalaninya.

Hari demi hari ia merasakan “bumi” ini seperti hendak menghimpitnya. Sangat sesak sekali. Apalagi, ada “anak semata wayang” yang harus dihidupinya. Bagaimana ia bisa keluar dari ujian Tuhan yang sangat berat ini? Siapa saja sosok yang paling berperan di belakangnya?


Ditemui habis mengikuti pengajian di rumah Rina Umar, anak dari Umar Wirahadikusumah (almarhum), mantan Wakil Presiden RI, pada Selasa, 26 Juni 2007, jam 12.00 WIB, Soraya pun bertutur terus terang kepada Hidayah mengenai kisah hidupnya yang sempat terpuruk akibat perceraian, kemudian bisa bangkit setelah “hidayah” Tuhan datang melalui sebuah pesantren, tempat dirinya berlabuh dari segala duka yang menghimpitnya.

Masuk Pesantren

Sebagai seorang artis, sosok Soraya Abdullah terbilang cukup sukses. Berbagai peran sinetron dibintanginya dan menuai sukses di pasaran seperti Teman Ajaib, Bajaj, Kehormatan, Hidayah, dan Misteri Ilahi. Sebagai presenter pun pernah ia lakoni di Hello Selebriti.


Layaknya seorang artis, Soraya pun menjalani hari-hari hidupnya penuh dengan glamor. Bersenang-senang dan gaya hidup metropolis dilakoninya, meski tidak sampai terjerembab ke dalam pesta narkoba atau minuman keras. “Popularitas di sebelah kanan dan duit di sebelah kiri,” ujar Soraya menggambarkan kejayaannya sebagai seorang artis kala itu.

Imbas gaya hidup dan ketenaran yang ia raih, agama pun mulai ditinggalkan. Shalat lima waktu mulai bolong-bolong dikerjakan. Ia menyadari konsekuensi dirinya sebagai seorang artis, yang sangat padat dengan jadwal shoting dan kegiatan. Jika sedang shoting dan datang waktu shalat, ia sering lalai menunaikannya. Begitu juga ketika ia sedang berada di mal untuk melampiaskan ambisi “anak mudanya”, sampai melupakan shalat.


“Saya shalat di rumah saja. Jika saya pergi ke mal habis Dzuhur misalnya, lalu pulang habis Isya. Otomatis saya tidak shalat Ashar dan Maghrib di luar. Di rumah saya hanya mengerjakan shalat Isya,” aku Soraya. Baginya, ibadah shalat belum menjadi keharusan saat itu. Jika ada waktu saja, shalat itu mau dikerjakan.

Padahal, jika saja saat itu ia mau mendengarkan saran sang pacar, mungkin kisahnya akan lain. “Saat itu saya punya pacar dengan pria yang sangat mengerti agama. Ia tidak mau pacaran, maunya langsung kawin saja. Sebab, di matanya pacaran tidak baik imbasnya,” ujar Soraya.
Tetapi, ajakan sang pacar ditolaknya. Bahkan, Soraya kemudian memutuskan hubungan tanpa sebab yang jelas. Laki-laki itu digantungnya. Sms-smsnya tidak dijawab oleh Soraya. Saat itu “gengsi selebritisnya” masih sangat tinggi.


“Saat itu usia saya masih 20-an, masih senang-senangnya hura-hura. Apalagi, popularistas saya semakin meningkat. Berbagai sinetron terus-menerus saya bintangi dan duit pun seperti dalam genggaman,” tutur Soraya.

Putus dari pacar, Soraya pun semakin larut dalam dunianya. Ia pun merasakan dunia seolah dalam genggamannya. Segala cita-cita yang diimpikan sejak kecil seperti telah ia raih. Apalagi, beberapa saat kemudian ia menemukan tambatan hatinya yang tidak akan mengusik-usik karirnya sebagai seorang artis, tidak sepeti pacar sebelumnya.


