Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Jumat, Desember 26, 2008

USTADZ H. NASIHIN: PERJALANAN SPIRITUAL MELIHAT ROHNYA SENDIRI (Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Variasari Edisi Perdana 2009)

Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa masalah roh adalah urusan Tuhan. Artinya, tidak ada orang yang tahu mengenai wujud roh karena merupakan persoalan gaib kecuali sang penciptanya. Tetapi, hal-hal “mustahil” bagi manusia untuk mengetahuinya itu, terkadang oleh Tuhan diberikan kesempatan untuk menjadi “mungkin”. Jadi, Tuhan yang menyatakan roh menjadi urusan-Nya dan Dia pula yang merubahnya menjadi sesuatu yang mungkin untuk diketahui oleh manusia.

Banyak amsal menunjukkan akan hal ini. Misalnya, manusia tidak bisa melihat setan atau makhluk halus. Kenyataannya, ada sebagian orang seperti orang-orang saleh atau orang yang memiliki kekuatan spiritual yang tinggi, justru bisa melihatnya –bahkan, menjadikannya kawan. Nabi sendiri bergaul bersama dengan para jin. Bahkan, jin yang selalu mendampingi Nabi disinyalir masih hidup hingga sekarang.

Ini artinya apa? Semua itu menunjukkan bahwa sesuatu yang mustahil diketahui oleh manusia, oleh Allah dengan mudah akan merubahnya menjadi mungkin. Apa yang dialami oleh Ustadz H. Nasihin ini adalah salah satu contohnya. Saat masih remaja (SMP), ia pernah melihat rohnya sendiri. Tentu, banyak orang yang tidak percaya akan ceritanya. Karena itu, beliau sendiri sebenarnya enggan menceritakan persoalan ini. “Pasti banyak orang yang tidak percaya, Mas,” ujarnya pada Variasari.

Kisah ini berawal dari keinginan Nasihin remaja untuk merasakan kematian. Ia terinspirasi oleh kisah Nabi Idris yang meminta pada Tuhannya untuk dimatikan. Doa Nabi Idris dikabulkan Tuhan. Ia pun meninggal dunia dan merasakan betapa sakitnya saat rohnya dicabut.
Jiwa remaja Nasihin yang ingin mencoba-coba sangat tergugah dengan kisah ini. Ia pun berpikir seandainya bisa mati dan merasakan saat rohnya dicabut oleh Malaikat Izrail. Makin lama dipikirkan, keinginan ini menjadi kuat. Ia pun menyadarinya bahwa semua itu bisa terjadi kalau dirinya sudah benar-benar dekat dengan Tuhan. Maka, Nasihin remaja pun memulai pendalaman spiritualnya.

Hal pertama yang dilakukan Nasihin remaja adalah membiasakan puasa Senin dan Kamis. Setelah beberapa kali melakukannya, ia merasa kurang. Lalu berganti menjadi puasa setiap hari. “Saat maghrib tiba, tetap saya buka,” ujarnya dengan mimik nyantai. Hampir sebulan ia melakukan puasa setiap hari. Bagi lelaki remaja, hal ini adalah sesuatu yang luar biasa. Sebab, anak remaja umumnya masih lebih senang pada main-main atau hura-hura dibandingkan konsen pada persoalan spiritual. Tetapi, Nasihin remaja sudah senang bergelut pada masalah ini.

Suatu malam ia pergi ke masjid untuk menunaikan shalat hajat dua rakaat. Usai shalat ia berdoa kepada Allah agar dirinya diberikan kesempatan untuk bisa merasakan kematian. Usai berdoa ia pun tertidur menghadap ke kiblat dengan posisi kepala di utara dan kaki di selatan. Tetapi, tidak lama kemudian ia terjaga. Ada sesuatu yang membangunkannya. Ujung-ujung jari kakinya seperti merasa kesemutan. Rasa kesemutan itu terus berjalan hingga pergelangan jari kaki dan berhenti. Setelah itu merembet naik lagi hingga mata kaki dan berhenti. Saat sampai di mata kaki, rasa kesemutan itu berhenti lagi. Lalu berjalan kembali menuju dengkul dan berhenti lagi. Lalu berjalan lagi menuju antara (maaf) alat vital dan perut. Setelah itu berjalan kembali hingga ke kerongkongan. Di kerongkongan ini berhenti agak lama. Lalu berjalan lagi menuju ubun-ubun dan ia pun merasakan rohnya seperti keluar dari jasadnya.