Ketika tambatan hati itu melamar Soraya, ia pun tak kuasa menolaknya. Mereka pun menikah. Setahun setelah pernikahan, mereka dikaruniai anak. lengkap sudah kebahagian Soraya. Karir cemerlang, duit banyak dan keluarga bahagia.

Tapi, kebahagiaan Soraya merajut rumah tangga ternyata hanya berlangsung 2,5 tahun. Kelahiran sang baby, ternyata tak membuat hubungan Soraya dengan sang suami semanis gula. Setelah usia sang baby memasuki dua bulan, justru pernikahan Soraya yang didambakan itu menuai kehancuran.


“Tanpa sebab yang jelas tiba-tiba suami menceraikanku,” jujur Soraya.

Berbagai upaya dilakukan Soraya agar pernikahannya tidak pupus di tengah jalan. Apalagi, bila ia melihat sang baby masih berusia dua bulan. Tapi, keputusan mutlak sang suami untuk berpisah tidak bisa dielakkan lagi. Laki-laki itu dengan tegas mengatakan akan berpisah dengan Soraya.


Hati Soraya hancur berkeping-keping, bagai daging diiris-iris pisau. Dadanya bergolak keras seperti air mendidih. Ia tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Sang arjuna telah mengkhianati perkawinan suci yang sejak awal menjadi komitmen mereka untuk dipertahankan. “Saya tidak tahu apa yang menyebabkan ia menceraikanku,” ujar Soraya masih tidak percaya.

Sejak bercerai setiap hari Soraya lakoni hidupnya seperti suasana di malam hari, sangat gelap dan sunyi. Ia merasakan seolah bumi telah menelannya dan langit seperti mau jatuh lalu menghimpitnya. Dadanya sesak sekali. “Aku hanya bisa menangis dan menangis,” ujarnya.


Padahal, sebagai seorang istri, Soraya merasa dirinya telah menjalani kewajibannya. Hak-hak suami telah dipenuhinya dengan baik. Lalu apa yang didapatkan dari semuanya ini? Inikah balasannya?


Soraya terus memikirkan gagalnya pernikahan yang telah dirajutnya dengan baik. Ia masih tidak percaya atas apa yang terjadi di depannya. Kenapa suami begitu tega menceraikannya?
Imbasnya, Soraya menjadi wanita pemurung. Ia menjadi tidak bergairah dan bersemangat lagi.


“Satu bulan kondisi saya dalam keadaan tidak stabil. Diajak bicara tidak nyambung. Pikiran saya seperti blank (kosong). Tidak bisa konsentrasi,” ujar anak ke 3 dari 4 bersaudara dari pasangan Abdullah Saleh Balvas dan Sallymah ini.

Melihat keadaan Soraya yang demikian memprihatinkan, keluarga bertindak cepat. “Hal ini tidak boleh dibiarkan. Ia tidak boleh dibawa ke psikiater. Ia harus dipesantrenkan,” tiru Soraya atas ucapan keluarganya kala itu.


Soraya lalu dibawa ke Pesantren Al-Ihya di Ciomas, Bogor pimpinan KH. M. Husni Thamrin. Saat itu menjelang bulan Ramadhan 2004. “Hari-hari pertama di pesantren, saya masih belum bergairah. Pikiran saya masih suka blank. Berat badan pun turun 20 kg,” ujar Soraya.

Tetapi, di tengah ketidakstabilan emosi dan pikiran Soraya saat itu, ia masih memiliki “setitik” kesadaran untuk bisa melihat dan berpikir. “Meski masih stress, setiap hari saya selalu mendengar bacaan al-Qur’an di sini,” ujarnya.


Seminggu di pesantren, hati Soraya semakin tenang. Kondisinya mulai stabil. “Sebab setiap saat para ustadz dan ustadzah di sini selalu membimbing saya. Saya tidak bisa dibiarkan sendirian. Setiap satu jam selalu saja ada ustadz dan ustadzah yang menemani saya,” ujar Soraya.

Pada saat itulah, para ustadz dan ustadzah tersebut selalu memberikan motivasi pada Soraya. Ia juga diberikan pendidikan agama seperti tentang al-Qur’an, hadits, fikih, tauhid dan sebagainya. “Saking stressnya saya hampir lupa bacaan al-Fatihah,” aku Soraya.


Setelah seminggu berlalu, kondisi emosi dan kejiwaan Soraya pun benar-benar mulai tenang. Ia mulai belajar al-Qur’an lagi dari titik nol. “Saya mulai belajar ta’awudz dan basmalah lagi,” ujarnya. Ia juga mulai rajin menunaikan shalat malam setiap hari. “Saya juga mulai berjilbab. Sebab, di sini seluruh santri putri pakai jilbab. Saya melihat mereka kok anggun sekali. Saya lalu tertarik untuk mencobanya, ternyata sangat nyaman sekali,” ujarnya.

Niat sebentar di pesantren, akhirnya tidak jadi. Soraya justru semakin betah di pesantren. Ramadhan pun dihabiskan di pesantren. “Selama 40 hari saya di pesantren. Sebelum saya memastikan tinggal lama di pesantren saya telpon keluarga saya di rumah agar membatalkan semua kontrak saya dengan para Production House (PH). Rupanya mereka mengerti. Setiap sinetron yang melibatkan adegan saya pun akhirnya ditiadakan,” ujar Soraya.


Setelah 40 hari di pesantren Soraya pamitan pada pak kiayi, para ustadz dan ustadzah di sana, dalam kondisi yang sudah benar-benar stabil. Kini, ia pun mulai menatap masa depannya lebih cerah lagi. Dengan penampilan baru yakni berjilbab, ia pun mulai merengkuh kembali dunia selebritis yang sempat ditinggalkannya selama di pesantren.

Ujian Berjilbab

Keluar dari pesantren, Soraya mendatangi kembali PH yang pernah mengontraknya. Ia pun ditawari kembali. “Tetapi, saya diharuskan membuka jilbab. Saya akhirnya terpaksa melakukannya,” ujar Soraya.


Demi mendapatkan penghasilan, Soraya terpaksa membuka jilbab saat shoting. Tetapi, selesai shoting ia kembali mengenakan jilbabnya. “Tapi, saya merasa kok orang-orang sedang menelanjangi saya,” ucap Soraya.

Di tengah hiruk pikuk para kru sinetron saat shoting, Soraya merasa mereka telah menelanjangi dirinya karena tidak berjilbab. Ia malu pada seluruh orang di Indonesia. Hati kecilnya tidak terima atas keharusan dirinya untuk membuka jilbab. Karena itu ketika kontrak selesai dan mau diperpanjang lagi, Soraya pun berkata pada para produser, termasuk kepada Ilham Bintang, Manoj Punjabi dan Shanker,


“Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak yang telah memperpanjang kontrak saya lagi. Tapi, sekarang saya sudah berjilbab. Mohon maaf lahir dan batin, mungkinkah adegan nanti saya memakai jilbab. Kalau Bapak bisa mempertimbangkannya, saya ucapkan terima kasih sekali. Tapi, kalau tidak bisa, saya akan mundur.”

Ternyata tawaran Soraya ditolak oleh para produser. Ia pun meminta mundur dari kontrak itu. Soraya lalu mencari PH-PH lain yang mau mengontraknya dalam beberapa adegan sinetron yang digarap mereka. Tetapi syarat yang diajukan Soraya untuk berjilbab ternyata dirasa berat. Soraya pun tidak pernah mendapatkan kontrak sinetron lagi selama beberapa bulan.


“Selama 3-4 bulan saya menganggur. Saya ke sana kemari mencari pekerjaan. Tetapi, satu pun tidak ada yang menerima saya dalam keadaan berjilbab,” ujar Soraya.

Tabungan Soraya pun makin lama semakin ludes. Puncaknya, ia hanya punya uang sepuluh ribu rupiah. “Saya sampai bilang pada empat pembantu saya. Kebetulan sejak saya bercerai, keempat pembantu saya ikut saya semua. Saya katakan pada mereka saat itu, jika kalian ikut sama saya, saya tidak ada uang untuk menggaji kalian. Tetapi, mereka bilang tidak apa-apa,” ujar Soraya.