Selama prosesi keluarnya roh itu, Nasihin merasa takut sekali. Dalam batinnya terucap,“Ah, saya mati nih.” Meski sebelumnya ia berdoa kepada Allah agar diberikan kesempatan seperti Nabi Idris yang merasakan kematian, tetapi ketika dihadapkan pada hal yang sama, ia takut juga. Karena itu, ia tak henti-henti mengucap syahadat dalam hati selama prosesi itu.

Setelah dipastikan roh Nasihin telah keluar dari jasadnya, sesosok seperti bayangan putih berdiri di depannya. Itulah gambaran rohnya sendiri. Bentuknya seperti jasadnya, hanya saja sulit menggambarkannya. “Saya melihat saya sendiri,” ujarnya.

Oleh roh, jasad Nasihin ditanya, “Hai, gerakan tanganmu!” Nasihin pun menggerakan tangannya, tapi tidak bisa. Tidak bertenaga dan lemas sekali. Roh itu memerintahkan kembali, “Hai, gerakan kakimu!” Nasihin pun menggerakan kakinya, tapi tetap tidak bisa. Ia lemas dan tidak bertenaga.

Roh Nasihin lalu jalan-jalan dan melihat keluarganya yang sudah tertidur. “Saya melihat bapak dan ibu saya nyenyak dalam tidurnya,” ujarnya. Ia mengetahui semuanya itu padahal jasadnya berada di tempat yang lain. Roh Nasihin lalu kembali lagi mendekati jasadnya. Seketika itu jasadnya berdoa kepada Allah, “Ya Allah, sekiranya sekarang juga saya kembali kepada-Mu, saya ridha. Sebaliknya, jika Engkau berkenan mengembalikan roh saya ke jasad saya, maka kembalikanlah.”

Tetapi, belum saja roh Nasihin hendak masuk kembali ke jasadnya, tiba-tiba datang makhluk menyeramkan berwarna hitam pekat. “Bentuknya seperti roh saya sendiri, hanya saja warnanya hitam pekat,” ujarnya. Bayangan hitam itu hendak mengambil paksa roh Nasihin. Tetapi, ia membaca al-Qur’an sebanyak-banyaknya. Tiba-tiba bayangan hitam itu menjerit kesakitan dan lari terbirit-birit. Tidak lama kemudian, roh Nasihin masuk kembali ke jasadnya dengan selamat.

Tetapi, tidak seperti saat keluarnya yang perlahan-lahan, kali ini roh masuk secara langsung ke jasad Nasihin. “Setelah dipastikan roh saya masuk kembali, saya mengucapkan al-hamdulillah,” ujar Nasihin.

Besok harinya, di masjid itu Nasihin melihat ada pengajian di mana penceramahnya sedang berbicara masalah keluarnya roh dari jasad manusia. Nasihin mendengarkannya dari jauh. “Apa yang dijelaskannya ternyata persis seperti yang saya alami. Hanya saja bedanya, dalam kasus saya tidak ada malaikat Izrail-nya. Sebab, kalau ada saya pasti sudah mati,” ujarnya sambil tertawa.

Cahaya Putih

Sejak mengalami hal spiritual yang luar biasa itu, Nasihin remaja tidak mau menceritakannya kepada orang lain. Ia menyimpannya dalam-dalam. “Saya takut ini menjadi fitnah, Mas. Sebab, ini adalah masalah yang penuh resiko untuk dibicarakan,” ujarnya.