Bagi Soraya keadaan seperti ini merupakan ujian terberat baginya ketika pertama kali mengenakan jilbab. “Saya merasa Tuhan sedang menguji saya, apakah saya bisa tahan dengan kondisi seperti ini atau tidak?” ujarnya.

Selama itu Soraya hanya makan pakai lauk seadanya dan mie rebus. Bagi seorang artis seperti dirinya, keadaan seperti ini cukup memprihatinkan sekali. “Saya sampai bilang pada pembantu saya, bagaimana jika kita puasa Nabi Daud? Ternyata mereka bilang tidak apa-apa,” ujar Soraya.


Selama itu Soraya pun terpaksa puasa Nabi Daud, hari ini puasa dan besok tidak. Begitu seterusnya. Soraya sengaja tidak memberitahukan keadaan ini pada keluarganya. Ia tidak ingin keluarganya sedih ketika mendengar keadaannya yang memprihatinkan. “Mereka hanya tahu saya dapat uang gono-gini dari suami, padahal saya tidak mendapatkan apa-apa,” terang Soraya.

Selama empat bulan Soraya hidup dalam kondisi memprihatinkan. Setelah ia sabar menjalaninya, balasan Tuhan pun akhirnya datang kepadanya. “Kebetulan saat itu sinetron-sinetron religius mulai merambah televisi. Saya pun ditawari main di Hidayah, Misteri Ilahi dan sinetron-sinetron agama lainnya,” ujar Soraya.


Keadaan Soraya yang berjilbab berbuah berkah sendiri. Sinetron-sinetron yang bertema religius yang mulai merambah televisi, bahkan kemudian booming, akhirnya menggunakan peran Soraya. Ia pun mulai kebanjiran tawaran main sinetron lagi. “Saking banyaknya, saya sampai kewalahan menerimanya. Inilah mungkin balasan Tuhan atas kesabaran saya,” ujar Soraya.

“Habis Gelap Terbitlah Terang,” seperti judul buku karya RA. Kartini itu pun benar-benar terjadi pada Soraya. Kini, hidupnya mulai terang kembali setelah dirinya banyak dipakai dalam sinetron-sinetron religius.

Kini, Konsisten Berjilbab


Satu tahun setelah Soraya bercerai dengan suaminya, mantan pacarnya tujuh tahun yang lalu tiba-tiba menelponnya kembali. Dalam telpon itu, ia mengajak Soraya untuk bertemu. Mereka pun bertemu. Betapa kagetnya laki-laki itu setelah melihat Soraya sudah berjilbab. “Saya dikira habis pergi umroh karena saya berjilbab,” ujar Soraya.

Laki-laki itu begitu tersentuh melihat perubahan Soraya yang semakin religius. Panah asmara yang telah menancapnya tujuh tahun lalu, kini bertambah besar lagi setelah melihat Soraya benar-benar telah berubah. “Setelah beberapa minggu saya bertemu dengan dia, dia mengajak saya menikah. Saya tidak langsung jawab, tapi shalat istikharah dulu,” ujar Soraya.


Setelah tiga kali shalat istikharah, Soraya pun merasa yakin kalau laki-laki yang diputusnya tujuh tahun yang lalu itu adalah laki-laki yang paling pantas untuk menjadi suaminya. “Saya sudah kenal dia sebelumnya. Ia juga mau menerima saya apa adanya, yang pernah menikah dan punya anak,” ujar Soraya.

Soraya pun kemudian menikah dengan laki-laki yang benar-benar mengerti agama. Kini, Soraya dikaruniai anak lagi buah perkawinannya dengan suami yang kedua. Usia perkawinannya telah menginjak dua tahun. Rumah tangga baru dibangunnya kembali.


Lantas, apa kesibukan Mbak Aya –penggilan akrab Soraya- setelah menjadi ibu rumah tangga untuk kedua kalinya?

“Setiap hari saya hampir selalu mengikuti pengajian yang diadakan baik oleh teman-teman ataupun pejabat. Sekarang saya juga lagi kuliah di STID Al-Hikmah mengambil jurusan Komunikasi dan Penyiaran. Sebab, kata suami, saya punya bakat menjadi seorang ustadzah karena pintar ngomong,” ujar Mbak Aya.


Mbak Aya juga tidak akan merubah penampilannya untuk selalu mengenakan jilbab. “Insya Allah, saya akan selalu berjilbab sampai kiamat. Menurut agama, menutup aurat itu hukumnya wajib seperti halnya shalat,” teguhnya.

Hidup bersama suami yang mengerti agama, bukan suatu hal yang sangat sulit bagi Mbak Aya untuk tetap konsisten mengenakan jilbab. Bahkan, ia tidak saja menerapkan berjilbab untuk dirinya, kepada teman-temannya sesama artis ia juga berusaha untuk menganjurkan hal yang sama. “Saya sering berpesan kepada teman-teman untuk mengenakan jilbab. Dan saya tidak bosan-bosan untuk terus menganjurkannya,” ujar Mbak Aya.


Demikian kisah hidup Soraya yang sempat terpuruk akibat perceraian, tetapi mendapat hidayah setelah masuk pesantren. “Bagi saya, ini adalah titik balik hidup saya. Sedikit sekali orang yang diberikan kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki dirinya. Banyak perempuan-perempuan yang didepak oleh suami, tapi tidak membuat mereka sadar malah bertambah stress. Saya bersyukur, karena akibat perceraian saya kemudian diberikan hidayah oleh-Nya,” ujar Soraya penuh syukur.

Semoga kita bisa mengikuti jejaknya! Amien.


Khunaefi

Kevin Paul James Barnett: Hidayah Lewat Sebuah Penyakit dan Buku

ABDURRAHMAN RUH AL-HAQ (Kevin Paul James Barnett)

HIDAYAH LEWAT SEBUAH PENYAKIT DAN BUKU
Hidayah Tuhan itu datang lewat mana saja. Seorang bule dari Inggris bernama Kevin Paul James Barnett mendapat hidayah setelah ia diserang penyakit disentri yang sangat akut. Akibat penyakit ini ia harus koma selama sebulan. Bukan itu saja, ia juga sangat tergugah setelah membaca buku Islam yang dibelinya di Singapura berjudul A Simple Guide to Prayer for Beginners. Ditemui di rumahnya yang cukup asri di Lebak Bulus, didampingi sang istri tercinta ia pun menuturkan kisahnya masuk Islam kepada Hidayah. Berikut penuturannya!

Aku lahir di sebuah negara mayoritas beragama Kristen-Protestan yaitu Inggris. Meski begitu, sebagian besar rakyat Inggris bukanlah pemeluk agama yang taat. Bagi mereka agama hanyalah sebuah label di Kartu Tanda Penduduk (KTP), bukan sesuatu yang harus dipercayai. Mereka lebih menggilai sepakbola dibandingkan agama. Agama menjadi pembicaraan yang tabu di kalangan mereka.

Seperti halnya kebanyakan warga Inggris, aku pun begitu dalam memandang agama. Bagiku, agama tidak begitu penting. Dalam pikiranku, yang ada hanyalah bagaimana bisa menghabiskan hidup ini dengan bersenang-senang. Sebab, seperti yang dipahami oleh kebanyakan teman-temanku di sana, aku juga menganggap tidak ada lagi kehidupan setelah hidup di dunia ini. Dewa dalam hidupku bukanlah Tuhan, tapi uang. Karena itu, mereka rata-rata hidup materialistik. Segala sesuatunya diatur oleh uang.