Ternyata kejadian aneh itu tidak berhenti sampai di situ. Suatu kali, Nasihin remaja shalat berjamaah Maghrib pada seorang imam yang menguasai beberapa bahasa: Arab, Inggris, Jerman, Jepang dan Belanda. Saat ruku’ ia merasakan ada cahaya terang di depannya. Lalu ia bangun dari ruku’, maka ia pun benar-benar melihat cahaya itu. “Putih sekali warnanya dan bentuknya seperti roh saya itu,” ujarnya.

Hal yang menakjubkan, cahaya terang itu sekonyong-konyong menyinari tubuhnya hingga ia menyelesaikan shalatnya. Setelah mengucapkan salam, tubuh Nasihin tiba-tiba ambruk tak berdaya. Ia jatuh terkulai hingga ditolong oleh jamaah lainnya untuk diistirahatkan. Saat ditanya orang, ia pun hanya menjawab tidak terjadi apa-apa. Semua itu dilakukannya untuk menutupi hal yang sebenarnya. Meski badannya lemas tak berdaya, hatinya merasa sangat tenang. “Sejak itu hati saya tenteram sekali, Mas.”

Usai itu, Nasihin pergi ke jalan raya. Ia merasakan ketenangan yang luar biasa. Saking tenteramnya hati Nasihin, ia berdoa kepada Allah saat berada di jalan raya itu, “Ya Allah, seandainya ada harimau atau binatang buas lainnya hendak menerkam saya saat ini juga, saya ikhlas dan ridha pada-Mu ya Allah.” Untungnya, malam itu tidak ada harimau atau binatang buas yang menerkamnya, hingga ia bisa selamat dari bahaya.

Nasihin remaja telah menemukan sebagian kesejatian hidup. Meski usianya terbilang masih bau kencur, tetapi pengalaman spiritual itu telah membuatnya berada pada titik ketenangan batin yang luar biasa, hingga terbersit dalam pikirannya saat itu, “Seandainya sekarang saya mati pun sudah ikhlas.” Sebuah pemikiran yang sebenarnya hanya dimiliki oleh orang dewasa atau tua yang sudah matang spiritualnya.

Indera Keenam-nya Mulai Terasah

Sejak dua peristiwa spiritual yang luar biasa itu menerpa Nasihin, perasaannya semakin tajam. Kalau dalam ilmu psikologi, indera keenamnya mulai terasah. Suatu kali di sekolahnya ada olah raga x (sengaja disamarkan -red) yang dilatih oleh mantan pemain nasional. Bersama teman-teman yang lainnya, Nasihin ikut terlibat dalam olah raga itu. Tetapi, Nasihin memiliki filling (perasaan) yang kurang baik dengan olah raga ini karena cara-caranya yang salah.

Suatu kali diadakan pengisian ilmu. Acara dilakukan pada jam 12 malam di suatu tempat. Nasihin punya firasat tidak baik mengenai hal ini. Karena itu, sebelum berangkat di rumah ia berdoa, “Ya Allah, seandainya ilmu itu baik maka Engkau ajarkan saya agar bisa. Sebaliknya, jika ilmu itu tidak baik maka jauhkanlah.”

Lebih lanjut, Nasihin berdoa kembali, “Ya Allah, jika ilmu itu baik maka perlihatkanlah saya di mata mereka. Sebaliknya, jika tidak baik maka jangan Engkau perlihatkan saya di mata mereka.”

Jam 10 malam Nasihin pun berangkat bersama temannya. Benar saja, sampai di rumah kedatangan Nasihin tidak diketahui oleh teman-temannya kecuali oleh temannya yang bersamanya. Saat jam 12 malam, saatnya pengisian ilmu, Nasihin berdoa kembali kepada Allah, “Ya Allah, perlihatkan saya di mata mereka.” Seizin Allah, mereka pun bisa melihat Nasihin, sehingga mereka bertanya, “Hin, kamu baru datang.” Nasihin menjawab sekenanya, “Ya.” Padahal, sudah dua jam yang lalu Nasihin berada di situ.