Sebagai laki-laki yang sudah bekerja, aku hidup serba berkecukupan. Aku bekerja sebagai Konsultan Informasi Teknologi (IT) di sebuah perusahaan besar di Inggris, membuat hidupku bergelimang penuh harta. Aku bebas pergi ke mana saja. Meski begitu, hidupku nyaris tak punya tujuan. Aku hidup mengalir begitu saja, tak pasti.

Hingga suatu kali aku sampai di sebuah negara mayoritas beragama Islam yaitu Kuwait. Aku berada di negara ini dalam rangka bekerja. Aku tetap bekerja sebagai konsultan IT, hingga kurang lebih tiga tahun lamanya.

Selama berada di Kuwait, aku bersinggungan dengan orang-orang Islam. Aku bergaul dengan mereka. Aku mulai sedikit tahu tentang Islam, sebuah agama yang sebelumnya aku anggap sebagai agama pembuat onar, penganjur kekerasan dan menakutkan. Di Kuwait, aku tidak menemukan Islam seperti yang aku sangkakan itu. Orang-orang Islam ternyata sagat ramah. Ternyata, Islam itu lembut dan bersahaja.

Meski aku sudah mulai kenal Islam, tapi hatiku belum terketuk untuk memeluk Islam. Aku masih ego. Aku masih ingin bebas, tanpa terikat dengan agama manapun termasuk Islam. Sebab, aku sendiri bukanlah pemeluk agama Kristen-Protestan yang taat. Aku lebih sibuk dengan pekerjaan. Aku sibuk mencari uang sebanyak-banyaknya.

Dari Kuwait aku dapat tugas lagi ke negara lain yaitu Kanada. Begitulah aku, sering pergi dari satu negara ke negara lain, hingga kemudian aku dapat tugas di Indonesia tahun 2001 yaitu sebagai Konsultan IT di Lippo Karawaci, Tangerang.

Indonesia adalah negara yang subur dan makmur. Penduduknya sangat banyak dan amat ramah kepada siapa saja, termasuk orang bule seperti aku. Di Indonesia aku seperti menemukan atmosfir yang sama saat aku berada di Kuwait. Penduduknya mayoritas beragama Islam dan baik-baik. Bahkan, dengan suhu tropis Indonesia yang nyaman, membuat aku jauh lebih betah tinggal di sini.

Di tempat pekerjaan, Lippo Karawaci, aku bertemu dengan seorang perempuan Muslimah yang menurutku cerdas dan menarik. Apalagi, perempuan itu bisa berbahasa Inggris. Aku yang memang tidak bisa berbahasa Indonesia merasa dia adalah sosok yang tepat untuk menjadi seorang teman selama berada di negeri ini. Makin lama aku kian dekat dengan dia.
Kedekatanku dengan perempuan yang bernama Novi Nurfiyani itu, membuatku tidak saja menjadi lebih nyaman selama tinggal di Indonesia tapi juga aku mulai diperkenalkan kembali tentang Islam. Aku mulai dekat lagi dengan Islam seperti yang pernah aku dapatkan saat di Kuwait.

Singkat kata, aku pun jatuh cintah sama dia. Indahnya, ia tidak menolak cintaku. Kami berkenalan tak begitu lama, tapi ia tidak menampik ketika aku mengutarakan isi hatiku. Punya pacar seorang wanita Muslimah, tentu aku pun harus mengikuti kaidah-kaidah Islam yang tidak pernah aku dapatkan saat hidup di Barat yaitu kebebasan.

Di Barat, hidup kumpul kebo itu sudah sangat biasa. Di sana laki-laki dan perempuan yang sedang dimabuk asmara sudah bukan hal yang tabu lagi untuk melakukan seks bebas. Bagi mereka, nikah adalah persoalan janji tulis di atas kertas. Semua itu, tidak pernah kami lakukan saat berpacaran dengan dia. Ia mengajarkan kepadaku bahwa kumpul kebo itu tidak ada dalam ajaran Islam. Hukumnya haram.