Lalu dimulailah pengisian ilmu. Satu-persatu teman-teman Nasihin diisi dan sukses. Tetapi giliran Nasihin, orang itu mental tidak kuat. Nasihin sendiri terdorong ke belakang. Usaha pengisian ilmu ke tubuh Nasihin pun gagal. Tetapi, Nasihin kemudian diberikan amalan-amalan oleh guru tersebut. Dalam hatinya Nasihin berdoa, “Ya Allah, jika amalan ini tidak baik maka hilangkanlah.”

Subuh, saat Nasihin bangun pagi untuk shalat, ia merogoh sakunya dan tidak menemukan amalan yang diberikan oleh gurunya tersebut. Saat itu ia menyadari bahwa Allah telah menghilangkan amalan tersebut karena kandungannya yang tidak baik untuk dilakukan.
Nasihin lalu shalat Subuh menjadi imam. Saat berdoa seusai shalat, ia mendengar teman-temannya menangis. Usai berdoa, mereka pun ditanya Nasihin layaknya seorang guru pada muridnya, “Kenapa kalian menangis: apakah kalian pernah berzina atau membunuh?” Mereka menjawab, “Hati kami kok berat sekali dan gelisah.”

Firasat Nasihin semakin kuat bahwa ilmu yang mereka pelajari tidak baik. “Itu karena ilmu yang kalian pelajari adalah ilmu setan. Kalau begitu, besok datang ke rumah saya,” ujar Nasihin pada mereka penuh yakin.

Besok harinya, teman-teman Nasihin ternyata datang. Oleh Nasihin yang masih remaja itu, satu-persatu kepala mereka dipegang lalu didoakan. Tidak lama kemudian hati mereka menjadi tenang dan tenteram. Padahal, Nasihin merasa tidak memiliki ilmu apapun. “Saya hanya yakin saja pada Allah, Mas.” Sejak itu, Nasihin kerapkali mengobati orang yang meminta bantuan kepadanya.

Seperti Mendapat Ilmu Laduni

Demikianlah proses perjalanan spiritual Nasihin yang pernah melihat rohnya sendiri dan dimasuki cahaya, hingga membuat indra keenamnya terasah tajam. Meski saat SMA, ia pernah menjadi “bandel sebentar”: rambut gondrong, anak band dan bergaul sama para preman, tetapi jiwa spiritualnya tetap terjaga. Ia tidak terjebak minuman keras, narkoba dan sebagainya. Bahkan, hingga ia dewasa dan menjadi bapak, spiritualitas Nasihin tetap terjaga dengan baik.

Tidak sedikit orang yang beranggapan Nasihin telah diberikan ilmu laduni oleh Allah. Sejak kecil, kondisi semacam ini sebenarnya sudah terlihat. Saat SD, Nasihin adalah anak yang tidak terlalu pandai membaca al-Qur’an dibandingkan saudara-saudaranya. Tetapi, menjelang kelas enam SD, tanpa disadarinya ia bisa membaca al-Qur’an dengan sendirinya. “Saya sendiri kaget, Mas,” ujar Nasihin kala itu.

Bahkan, saat SD pula, pola pikir Nasihin sudah layaknya orang dewasa. Ia sudah mempertanyakan persoalan-persoalan dewasa seperti penciptaan badan. Kenapa tangan bisa bergerak? Kenapa kaki bisa berjalan? Kenapa mata bisa melihat? Semua itu ditanyakannya dalam pikirannya. Akhirnya, ia menemukan jawabannya sendiri bahwa semua itu pasti ada yang menggerakkan yaitu Allah. Nasihin lalu keluar rumah dan melihat langit, dan jawaban itu semakin mengukuhkan adanya keberadaan Allah di sana.

Kini, Nasihin telah dewasa dan menjadi bapak dari dua anak. Anak ketiganya yang masih bayi dipanggil Allah. Masyarakat di sekitar memanggilnya ustadz. Ia sering dipanggil ke mana-mana untuk berceramah, mengisi pengajian di masjid dan tentunya, memenuhi permintaan orang berkonsultasi kepadanya. Sudah banyak orang yang berhasil ditolongnya mulai orang biasa hingga pejabat. Mulai orang kere hingga orang kaya.

Semua kedalaman batin seperti bisa menebak karakter orang, mengobati orang dan sebagainya, didapatkannya karena kedekatannya pada Allah, tidak didapatkannya melalui guru. Untuk hal ini, Ustadz Nasihin pun berkata, “Kalau kita semakin dekat kepada Allah, maka secara langsung atau tidak Allah akan memberikan segalanya kepada kita, termasuk ilmu.” Yang penting, modalnya adalah yakin.

Penasaran dengan kemampuannya, saya pun iseng-iseng bertanya kepadanya mengenai diri saya. Ia segera menjawabnya dengan benar. Apa yang dikatakannya, itulah karakter saya yang sebenarnya. Dari situ, saya pun percaya akan kemampuan bapak yang lulusan UIN Syarif Hidayatullah jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) ini.

Ustadz Nasihin hanya berpesan agar kita jangan sombong kepada Allah atas apa yang kita miliki. Harta benda, pangkat atau pun ilmu hanyalah pemberian Allah. Kita jangan sampai menjual agama dan kepintaran kita hanya untuk materi semata. Khusus untuk masalah roh yang pernah dilihatnya itu, sebenarnya tabu untuk dibicarakan. Karena itu, saat Hidayah hendak mewancarainya itu, ia sebenarnya agak berat untuk bercerita. Tetapi, semata-mata demi dakwah, lelaki yang sebenarnya enggan dipanggil ustadz ini, akhirnya ikhlas berbagi kisah. Nilai dakwahnya bahwa tidak ada yang mungkin di dunia ini. Ketika Allah sudah berkata kun fayakun, maka apa pun yang mustahil bagi kita maka segalanya menjadi mungkin. Persoalan roh yang sebenarnya merupakan urusan Allah, tetapi jika Dia sendiri memperkenankan hamba-Nya untuk mengetahuinya maka hal itu menjadi mungkin.

Ustadz Nasihin juga tidak menuntut kita untuk mempercayai kisahnya tersebut. Sebab, ini adalah persoalan gaib yang sulit dijelaskan. Yang penting, pesannya, segala sesuatu yang terjadi pada diri kita hendaknya semakin membuat kita dekat kepada Allah. Semoga! Foto: sekedar ilustrasi diambil dari forum.kompas.com (Eep Khunaefi)

Rabu, Agustus 27, 2008

SUTRISNO (54TH); "PENJAGA KEBERSIHAN BERHASIL MENGISLAMKAN ENAM ORANG"

Ada seorang anak muda, lulusan SMA, menangis terus saat berdoa di depan Bunda Maria di Gua Maria, Ambarawa, Jateng. Usai berdoa, anak muda beragama Katholik itu ditanya oleh Sutrisno, sang penjaga kebersihan di sana, “Kenapa dari tadi kamu menangis terus?”

“Kedua orang tua saya meninggal semua dalam waktu yang berdekatan. Saya masih punya adik yang harus saya hidupi, sementara saya masih menganggur,” jawab anak muda itu sambil menangis sesenggukan.

“Jika kamu ingin keluar dari derita ini, berdoalah kepada Allah bukan kepada Bunda Maria. Tempatnya bukan di sini tapi di masjid,” bujuk Sutrisno.

Sutrisno lalu mengajak anak muda itu ke rumahnya dan tinggal di sana. Setiap malam, Sutrisno dan istrinya bangun untuk shalat malam (tahajud) dan anak muda itu melihatnya. Bahkan, tanpa disuruh anak muda itu kadang mengikuti gerak-gerik shalat Sutrisno dan istrinya tanpa mengerti apa yang sedang dilakukannya.