Keadaan seperti ini tidak saja membuatku semakin jatuh cinta sama dia, tapi juga kian jatuh cinta sama Islam. Ternyata, ajaran Islam sangat bermoral. Tata etika antara kehidupan manusia diatur dengan sangat baik. Aku pun berniat ingin belajar Islam lebih lanjut dan serius.
Maka aku pun dibawanya ke Yayasan Khasanah Kebajikan yang ada di Cirendeu. Di sana aku memperdalam Islam, mulai dari pengetahuan mendasar tentang Islam seperti shalat, wudhu, dan sebagainya. Dari sini aku semakin yakin tentang kebesaran Islam. Aku pun mengikrarkan diri masuk Islam.

Orang tua di Inggris mengetahui aku telah masuk Islam. Tetapi, mereka cuek saja dan tidak pernah mau perduli tentang agamaku. Mereka bersikap masa bodoh saja tentang agama baruku. Sebab, mereka sendiri bukanlah pemeluk agama Kristen-Protestan yang taat. Jadi, mereka memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk memeluk agama manapun.
Kecuekan orang tuaku pada agama ini, hampir dialami oleh sebagian besar warga Inggris. Meski mereka beragama Kristen-Protestan, tapi sebenarnya mereka tidak beragama. Mereka jarang ke gereja dan melakukan ibadah-ibadah Kristiani. Mereka lebih mendewakan sepakbola. Karena itu, di dekat-dekat gereja di Inggris hampir dipastikan ada sebuah stadiun lapangan sepak bola yang megah. Aku sendiri melihat ketidakpedulian orang tua pada agama baruku ini membuatku senang sekali. Aku jadi bisa tenang menjalani masa-masa awalku sebagai seorang Muslim.

Setelah masuk Islam aku mulai rajin membaca buku-buku Islam. Salah satu buku favoritku adalah karya Ruqayyah Maqsood berjudul Teach Yourself World Faith Islam. Dua minggu kemudian setelah aku masuk Islam, kami pun menikah. Ternyata, di dalam Islam seorang laki-laki yang hendak menikahi wanita Muslimah harus menjadi Muslim terlebih dahulu. Alhamdulillah, aku sudah melakukannya.

Penyakit Akut dan Buku yg Menggugah

Meski aku telah menjadi Muslim, tetapi aku belum mempraktekkan kewajiban-kewajiban Islam seperti shalat dan puasa. Aku sudah tahu bagaimana tata cara berwudhu, shalat dan puasa, tapi hatiku belum tergerak untuk melakukannya. Hakekatnya aku seorang Muslim, tapi sebenarnya aku adalah seorang non-Muslim karena tidak shalat dan puasa.

Istriku sangat sabar melihat keadaanku seperti ini. Ia tidak begitu murka ketika melihatku tak mau shalat. Di matanya, mungkin hidayah Tuhan belum datang kepadaku. Di balik semua itu, aku pun semakin sibuk dengan pekerjaanku sebagai seorang konsultan IT.

Hingga ujian Tuhan itu datang. Aku diberikan Tuhan sebuah penyakit yang bernama disentri (muntaber). Aku buang-buang air besar terus. Perutku sangat mulas dan sakit. Saking sakitnya, selama sebulan aku tidak bisa bekerja. Sebulan aku koma dan tidak berdaya berada di atas ranjang.

Ketika sakit aku terbayang tentang ajalku. Ah, mungkin hidupku tidak lama lagi. Oh Tuhan, jangan Engkau ambil nyawaku terlebih dahulu. Tiba-tiba aku ingat kepada Tuhan. Aku ingat kembali pada Islam. Aku telah menjadi seorang Muslim, tapi belum pernah mempraktekkannya. Aku pun berjanji dalam hati, jika aku sehat aku akan menjadi seorang Muslim sejati. Aku akan tetap mengingat-Mu, Tuhan.

Pertolongan Tuhan pun datang. Setelah aku koma selama sebulan akibat penyakit disentri, aku pun berangsur-angsur pulih. Akhirnya, aku pun sehat kembali. Aku pun ingat akan janjiku kala sakit.