Sutrisno tidak pernah menyuruh anak muda itu untuk masuk Islam. Ia hanya menyarankan anak muda itu jika ingin hidupnya sukses, jalan satu-satunya adalah dengan berdoa kepada Allah, bukan berdoa kepada Yesus atau Bunda Maria. “Berdoa kepada Allah pasti akan dibalas oleh-Nya, besok, lusa atau kapan saja. Jika tidak dunia, di akherat juga pasti akan dibalas,” nasehat Sutrisno pada sang anak muda.

Suatu kali Sutrisno menawarkan kepadanya suatu pekerjaan di Jakarta, tapi sebagai tukang cuci piring. Anak muda itu pun menerimanya, yang penting mendapat pekerjaan. Diajaklah anak muda itu oleh Sutrisno ke Jakarta. Sebelum berangkat, anak muda itu dipesan oleh Sutrisno,
“Bawalah berkas-berkas penting yang mendukung keterampilanmu! Barangkali suatu saat dibutuhkan di sana.”

Di Jakarta, anak muda itu ternyata diterima bekerja sebagai penunggu rumah di sebuah rumah orang yang cukup kaya, tidak sebagai pencuci piring. Sutrisno pun merasa lega, karena usahanya menolong anak muda itu mendapatkan pekerjaan akhirnya berhasil. Bahkan, anak muda itu ditugaskan mengantar jemput tuannya atau anaknya ke sekolah.

Waktu terus berjalan, tidak terasa sudah sekitar 24 tahun berjalan. Selama itu mereka tidak pernah saling bertemu. Anak muda itu tidak pernah kasih kabar keberadaan dirinya pada Sutrisno dan sebaliknya. Meski begitu, keadaannya belum berubah yaitu Sutrisno masih bekerja sebagai tukang kebersihan di Gua Maria. Bagaimana dengan anak muda itu sendiri?

Suatu kali Sutrisno mendapatkan tamu yang tidak diduga-duga di tempat pekerjaannya. Orang itu membawa tongkat pendek di tangan kanannya dan selalu dikawal banyak orang ke mana saja ia pergi. Ia sengaja datang ke tempat itu untuk mencari Sutrisno. Di depan Sutrisno, ia berkata, “Bapak masih ingat gak sama saya?”

Sutrisno bingung, karena dia sudah lupa dengan sosok yang ada di depannya. Setelah diingatkan oleh orang itu, barulah ia sadar bahwa orang itu adalah anak muda yang pernah ditolongnya 24 tahun yang lalu. Kini, ia telah menjadi seorang jenderal berbintang dua yang berkantor di Jakarta dan telah masuk Islam. Orang itu mengaku kepada Sutrisno, gara-gara dirinya masuk Islam seperti yang disarankannya, ia mudah menapaki karir hingga menjadi seorang jenderal. Ia pun pantas berterima kasih kepada bapak berusia 54 tahun yang sangat rajin beribadah tersebut. Sayangnya, hingga kini Sutrisno tidak tahu siapa nama anak muda yang telah menjadi sang jenderal tersebut.

Demikian sekelumit kisah bagaimana Sutrisno berhasil mengislamkan orang dengan sikapnya yang santun dan caranya yang islamis tanpa kata-kata yang keras. Kisah serupa masih banyak. Yang jelas, selama ia bekerja sebagai tukang kebersihan di Gua Maria sudah sekitar 6 orang telah berhasil ia islamkan. Di antara mereka ada yang tertarik masuk Islam karena doa yang diajarkan oleh Sutrisno dan sebagainya.

Sutrisno lahir di Ambarawa, 54 tahun yang lalu. Ia merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara: dua kakak dan empat adik. Bekerja di Gua Maria dilakoninya sejak awal tahun 1979 hingga sekarang. Awalnya, ia bekerja merehab Gua Maria. Saat itulah ia mendapat tawaran untuk bekerja di tempat itu.

Saat ditawari bekerja di Gua Maria, hati kecilnya menolak. Ia tidak langsung mengiyakannya. Ia minta pertimbangan istri dulu di rumah. Sang istri ternyata mengizinkannya. “Rezeki itu Tuhan yang ngatur. Yang penting, iman bapak tetap teguh. Tidak mencuri dan berdusta. Apa yang diajarkan Tuhan harus benar-benar dijalankan,” ujar sang istri menasehati saat itu.

Sutrisno lalu bekerja di Gua Maria dengan gaji Rp. 10.000,-/bulan. Sebagai satu-satunya orang yang dipekerjakan di tempat itu ia pun merangkap jabatan mulai dari melakoni dirinya sebagai satpam, tukang kebersihan, penerima tamu dan sebagainya.

Sebagai seorang Muslim yang taat tapi bekerja di sebuah wisata kerohaniaan terbesar umat Khatolik se-Jateng tersebut merupakan hal yang luar biasa. Apalagi ia tidak tergoda sama sekali untuk beralih pada agama yang lain. Bahkan, dengan ketaatannya ia berhasil mengislamkan enam orang. Sungguh luar biasa!

Selama bekerja, pagi-pagi sekali habis shalat Subuh ia sudah berangkat ke Gua Maria. Setelah bersih-bersih sebentar, sekitar jam 6 pagi ia kembali ke rumah. Setelah mandi dan berganti pakaian ia kembali lagi ke tempat kerja hingga menjelang dzuhur.

Sebelum dzuhur tiba, ia sudah berada di masjid. Ia kerapkali datang ke masjid lebih awal. “Biar bisa digunakan untuk dzikir-dzikir dulu,” ujar laki-laki yang pernah ditiup keningnya oleh Sultan Hamengkubuwono IX dalam rangka napak tilas ke Ambarawa ini.

Setiap hari Sutrisno membiasakan diri untuk mendzikir surat al-Ikhlas sebanyak 1000x, shalawat Nabi 600x dan la ilaaha illallah 1000x. Menurutnya, bacaan-bacaan ini didapatkannya setelah mengikuti tarekat Qadiriah wa Naqsabandiyah di Pesantren Al-Mas’udiyah asuhan KH. Ali Mas’ud. Jumlah terbesar tarekat qadiriyah berada di pesantren ini.

Religiusitas Sutrisno tidak saja tampak dari kebiasaannya yang lebih awal datang ke masjid dan amalan-amalan setiap hari yang dipraktekkannya, tapi juga dari kebiasaannya yang selalu bersedekah setiap kali masuk ke masjid. “Kalau masuk masjid saya usahakan bersedekah seribu rupiah,” ujarnya. Jadi, jika dalam sehari ia masuk 15 masjid, berarti 15 ribu yang telah ia sedekahkan dan itu pernah ia alami.

Sutrisno punya keyakinan yang kuat akan arti sedekah. Orang yang bersedekah di jalan Allah tidak akan hilang rejekinya, malah akan ditambah oleh Allah berlipat-lipat dan ia berkali-kali merasakannya. “Ada saja orang yang ngasih saya uang saat bekerja,” ujarnya meyakini tentang pentingnya bersedekah. Menurutnya, ia pernah dikasih uang satu juta rupiah oleh salah seorang petinju terkenal dari Indonesia saat ia datang ke Gua Maria.

Keteguhan Sutrisno pada agamanya juga tampak saat ia diuji Allah dari keluarganya sendiri. Kakak keduanya masuk Kristen karena menikah dengan seorang penginjil dari Maluku Utara. Setelah itu menyusul masuk Kristen ibu kandungnya, kakaknya yang satu lagi serta keempat adiknya. Hanya ia yang tidak tergoda. Sang ayah sendiri telah meninggal dunia sejak ia masih kecil.