Aku bilang pada istri, “Mah, aku mau pergi ke Singapura untuk membeli buku-buku Islam?”

Mengapa ke Singapura? Karena di Indonesia hampir sulit ditemukan buku Islam yang sederhana menggunakan bahasa Inggris. Sementara aku tidak bisa berbahasa Indonesia. Maka, satu-satunya jalan aku harus pergi ke suatu negara yang logatnya berbahasa Inggris dan penduduknya banyak beragama Islam. Di Singapura aku temukan hal itu. Lagi pula, ia negara tetangga dengan Indonesia, jadi tak butuh waktu lama untuk pergi ke sana.

Istri mengijinkanku. Aku pun pergi ke Singapura dan berhenti di sebuah kios besar yang menjual buku-buku Islam. Ketika aku masuk, kakiku seperti tertuntun untuk menuju sebuah buku Islam yang sederhana tentang shalat. Buku itu berjudul A Simple Guide to Prayer for Beginners karya Batool Al-Toma & Khaleel Muhammad. Buku ini sangat baik mengurai tentang cara-cara shalat, wudhu, adzan dan panduan-panduan Islam lainnya dengan cukup sederhana.

Meski isinya sederhana, tapi hal itu sangat menggugah pikiran dan jiwaku. Setelah membacanya, aku seperti terjaga dari tidur panjangku. Aku seperti disadarkan pada sebuah keberadaan Tuhan yang mesti aku sembah. Yang aku rasakan, seperti ada cahaya yang masuk ke dalam dadaku. Mungkin ini yang dinamakan hidayah. Setelah membaca buku itu, aku yang dulunya gelisah tiba-tiba menjadi tenang. Melalui buku itu, aku pun mulai mempraktekkan wudhu, shalat dan puasa. Setelah kupraktekkan ternyata kurasakan jiwa ini jauh lebih tenang dan damai.

Kini, aku pun benar-benar telah menjadi seorang Muslim yang sesungguhnya. Aku sudah shalat dan puasa. Istriku tentu sangat bangga dengan perubahanku. Keikhlasan istri melepas kepergianku ke Singapura untuk membeli buku ternyata berbuah manis. Buku itu telah merubah hidupku, selain penyakit disentri yang pernah kurasakan.

Aku semakin bangga lagi ketika hasil pernikahanku dengan istri berbuah tiga anak yang gagah dan cantik yaitu Muhammad Jaudaan Zia Shams Barnett, Neelofar Umm Salamah Barnett, dan Nazeefa Shams Unn Nahar Barnett.

Terima kasih Tuhan. Engkau telah membawaku pada Islam, sebuah agama yang kucari-cari selama ini. Jika tidak Engkau timpakan sakit padaku, mungkin aku tidak akan pernah ingat kepada-Mu. Engkau juga telah memberiku istri yang cantik dan salehah serta anak-anak yang lucu dan manja. Kini, hidupku benar-benar sempurna. Pekerjaanku cukup mapan. Setelah di Lippo Karawaci, aku sempat pindah ke perusahaan Sampurna lalu sekarang di Hutchison Ports Indonesia sebagai Business Systems Manager. Istri sudah kudapatkan dan anak-anak pun sudah Engkau berikan. Sekarang, aku tinggal banyak beribadah saja pada-Mu dan berbuat banyak amal kebajikan pada orang.

Buat Indonesia, aku merasa bangga kepadamu. Jika Tuhan tidak membawaku kepadamu, mungkin hidupku sudah tidak menentu. Sebab, di sini aku temukan Islam yang telah membuat hidupku memiliki tujuan. Aku sangat betah di sini. Aku ingin menjadi warga Indonesia. Aku tidak ingin kembali lagi ke Inggris, sebab iklim di sana sangat tidak baik buatku. Aku takut terjerumus lagi kepada hal-hal yang tidak baik. Doakan agar aku, istri dan anak-anak tetap konsisten pada agama Islam! Amien.

Eep Khunaefi
(Tulisan ini pernah dimuat di Hidayah pada edisi 77/Desember 2007)