Keputusan Sutrisno untuk tetap pada Islam tentu saja mendapat perlawanan dari keluarganya. Kepada saudara-saudaranya, ia pun hanya bilang, “Silahkan kalian masuk Kristen, saya sih tetap pada agama Islam.” Meski sedikit renggang, hubungan Sutrisno dengan saudara-saudaranya itu tetap baik. Adik bungsunya lalu masuk Islam lagi setelah bercerai dengan istrinya yang beragama Kristen.

Sutrisno yang sederhana ini lalu menuturkan kenapa ia begitu yakin pada agama Islam, padahal saudara-saudaranya sendiri masuk Kristen dan ia sendiri bekerja di sebuah tempat wisata dan ibadah umat Khatolik. Menurutnya, semua agama ini pada dasarnya adalah Islam. Agama yang dibawa oleh Nabi Adam, Musa, Isa dan Muhammad sebenarnya Islam. Hanya saja, agama lalu ditafsirkan secara salah oleh-oleh orang-orang setelahnya.

Penjelasan Sutrisno yang demikian itu sebenarnya tidaklah terlalu istimewa. Tapi karena kalimat itu keluar dari bibir seorang tukang kebersihan, hal itu menjadi sesuatu yang sangat luar biasa. Ia juga pandai menjelaskan tentang kisah-kisah Walisongo, yang membuat saya berdecak kagum tiada henti. Meski seorang tukang kebersihan tapi banyak mengerti tentang agama. Pantas jika ia berhasil mengislamkan banyak orang. Inilah dakwah Islam yang sesungguhnya. Tidak banyak bicara, tapi pakai aksi langsung.

Pada tahun 1996 Sutrisno tidak lagi bekerja rangkap. Ia diberikan alternatif oleh pimpinan Gua Maria untuk memilih pekerjaan antara satpam, tukang kebersihan, penerima tamu dan sebagainya. Ia pun memilih bekerja sebagai tukang kebersihan. Alasannya, agar ia bisa mengatur waktunya antara beribadah dan bekerja. Kini, di Gua Maria sudah bertambah banyak karyawan sekitar 49 orang dari awalnya satu orang yaitu Sutrisno sendiri. Yang menemani Sutrisno sebagai tukang kebersihan pun menjadi empat orang. Meski begitu, Sutrisno mendapat kepercayaan untuk memegang kunci Gua Maria alias ia adalah kuncennya Gua Maria.

Di kalangan umat Khatolik di Ambarawa, Jateng, nama Sutrisno sudah tidak asing lagi. Keteladanan beliau dalam beribadah meski di tengah-tengah mayoritas umat Khatolik di tempat kerjanya, dijadikan teladan oleh para pimpinan umat Khatolik di sana. Kerapkali para pimpinan itu berkata pada jamaahnya, “Contohlah Bapak Sutrisno. Meski bekerja di tempat mayoritas beragama Khatolik, ia tetap tekun menjalankan agamanya. Kita harus bisa meneladaninya.”

Keteladanan Sutrisno yang demikian itu, membuat banyak media massa baik lokal maupun nasional memuat kisahnya. Bahkan, beberapa kali televisi swasta nasional memuat kisahnya dalam rubrik inspirasi. Kini, setelah hampir 30 tahun bekerja di Gua Maria, gajinya pun tidak lagi Rp. 10.000,- sebulan tapi berubah menjadi Rp. 702.000,-. “Lumayan bisa buat makan dan pendidikan anak-anak,” ujar Sutrisno berkelakar.

Demikian kisah tentang seorang penjaga kebersihan yang tetap teguh pada agamanya meski bekerja di sebuah tempat mayoritas beragama Khatolik. Yang lebih mengagumkan lagi, ia telah mengislamkan sebanyak 6 orang, salah satunya kelak menjadi seorang jenderal berbintang dua. Semoga kita bisa belajar darinya! Amien. (Eep Khunaefi/dimuat Hidayah edisi 83/Juli/2008)